Tinggalkan komentar

Memerangi Prostitusi Anak (3): Bukan Hanya Karena Miskin

Memerangi Prostitusi Anak (3):

Bukan Hanya Karena Miskin 

Salah satu kampanye anti prostitusi di Yogyakarta

Kemiskinan memang selalu menjadi biang kerok yang memberikan kontribusi besar bagi lahirnya berbagai persoalan sosial. Situasi kehidupan anak-anak yang terpinggirkan, seperti kemunculan anak jalanan, pekerja anak, anak yang berkonflik dengan hukum, dan juga anak-anak yang dilacurkan, berdasarkan berbagai hasil penelitian dan pengalaman program penanganan terhadap mereka, sebagian besar memiliki  latar belakang keluarga dengan kondisi ekonomi yang rendah.

Namun patut dicatat, bahwa kemiskinan bukanlah satu-satunya faktor resiko. Pertanyaan penting yang perlu dikemukakan adalah, bagaimana dengan sebagian besar anak-anak dari keluarga miskin yang tidak berada dalam situasi sebagaimana dicontohkan di atas?

Kemiskinan disadari sebagai persoalan yang maha penting. Tidak dipungkiri, motif ekonomi adalah motif yang mampu menggerakkan orang untuk melakukan sesuatu, melakukan terobosan-terobosan dan membuat perubahan.

Motif ekonomi pula, yang membangkitkan sisi-sisi buruk dari manusia, yaitu keserakahan dan haus kekuasaan, manakala berbaur menjadi satu kesatuan, mengakibatkan penguasaan-penguasaan.

Sebagai satu bangsa dan Negara, kebijakan-kebijakan pembangunan yang seharusnya ditujukan demi kesejahteraan bersama, kerap termanipulasikan dan hanya menguntungkan sebagian kecil orang/kelompok dan tidak jarang merugikan mayoritas masyarakat. Akses dan distribusi tidak merata. Proses-proses pemiskinan yang justru berlangsung.

Ah, kok jadi ngelantur. Kembali ke pokok soal: anak-anak yang dilacurkan atau anak yang berada di dalam prostitusi,  ada berbagai faktor resiko yang mempengaruhinya. Kemiskinan bisa ditempatkan sebagai faktor kunci.

ECPAT (dalam Farid 1999) mendaftar faktor-faktor resiko di dalam buku pedomannya ked alam dua kategori yaitu faktor-faktor pendorong dan faktor-faktor penarik.

Faktor-faktor Pendorong: 1) Kondisi ekonomi khususnya kemiskinan di pedesaan yang diperberat oleh kebijakan pembangunan ekonomi dan penggerusan di sector pertanian; 2) perpindahan penduduk dari desa ke kota dengan pertumbuhan pusat-pusat industri di perkotaan; 3) ketidaksetaraan jender dan praktek-praktek diskriminasi; 4) tanggung jawab anak untuk mendukung keluarga; 5) pergeseran dari perekonomian subsisten ke ekonomi berbasis pembayaran; 6) peningkatan konsumerisme; 7) disintegrasi keluarga; 8) pertumbuhan jumlah anak gelandangan; 9) tiadanya kesempatan pendidikan; 10) tiadanya kesempatan kerja; 11) kelangkaan peraturan/hukum dan penegakan hukum; 12) diskriminasi terhadap etnis minoritas; 13) AIDS – meninggalnya pencari nafkah keluarga sehingga anak terpaksa masuk ke perdagangan seks

Sedangkan faktor-faktor penarik: 1) jaringan kriminal yang mengorganisir industri seks dan merekrut anak-anak; 2) pihak berwenang yang korup sehingga terlibat dalam perdagangan seks anak; 3) praktek-praktek pekerja anak termasuk kerja paksa (bondage labor); 4) praktek-praktek tradisional dan budaya termasuk tuntutan keperawanan, praktek budama dimana laki-laki pergi ke pelacuran, pola antar generasi dalam hal masuknya anak Perempuan ke pelacuran; 5) permintaan dari wisatawan seks dan pedofil; 6)  promosi internasional mengenai industri seks anak melalui teknologi informasi; 7) permintaan dari industri seks mancanegara yang menciptakan perdagangan seks anak dan Perempuan secara internasional; 8) pernikahan yang diatur dimana pergantian anak Perempuan terkadang akan dijual ke rumah bordil setelah menikah; 9)  ketakutan terhadap AIDS yang membuat pelanggan menginginkan pelacur yang lebih muda usianya; 10) kehadiran militer yang menciptakan kebutuhan terhadap pelacuran anak; permintaan dari para pekerja migrant.

Tidak ada faktor tunggal yang mengakibatkan anak-anak menjadi korban prostitusi.Adaberbagai faktor yang saling mempengaruhi. Beberapa pengakuan anak yang telah berada di prostitusi bisa menjadi cerminan bagi kita untuk meningkatkan kewaspadaan dan mengambil langkah-langkah pencegahan. Setidaknya mencegah anak-anak yang berada di dalam keluarga dan lingkungan terdekat kita. Beberapa pengakuan anak, akan dimunculkan pada tulisan berikutnya.

Yogyakarta, 24 April 2012

Tulisan terkait lainnya:

  • Memerangi Prostitusi Anak (1): Catatan Pembuka – Klik di SINI
  • Memerangi Prostitusi Anak (2): Anak Adalah Korban – Klik di SINI

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: