9 Komentar

Malam Chairil Anwar, Membaca Puisi Meneguhkan Hati

 Cerita Buat Dien Tamaela

Beta Pattirajawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu

Beta Pattirajawane
Kikisan laut
Berdarah laut

Beta Pattirajawane
Ketika lahir dibawakan
Datu dayung sampan

Beta Pattirajawane, menjaga hutan pala.
Beta api di pantai. Siapa mendekat
Tiga kali menyebut beta punya nama.

Dalam sunyi malam ganggang menari
Menurut beta punya tifa,
Pohon pala, badan perawan jadi
Hidup sampai pagi tiba.

Mari menari!
Mari beria!
Mari berlupa!

Awas jangan bikin beta marah
Beta bikin pala mati, gadis kaku
Beta kirim datu-datu!

Beta ada di malam, ada di siang
Irama ganggang dan api membakar pulau….

Beta Pattirajawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu.

(Foto: Kris Budiman)

Yohanes Rusyanto Landung Laksono  Simatupang atau dikenal dengan nama yang lebih pendek Landung Simatupang, seorang aktor, sutradara dan juga penyair membawakan puisi yang ditulis Chairil Anwar tahun 1946 itu tanpa teks dengan penampilan yang memukau.

Penampilannya mengakhiri acara Membaca Puisi Menggugah Hati pada Malam Chairil Anwar yang berlangsung di Rumah Budaya Tembi, Sabtu (28/4) malam.

Landung Simatupang yang berencana membacakan dua puisi Chairil Anwar, yakni “Kerawang Bekasi” dan “Persetujuan dengan Bung Karno” gagal membacakannya. “Puisi itu sudah dibajak dan dibacakan terlebih dahulu. Jadi saya mengganti dengan puisi lain,” ucapnya sebelum membacakan puisi Cerita Buat Dien Tamaela yang disambut gelak hadirin.

Kerawang Bekasi” memang telah dibacakan sebelumnya oleh Fadli Zon, wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra dan “Persetujuan dengan Bung Karno” telah dibacakan oleh Zainal Arifin Mochtar, Direktur Pukat UGM.

Acara Malam Chairil Anwar untuk mengenang 63 tahun wafatnya beliau yang berlangsung semalam memang berbeda.Para pembaca puisi bukan dari kalangan seniman (hanya Landung Simatupang dan Ummi Khulsum), melainkan dari para petinggi, politisi, aktivis gerakan sosial dan  para lawyer.

Ketua panitia, Kamal Firdaus yang lebih dikenal sebagai advokat senior dalam sambutan pembukannya menyatakan “Biasanya yang memperingati malam Chairil Anwar adalah hanya kalangan seniman saja. Tapi di Yogya, malam ini penyelenggaranya adalah lawyer. Karena saya berpikir, seorang Chairil Anwar dengan para lawyer, lebih besar jasa seorang Chairil Anwar,”

Lebih lanjut Kamal Firdaus mengatakan bahwa Chairil Anwar, yang mati muda pada usia 27 tahun bukanlah seorang pejabat atau petinggi, juga bukan politisi, namun ia dikenang hingga saat ini. Ia adalah sosok seorang pejuang, seorang aktivis pada masanya. Chairil yang mengaku sebagai “binatang jalang”. Karena itulah, panitia penyelenggara sengaja mengundang dan menghadirkan para petinggi dan para politisi untuk membacakan puisi-puisi Chairil Anwar.   “Kebalikannya sekarang, apabila kita menyaksikan kehidupan sekarang, banyak orang yang bisa kita sebut sebagai seekor manusia. Untuk itulah kita berkumpul di sini, untuk menggugah hati para petinggi dan politisi untuk menjadi seorang manusia yang mirip dengan seekor binatang jalang,”

Sebagian besar para pembaca puisi secara terbuka menyatakan bahwa acara ini adalah pengalaman pertama mereka untuk membaca puisi di hadapan publik.

“Saya akan mencoba Karena ini baru pertama kali, semoga bisa berhasil. Ini menjadi satu tantangan bagi saya. Saya akan membacakan puisi Chairil Anwar, Penerimaan” tutur GKR Hemas.

“Lebih baik saya menghadapi unjukrasa daripada membaca puisi. Tapi demi kecintaan terhadap Chairil Anwar, saya memberanikan diri membacakan puisinya yang dibuat tahun 1948: Prajurit Jaga Malam” canda yang disampaikan oleh AKBP Dewi Hartati, Kapolres Bantul

“Saya biasa membaca pasal-pasal, sekarang harus membaca puisi. Panitia memilihkan puisi yang memang pas dengan pekerjaan saya sekarang ini, Hukum,” ujar Retno Harjanti Iriani, Kepala Kejaksaan Negeri Bantul.

Nama-nama lain yang turut membacakan puisi adalah Imam Anshori Saleh (Wakil Pimpinan Komisi Yudisial), Haris Semendawari (Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban),  Budi Santoso (Anggota Ombusment), Sumarmo (Wakil Bupati Bantul), Tustiani (Ketua DPRD Bantul),  Kamal Firdaus dan Titi Danumiharjo (Advokat), Arie Soejito (dosen dan aktivis) dan Ummi Khulsum. Turut membaca pula seorang penyair dari Jambi dan Tia, cucu pertama  Chairil Anwar. Acara juga dimeriahkan oleh musikalisasi puisi yang dimainkan oleh kelompok musik Tembi dan interpretasi puisi ke dalam tari oleh Tembi Dancer.

Para penikmat pembacaan puisi ini berasal dari kalangan seniman, aktivis Ornop, lawyer, dan masyarakat umum. Tampak terlihat diantaranya Teguh Ranusastra, Ismet NM Harris, Toriq, Jayadi,  Tri Wahyu KH, Vitrin, dan Santo Kosebjono bersama istrinya Solita Koesoebjono Sarwono.

Yogyakarta, 29 April 2012

________________________

Baca juga:

Iklan

9 comments on “Malam Chairil Anwar, Membaca Puisi Meneguhkan Hati

  1. Wah mas odi reportasenya mantappp..

  2. ralat sedikit: saya bukan cucu ketiga tapi cucu pertama dari tiga cucu chairil anwar

  3. Odi, terima kasih. Tapi Anda pasti menggunakan sumber yang menuliskan nama saya secara tidak benar. Nama saya tanpa ‘simatuangdung’. Bisakah dibetulkan? Salam.

  4. nuwun Mas Odi dah disenggol he..reportasenya Mas top bgt..pasti banyak yang gak ngira, reportase mantap kayak diatas dibuat saat Mas (sejauh mataku memandang he) banyak bertegur sapa dengan banyak kawan n tanpa notes pengingat di tangan he he…eit kata-kata para pembaca puisi tetep bisa terekam dgn detil.jan ruar biasa…maaf malam itu sebelum penutupan,dimintai tlg seorang kawan-mbonceng motorku- nyari taksi..jadine belum sempat ngobrol2 lagi…salam hangat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: