Tinggalkan komentar

Kesaksian (4): Selintas Harian

Kesaksian (4)

SELINTAS HARIAN

Aku tidak perlu menceritakan tentang kehidupan kaum sampah itu ya, Mbak?  Kehidupan yang mungkin bagi Mbak bisa menarik lantaran banyak hal yang sulit untuk dipahami namun harus kami jalani.

Pasti Mbak berpikir, bagaimana kami bisa hidup dengan aroma bau yang pastilah luar biasa, terlebih saat musim hujan? Pasti melebihi bau sampah-sampah dari buangan pasar-pasar. Ini sampah bukan sembarang sampah. Tapi perbukitan atau gunung sampah. Menampung sampah-sampah dari seluruh penjuru kota.

Atau Mbak juga akan bertanya, bagaimana kehidupan sehari-hari di kampung ini? Ya, seperti kampung-kampung lainnya, lah. Kampung yang tidak pernah sepi siang malam. Walau hidup lebih banyak di seputaran kampung juga.

Pagi, siang, sore, tempat kerja di depan mata. Malam, hiburan bagi orang dewasa juga hidup. Suara lagu-lagu dangdut bersahut-sahutan. Warung-warung tempat berkumpul yang tidak pernah sepi. Aroma minuman keras juga tidak pernah libur.  Hm… ya, aku tahu, masalahnya, Pak Min hampir setiap hari pulang sempoyongan, bicara ngawur dan juga bau minuman keras.

Tapi Nasib dan Surip, juga ikut-ikutan loh, Mbak. Mereka sering nongkrong dengan anak-anak sebayanya, di pinggiran pembuangan sampah. Nongkrong sambil merokok, dan ada botol-botol di sekelilingnya. Nasib dan Surip, jarang pulang ke rumah. Apalagi tidur di rumah, sangat-sangat jarang sekali. Biasanya dengan teman-temannya malah sering tidur di pos ronda yang sempit berhimpit-himpitan. Tapi Pak Min dan Mpok Nah tidak pernah marah dengan mereka. Mungkin malah merasa beruntung sehingga di rumah tidak terlalu berhimpit-himpitan ya, Mbak…

Jadi kami hanya lima orang di rumah. Pak Min, Mpok Nah, Aku dan dua adik yang masih kecil. Itupun sebenarnya sudah berhimpit-himpitan. Terpenting ada tempat berebah, tidur beristirahat, mempersiapkan tenaga buat esok hari.

Seiring dengan mulainya diriku mencari barang-barang bekas sendiri, ada tambahan tugas di rumah. Memasak air, membuatkan minuman, mencuci gelas dan piring kotor. Mencuci pakaian, masih dilakukan oleh Mpok Nah.

Ya, hari-hari kami jalani. Seperti orang-orang biasa. Tiada bedanya. Jangan membayangkan bahwa kami selalu berada dalam kesedihan. Pokoknya, seperti orang biasa deh. Seperti kehidupan Mbak juga. Cuma berada di perkampungan yang berbeda dengan kehidupan Mbak. Kehidupan di perkampungan yang bisa membuat Mbak jijik untuk melihatnya, apalagi memasukinya. Bisa muntah-muntah, Mbak. Tidak percaya? Coba deh datangi saja Tempat Pembuangan Akhir sampah di kota ini, Mbak. Pernah? Nah, belum kan? Cobalah sekali-kali.

_____________________

Tulisan terkait:

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: