Tinggalkan komentar

Tetaplah Bergelora Gerakan Mahasiswa

Gambar Yayak iskra

Berterima kasihlah anda pada para mahasiswa. Bagaimana-pun, mereka selalu berada pada garda depan dalam berbagai aksi massa yang kemudian mampu mendorong lahirnya perubahan. Tak sia-sia apabila mereka disebut juga sebagai agen perubahan.

Gerakan 1998, mampu merontokkan dan menjatuhkan rejim Orde Baru sehingga lahirlah apa yang disebut sebagai Orde Reformasi. Di luar berbagai faktor yang mempengaruhi, dan juga di luar nada-nada sumbang dari sebagian pihak, kita tidak memungkiri kenyataan bahwa peranan mahasiswa begitu penting di dalam mengorganisir dirinya dan juga mengorganisir berbagai organisasi rakyat untuk terlibat dalam gerakan massa.

Perubahan mendasar yang bisa terlihat dan kita nikmati adalah kebebasan mendapatkan informasi dan kebebasan untuk berorganisasi dan berekpresi memperjuangkan kepentingan-kepentingannya.

Tidak terlalu sulit untuk menunjukkan contoh kasus. Media mainstream telah memiliki keleluasaan untuk meliput dan menampilkan berbagai sisi kehidupan berbangsa dan bernegara. Ruang bagi masyarakat umum juga sangat terbuka dengan berkembangnya jurnalisme warga untuk memberitakan peristiwa-peristiwa yang mereka lihat dan rasakan. Opini-opini kritis untuk mensikapi berbagai persoalan yang muncul, bahkan kerap bernada hujatan, juga sangat bebas bertebaran dalam berbagai ruang di dunia maya maupun nyata.

Perubahan lain yang juga penting, adalah dipisahkannya Kepolisian dari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI – yang kini menggunakan nama Tentara Nasional Indonesia/TNI). Kepolisian memegang kendali penuh atas masalah-masalah keamanan Negara ini. Sedangkan TNI, kembali ke khittah-nya sebagai penanggung jawab atas pertahanan negara. Dwi-fungsi ABRI, lenyap sudah.

Bisa dikatakan pada era sekarang ini, tidak ada satu sosok ataupun kelompok yang memiliki kekuasaan mutlak Partai pemenang pemilu dan atau presiden terpilih pun tidak serta merta dapat sewenang-wenang mengambil keputusan politik, melahirkan berbagai peraturan perundangan ataupun kebijakan-kebijakan pembangunan yang hanya mewakili kepentingan kelompok mereka. Mereka harus kompromi dan melakukan aliansi atau koalisi dengan kekuatan-kekuatan lainnya guna mendapatkan dukungan. Dukungan dalam kehidupan politik, kita pasti tahu, tidak ada yang gratis. Pastilah, pembagian kue kekuasaan harus dilakukan.

Lantaran itulah, pada beberapa kesempatan, kita bisa menyaksikan secara langsung (baik secara fisik ataupun melalui layar televisi) bagaimana para wakil rakyat di lembaga terhormat di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia ini bekerja di dalam persidangan-persidangan yang menyangkut kehidupan bangsa dan negara ini.

Kita bisa menyaksikan sejauh mana keseriusan para wakil rakyat dengan mencermati apakah kursinya kosong, apakah mereka menyimak atau disibukkan dengan alat komunikasi yang mereka miliki (HP/BB/Iphone/Ipad), membaca koran/majalah, atau justru terlelap, dan melalui pembicaraannya kita bisa juga mengetahui kepentingan-kepentingan apa dan siapa yang terwakili.

Perubahan situasi sosial-politik yang telah berlangsung, senyatanya memang belum menunjukkan efektivitas para pengelola negara ini. Oleh karenanya, peranan (organisasi-organisasi) masyarakat sipil masih penting sebagai alat kontrol terhadap kekuasaan.

Pada kasus yang belum lenyap dari ingatan kita, persoalan kenaikan BBM telah memicu berbagai organisasi masyarakat sipil untuk turun ke jalan menyuarakan kepentingan-kepentingan rakyat. Pada kondisi ini, Mahasiswa masih tampak gagah berada di garis terdepan, menepiskan anggapan bahwa setelah 1998 gerakan mahasiswa menjadi mandul.

Sejarah pasti berulang. Pada konteks ini, terlihat nyata upaya-upaya mendiskreditkan gerakan mahasiswa dengan berbagai tuduhan. Termasuk pula irama senada yang dikumandangkan sehingga menjadi istilah yang paling laris dalam berita dan gosip di berbagai ruang yang berpotensi menggeser persoalan utamanya: Anarkis!

Saya kira, penting bagi para peneliti untuk mengkaji secara mendalam mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi suatu peristiwa demonstrasi yang semula berlangsung damai tiba-tiba berubah menjadi kekacauan. Hasil penelitian ini, saya kira akan menepis tuduhan anarkis terhadap gerakan mahasiswa.

Para mahasiswa, tetaplah berada pada barisan depan yang terus bersuara kritis. Suatu keyakinan, bahwa kepentingan yang terbawa masih kuat pada keinginan menciptakan perubahan yang lebih baik bagi bangsa dan negara ini.

Hidup mahasiswa

Merdeka!

Yogyakarta, 7 April 2012

(Odi Shalahuddin)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: