Tinggalkan komentar

Membaca Puisi Mengenali Diri: Para Guru Meramaikan Sastra Bulan Purnama

Sashmytha Wulandari

Sashmytha Wulandari

Ada yang berbeda pada perhelatan Sastra Bulan Purnama putaran ke delapan (8) yang berlangsung di Rumah Budaya Tembi pada Senin (7/5). Para pengisi acara adalah para guru yang tidak semuanya adalah penyair dan untuk pertama kalinya dilakukan  ulasan atas karya-karya yang ditampilkan.

Ons Untoro

Ons Untoro, selaku koordinator acara pada kata pengantarnya menyatakan bahwa dalam konteks ini, predikat kepenyairan tidak terlalu urgen. Yang pasti, para guru, yang sehari-harinya terbiasa berhadapan dengan anak didiknya, dan mungkin sekali tidak terbiasa membaca puisi di depan publik, kali ini mereka bukan hanya membaca puisi, tetapi sekaligus menulis puisi. Jadi puisi yang dibacakan adalah karya mereka sendiri.

Ditambahkan oleh Ons tentang perkembangan situasi pada masa ini  bahwa setiap orang bisa menulis puisi, dan tanpa bermaksud menjadi penyair. Bahkan puisi bisa, setidaknya oleh para guru, dipakai untuk “menyindir”.

Acara yang dibuka dengan pembacaan puisi oleh Sashmytha Wulandari, guru di sebuah sekolah di kawasan Prambanan, yang dikenal juga aktif dalam berbagai acara kesenian, dilanjutkan dengan musikalisasi puisi oleh personil dari Rumah Budaya Tembi.

Iman Budhi Santoso, penyair yang juga menjadi salah satu pendiri dari Persada Studi Klub (PSK), sebuah komunitas yang telah banyak melahirkan penyair yang diakui di tingkat nasional, memberikan ulasan-ulasan atas karya para guru.

Menulis puisi, menurut Iman, bukan sesuatu yang mudah, karena yang terjadi bukan sekedar memenuhi kaidah teknis yang memadahi berlandasaskan teori-teori menulis puisi yang lazim diajarkan dalam pendidikan formal, melainkan menciptakan sebuah karya yang mencerminkan manifestasi hasrat manusiawi untuk berperadaban.

Iman Budhi Santoso

Berbagai karya dari para guru yang dihasilkan dan terhimpun dalam sastra bulan purnama kali ini, menurut Iman, banyak yang terkesan masih verbal, namun di sana terdapat sejumlah dimensi yang secara parsial layak dijadikan contoh.

Disebutkan oleh Iman beberapa bagian dari puisi yang menunjukkan dimensi yang dimaksudkan. Puisi “Kebangkitan 2” oleh H. Bambang Edi Sulistiyana menunjukkan ketepatan pemilihan kata pada baris terakhirnya: Bimbinglah negeri ini dengan petamu. Puisi Choen Supriyatmi “Rumah Bukit 1” pada baris ketiga mampu membangkitkan atau merangsang renungan lebih jauh tentang kehidupan:

Dari dendang tembang di pagi dan petang
Gema suara pemecah batu di bukit itu
Hingga tik tok jam yang kian jelas di keheningan
: di sini kaulukis bintang dan matahari
Di sini kutulis berbaris puisi
Di sini anak-anak membangun mimpi

Dari tiga belas (13) guru, hanya dua guru yang berhalangan hadir namun puisinya tetap dibacakan oleh rekan guru yang lain. Mereka yang tampil adalah Bambang Edy Sulistiyana, Choen Supriyatmi, Cilik Tripamungkas, Diah Agustin AP, Mairina Mislamatul Umaroh, Sri Suwarni Dirjo Suwarna, Sumasih Hafiz, Yeti Islamawati, dan Siska Yuniati serta Umi Kulsum. Kepala Dinas Pendidikan Dasar Kabupaten Bantul, Drs. Sahari, yang pernah aktif di PSK tahun 1970-an, tampil membacakan puisi karya guru yang tidak hadir, R. Purwantaka.

Sanggar Nusantara

Di Penghujung acara, Landung Simatupang, memberikan greget dengan membacakan puisi “Seorang Tuna Wisma Menghibur Istrinya” karya Sri Suwarni Dirjo Suwarna, S.Pd.

Acara ini juga dimeriakan oleh musikalisasi puisi oleh Sanggar Nusantara dan intepretasi puisi ke dalam lagu dan tari oleh Forum Musik Tembi.

Semoga dari acara ini, para guru semakin bergeliat untuk membangun peradaban melalui puisi dan berpengaruh terhadap perlakuan dan tindakan pengajaran yang membangun karakter bangsa terhadap anak didiknya.

Yogyakarta, 8 Mei 2012

Foto Lainnya:

Diah Agustin HP

Iin Umiyatin

Drs. Suharsi

Umi Kulsum

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: