Tinggalkan komentar

Menulis, Tak Mungkin Tak Berguna

Di Jalanan-pun anak-anak tetap belajar berkarya melalui tulisan

Saya menulis. Menulis apa yang hendak saya tulis. Beruntung saya berkenalan dengan Kompasiana, menyimak, lalu terlibat, serta berinteraksi dengan para kompasianer. Proses ini seakan memberi energi dan gairah untuk aktif menulis.

Menulis di blog berbeda dengan menulis artikel. Saya banyak belajar dan diingatkan antara lain oleh Bung Katedra untuk tidak menulis dalam alenia-alenia yang panjang. Saya belajar dan menghayati motto dari Omjay untuk menulis setiap hari minimal satu tulisan. Saya belajar dengan sahabat-sahabat di Desa Rangkat untuk mencermati situasi kontekstual dan menampilkannya dalam fiksi sebagai respon dari situasi. Pun dengan sahabat di Planet kenthir dengan penuturan dan pandangan yang sering tak terduga. Saya juga belajar dari para sahabat di Fiksiana Community, juga dari para kompasianer lainnya melalui postingan-postingan mereka.

Gairah luar biasa, hingga semangat-pun membawa pada kenikmatan menghabiskan waktu hingga tengah malam atau bahkan hingga dini hari. Menyatu bersama hiruk-pikuk para kalonger….  Tak peduli pagi siap lagi beranjak pergi.. kerja!

Semangat itu juga mendorong lahirnya tulisan-tulisan tentang berbagai perasaan dan pandangan terhadap kompasiana, sebagai ruang merdeka yang mengasyikkan. Bermula dari situ pula, lalu bersinggungan dengan persoalan-persoalan yang dikemukakan para kompasianer menyangkut kompasianer tamu, aksi bersih-bersih, highlight, headline,  perlakuan terhadap fiksi, dan sebagainya, yang membawa pengaruh untuk memberikan perhatian dan merespon masalah-masalah tersebut.

Pengaruh yang masih nyata hingga saat ini, saya misalnya masih terganggu dengan persoalan highlight (soal headline tidak begitu peduli) mengingat admin pernah menyatakan bahwa tulisan yang masuk highlight adalah yang dianggap bermutu (di luar kriteria yang telah ditetapkan). Jadi, saya selalu merasa bahwa bila tulisan tidak masuk kolom highlight, maka tulisan saya dianggap tidak bermutu.

Parahnya, secara berturut-turut puluhan tulisan tidak masuk highlight. Jadi tulisan saya tidak bermutu? Hal itu bahkan terus berulang hingga saat ini sehingga melahirkan pandangan, apapun yang akan saya tulis, pasti hanya akan lewat saja. Jadi, secara sadar saya mulai menahan diri dengan membatasi postingan di sini.

Loh, kok malah curhat… ?

Ha.h.ah.a.h.ah.a,

Terus terang, di  Kompasiana  saya belajar banyak dari postingan kompasianer mengenai pengelolaan blog dengan tips-tipsnya yang bertebaran, dan jujur sampai saat ini saya masih merasa bodoh dan bingung.

Saya lalu membuat blog-blog baru, tapi tidak terurus dengan baik. Kemudian, berdasarkan saran dari kawan-kawan juga, saya putuskan digabung hanya menjadi satu blog saja. Saya mulai memberikan perhatian penuh kepada blog pribadi terhitung sejak Januari 2012. Perhatian dalam bentuk berupaya terus mengupdate tulisan ternyata mengasyikkan pula. Jumlah pengunjung terlihat terus meningkat tajam dibandingkan periode sebelumnya, walau mungkin belum berarti apa-apa dibandingkan blog pribadi para kompasianer lainnya.

Pada perjalanan ini, saya semakin diyakinkan, ketika menulis, apapun motifnya, namun didasarkan pada satu niat agar bisa memberi manfaat setidaknya kepada diri sendiri, maka tulisan yang dihasilkan, niscaya tidak akan sia-sia.

Suatu kemungkinan yang tidak terbayangkan, bisa terjadi pada tulisan kita. Tulisan mengenai suatu hal, ternyata bisa bermanfaat, menginspirasi pembaca, dan membuka peluang-peluang yang – barangkali – bisa bernilai ekonomis.

Saya kira, pengalaman semacam ini terjadi pada para sahabat kita. Berbagai tulisan tentang keuntungan dan atau dampak yang diperoleh dari kebiasaan atau hobi menulis tentunya tidak sulit diperoleh di lapak-lapak para kompasianer. Tulisan-tulisan  berbagi pengalaman yang mampu mencambuk semangat para kompasianer lainnya, termasuk saya.

Pengalaman saya pribadi, menulis telah memberi banyak keuntungan. Saya bisa menjadikan kebiasaan menulis sebagai ruang ekspresi, menumpahkan imajinasi, ruang untuk merespon dan melemparkan gagasan atas sesuatu, atau mewartakan tentang peristiwa. Ada kepuasan batin yang tak bisa terbeli ataupun terjual.

Interaksi yang terbangun melalui ruang komentar misalnya, melahirkan jaringan perkawanan atau persahabatan baru, yang kadang tidak bertemu muka namun bisa merasakan kehangatan hubungan melebihi kawan yang kita temui setiap hari.

Kebahagiaan tersendiri pula apabila tulisan kita bisa menjadi rujukan bagi tulisan-tulisan lain, yang berarti apa yang kita sampaikan adalah sesuatu yang penting, mendapatkan pengakuan, dan gagasan tersebut bisa tersebar lebih luas. Hal ini pernah menjadi obsesi saya pada tahun 1990-2000-an ketika belum banyak bersentuhan dengan blog seperti saat, bahwa suatu tulisan yang dihasilkan ”harus” bisa menjadi referensi bagi orang lain kendati terbatas pada isu-isu tertentu, yaitu menyangkut hak anak, lebih khusus lagi mengenai anak jalanan dan prostitusi anak.

Bila-pun dikaitkan dengan kekinian, misalnya tulisan kita bisa masuk halaman pertama dalam pencarian melalui google, maka saya patut bersyukur, tulisan-tulisan saya bisa hadir untuk beragam kata kunci, seperti: anak jalanan semarang, anak yang dilacurkan, prostitusi anak, partisipasi anak, perdagangan anak, dan lainnya.

Menulis, pastilah tak mungkin tak berguna. Jadi memang harus dipertahankan. Bukankah begitu?

Yogyakarta, 25 Maret 2012

___________________________

Tulisan ini pernah diposting di Kompasiana, lihat di SINI

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: