4 Komentar

Menulis Tak Perlu Ragu, Terpenting Apa yang Kau Mau

Ada berbagai alasan dan motif dari seseorang untuk menuangkan “sesuatu” menjadi tulisan. Sesuatu yang dilihat, dirasakan, dipikirkan atau berkelebat dalam imajinasi, ataupun obrolan dan wawancara dengan orang lain menjadi bahan untuk dituangkan ke dalam tulisan.

Jenis tulisan bisa beragam pula.Adayang menuangkan sebagai catatan, ocehan, berita atau reportase atau juga dalam bentuk karya fiksi seperti puisi, cerpen, dan sebagainya.

Ketika tulisan telah tercipta, ada yang membiarkannya berdiam di dalam file-file yang tersimpan di folder-folder flashdisk ataupun hardisk-nya menjadi dokumen pribadi yang sesekali dibuka. Pada masa lalu, biasa tersimpan dalam buku harian. Namun ada pula yang segera menyebarluaskan agar bisa terbaca oleh orang lain sebanyak mungkin yang bisa terjangkau. Hal mana pada masa kini, itu bukan menjadi harapan kosong mengingat banyaknya media jejaring sosial, blog-blog pribadi ataupun blog keroyokan yang bisa digunakan. Tak perlu menunggu lama atau menanti dalam ketidakpastian tentang nasib tulisan yang dikirim ke sebuah media, tulisan bisa segera dinikmati.

Jaman memang telah berubah. Menulis tampaknya bukan sesuatu yang menyulitkan. Jutaan orang, bahkan sejak dini, ketika berada di Sekolah Dasar kini telah berani menuangkan dalam kata-kata. Setidaknya kalimat-kalimat pendek dalam status di jejaring sosial facebook, misalnya, yang rutin dilakukan. Tiada waktu terlewatkan tanpa mengupdate status. Anggaplah ini sebagai modal awal.

Lebih lanjut, seperti dikata di atas, tulisan lebih panjang dalam berbagai jenis tulisan sudah bisa bertebaran di note atau di blog-blog. Ribuan tulisan mengalir setiap harinya di berbagai media online, oleh orang yang sebut saja bukan berprofesi sebagai penulis.

Kehadiran ribuan tulisan, diantaranya kerap menjadi suatu hal yang tak terduga. Tulisan mengenai suatu peristiwa yang terjadi di sekeliling “penulis”, terkadang mengemuka menjadi isu di tingkat lokal atau bahkan nasional. Tulisan macam ini disebut sebagai jurnalisme warga. Media mainstream, terlihat banyak yang telah membuka diri memberikan ruang untuk menghadirkan peranan warga di dalam memberitakan suatu peristiwa.

Pada dunia kesenian, khususnya sastra, suka atau tidak suka, peranan media online telah membuka ruang bagi siapa saja untuk mempublikasikan karya-karyanya dalam bentuk puisi, cerpen, novelette ataupun novel. Kalangan seniman, ada yang mensikapi dengan cemas fenomena ini, dan mengkaitkan dengan mutu karya-karya yang hadir. Namun di sisi lain ada yang menilai positif dan menempatkan fenomena tersebut sebagai ruang yang menunjukkan bahwa sastra bukan “dunia lain” lagi melainkan telah berbaur dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat.

Saya sendiri, tidak ingin memberi penilaian terkait dengan mutu. Saya lebih melihat bahwa pada masa sekarang, dunia kepenulisan, telah semakin marak dengan hadirnya para penulis – apapun motif dan tujuannya, yang bersedia meluangkan waktu untuk berbagi.

Bagaimana dengan dirimu? Ayo, janganlah meragu untuk membuat suatu tulisan. Dengan keyakinan melakukan sesuatu yang terbaik, tentulah tidak akan ada yang sia-sia.

Yogyakarta, 9 Mei 2012

_______________________

Ilustrasi foto bersumber dari SINI

Iklan

4 comments on “Menulis Tak Perlu Ragu, Terpenting Apa yang Kau Mau

  1. Setuju, untuk menulis, yg penting bebas saja dulu. Nanti, ketika untuk dipublikasikan umum, barulah dipikir suntingannya.
    Salam.

  2. Benar Pak Odi sejak remaja saya sudah menulis puisi, dikumpulkan selama lebih
    dari 40 tahun, hanya sekedar menulis tanpa berminat dipublikasikan, tetapi keti-
    ka tersedia media online ternyata asyik juga bisa berkirim-kiriman komentar dan
    puisi, walaupun terbatas tetapi cukup menghibur dan mengisi waktu di senja usia

    • Wah, kalau sudah terkumpul, pastilah banyak Pak Effendi.. AYo, diterbitkan. Setidaknya lantaran perkembangan teknologi pula, bisa dalam bentuk ebook, sehingga karya bisa terdokumentasikan dengan baik dan bisa tersebar dengan cepat pula…

      Terima kasih banyak, loh, Pak Effendi telah mampir ke blog ini..

      Salam hangat selalu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: