Tinggalkan komentar

Cerminan Wajah Anak Indonesia dalam ”Yusra dan Yumna” (3): Akta Kelahiran

Cerminan Wajah Anak Indonesia dalam ”Yusra dan Yumna” (3)

AKTA KELAHIRAN

Satu hal yang membuat saya terpana adalah saat Yumna yang tengah menjadi Shira, membuka map berisi dokumen di kamar Eyang Layla. Ia yang penasaran terhadap Shira yang mirip sekali dengan dirinya dan memunculkan dugaan tentang kemungkinan ada pertalian saudara, menemukan salinan akta kelahiran Setia dan Shira. Kamera menunjukkan bentuk dan isi akta kelahiran tersebut. Adegan yang bisa ditemukan pada episode  24-25 dari Mega Sinetron ”Yusra dan Yumna” yang ditayangkan pada tanggal 5 Maret 2012 ini, menunjukkan lembaran salinan akta kelahiran yang salah. Hal yang sama terulang kembali pada salinan akta kelahiran Carissa yang disebarluaskan oleh Greeta di sekolah (episode 48-49)

Dokumen yang ditampilkan bukanlah salinan akta kelahiran. Dokumen tersebut bisa disebut sebagai Surat Keterangan Lahir atau Surat Kenal Lahir yang dikeluarkan oleh bidan. Kepentingan kedua dokumen tersebut tentu saja berbeda jauh.

Tambahan persoalan lain – apabila itu dipaksakan disebut sebagai salinan akta kelahiran – adalah  keterangan tentang Shira yang tidak disebutkan nama kedua orangtuanya atau nama ibu. Ini tampaknya sama sekali jauh dari kenyataan sebenarnya dan saya kira belum pernah terjadi. Namun tetaplah patut dihargai bahwa sinetron ”Yusra dan Yumna” telah menyisipi isu akta kelahiran yang digunakan sebagai bukti untuk mengetahui identitas seseorang.

Contoh Form Akta Kelahiran

Salinan Akta kelahiran merupakan hal yang penting bagi anak/manusia. Ini menunjukkan bahwa kelahiran mereka telah dicatatkan/didaftarkan dan sebagai bukti pencatatan/pendaftaran tersebut kita akan mendapatkan dokumen yang disebut sebagai salinan Akta Kelahiran.

Identitas dan kewarganegaraan seseorang secara legal dibuktikan dengan kepemilikan salinan akta kelahiran tersebut. Pada dokumen itu berisi tentang nama, jenis kelamin, tangal lahir (umur), anak dari pasangan atau dari seorang perempuan, dan juga status kewarganegaraannya.

Pentingnya pendaftaran kelahiran dapat terlihat dari pernyataan UNICEF bahwa itu adalah hak yang pertama dari hak anak. Apabila seseorang belum mendaftarkan kelahirannya, maka bisa dikatakan belum sah secara hukum identitas dan kewarganegaraannya. Hal ini bisa menutup peluang bagi terpenuhinya hak-hak anak yang lain.

Sayang, hal yang sedemikian penting banyak terabaikan. Menjelang akhir tahun 2011, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak memberikan keterangan bahwa sekitar 50 juta dari 80 juta anak Indonesia masih belum memiliki akta kelahiran. (lihat misalnya di SINI:  http://www.fajar.co.id/read-20111008091450-50-juta-anak-tak-punya-akte-kelahiran). Tentu saja hal ini sangat memprihatinkan.

Yogyakarta, 24 Maret 2012

Lihat juga tulisan terkait lainnya:

________________________

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: