4 Komentar

Perlu Menyusun Sejarah Perkembangan Situasi Anak Jalanan?

Heru dan Kancil, dua anak jalanan yang terlibat dalam film “Daun di Atas Bantal”

Beberapa waktu terakhir, saya kembali bersinggungan dengan persoalan-persoalan anak jalanan. Ada beberapa situasi yang menyebabkannya, antara lain keterlibatan dalam workshop dan diskusi mengenai penyusunan Rancangan Peraturan Gubernur DIY sebagai tindak lanjut dari disahkannya Perda Nomor 6 tahun 2011 tentang Perlindungan Anak yang Hidup di Jalan, menjadi tuan rumah untuk membantu Edward Van Daalen, mahasiswa yang melakukan penelitian mengenai negosiasi antara Pemerintah dengan kelompok masyarakat sipil dalam penyusunan Perda Anak Jalanan di DIY, dan rencana seorang mahasiswi dari Malaysia yang akan mengambil tesis untuk studinya di UGM mengenai anak jalanan.

Pada proses tersebut, saya berkesempatan bertemu dan berdiskusi dengan para sahabat yang masih atau pernah intens melakukan pendampingan kepada anak jalanan. Di sela ruang pertemuan tersebut, ingatan-ingatan tentang pengalaman berhadapan dengan berbagai situasi bersama anak jalanan kembali menyeruak dan menjadi bahan perbincangan.

Pengalaman saya sendiri, mewakili SAMIN (Sekretariat Anak Merdeka Indonesia) sempat sangat intens belajar dan bekerja bersama anak jalanan di Semarang, terutama pada periode 1996-2001, untuk membantu seorang sahabat yang telah menggeluti dunia anak jalanan sejak tahun 1993. Sahabat yang bekerja secara individual dan berkembang menjadi kelompok kerja, pada akhirnya berhasil membentuk sebuah Ornop bernama Yayasan Setara, yang hingga kini masih aktif bersentuhan dengan masalah anak jalanan dengan fokus kepada anak-anak (jalanan) korban Eksploitasi Seksual Komersial terhadap Anak (ESKA).

Pengalaman tersebut telah diolah menjadi buku yang difasilitasi dan diterbitkan oleh Yayasan Setara pada tahun 2004 dengan judul: Dibawah Bayang-bayang Ancaman: Dinamika Kehidupan Anak Jalanan Semarang yang berisi sejarah situasi dan perkembangan anak jalanan pada periode 1996-2001.

Saya merasa bersyukur telah bertemu, mengenal dan berdiskusi tentang situasi dan mimpi-mimpi perubahan bagi kehidupan anak-anak (jalanan), seperti dengan Engkong Eddy, yang saya ketahui merupakan salah satu sosok yang pertama kali bekerja untuk anak jalanan di kawasan Senen pada akhir tahun 1960 hingga awal 1970-an, dengan para aktivis militant yang teguh bekerja bersama anak jalanan pada awal atau pertengahan tahun 1980-an walau mendapat berbagai tekanan, ancaman atau teror dari pemerintah represif pada era Orde Baru antara lain Didid Adinanta (kini bekerja di NGO Internasional – Save the Children), yang bekerja sejak tahun 1984 dan merupakan seorang perintis berdirinya kelompok GIRLI (Pinggir Kali) di Yogyakarta, Almarhum Nugroho (Yayasan Anak Merdeka) di Bandung, (Martin Siregar (kini menjadi petani di Kabupaten Sanggau) dan Taufan Damanik (Komisioner yang bekerja di Medan untuk periode yang sama, Supartono (kini anggota DPD RI dari daerah pemilihan Jawa Timur) bersama “Nakal” (Anak Alam) yang beraktivitas di kota Malang, Azas Tigor Nainggolan (kini ketua Forum Kota Jakarta –FAKTA), Pakdhe Susilo Adinegoro, Ibe Karyanto (keduanya kini aktif di Sanggar Anak Akar) yang pada masa itu bekerja bersama anak-anak jalanan dalam payung Institut Sosial Jakarta (ISJ – yang diketuai Romo Sandyawan) terutama di kawasan pasar dan stasiun Jatinegara dan di kawasan Penas.

Mengenal dan bersahabat pula dengan generasi selanjutnya yang bekerja untuk anak jalanan seperti Winarso (Semarang),  Bambang “Kirik” Ertanto dan Witri Jani (YLPS Humana-Yogyakarta), Nanik Munthoiyah (SANTAI-Mataram), Nehik dan Hana Mufida (Koordinator Innasswasi, organisasi jaringan di Yogyakarta yang merupakan organisasi pertama di Indonesia yang secara khusus melakukan intervensi terhadap anak jalanan Perempuan), dilanjutkan perkenalan dan interaksi dengan para aktivis anak jalanan hingga saat ini.

Keberuntungan pula pada masa itu, karena interaksi dan ruang pertemuan anak jalanan antarkotasangat tinggi, maka kami semua bisa mengenal dan bersahabat dengan para anak jalanan tersebut.

Nah, ingatan tentang masa lalu, kembali terbangun karena intensitas diskusi mengenai situasi anak jalanan pada masa kini yang saya lihat memiliki perbedaan yang sangat jauh, bukan sekedar beda masa, melainkan juga sikap dan posisioning anak jalanan, perlakuan para pengelola Negara, perhatian masyarakat dan sebagainya.

Anak jalanan, sebagai salah satu kelompok anak/masyarakat yang terus terpinggirkan hingga saat ini terus hadir. Mayoritas para pengambil kebijakan di tingkat kota/kabupaten di Indonesia masih menempatkan sebagai masalah yang mengganggu. Sayangnya, ketika mengatasi persoalan ini, pendekatan represif yang cenderung mengemuka dengan kebijakan yang mengkriminalisasi keberadaan dan kegiatan para anak jalanan.

Mengingat hingga saat ini anak jalanan masih menjadi suatu persoalan yang belum selesai, tampaknya perlu belajar untuk menyimak sejarah situasi dan perkembangan anak jalanan, sehingga bisa ditemukan karakteristik yang tepat sehingga terumuskan langkah-langkah penanganan yang tepat pula dengan mengedepankan kemanusiaan dan menempatkan mereka sebagai subyek hak.

Nah, bagaimana menurut anda? Perlukah menyusun sejarah perkembangan anak jalanan diIndonesia(atau setidaknya di tiapkota) selagi masih banyak pihak-pihak yang (pernah) terlibat intens di dalam  kerja-kerja bersama anak jalanan masih mudah untuk ditemui dan diajak diskusi. Siapa mau memulai?

Yogyakarta, 19-20 April 2012

Iklan

4 comments on “Perlu Menyusun Sejarah Perkembangan Situasi Anak Jalanan?

  1. Aku mampir mas Odi, tampaknya perlu bersinergi pemerhati anak jalanan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: