Tinggalkan komentar

Situasi Eksploitasi Seksual Komersial terhadap Anak di Empat Kota – Intisari

Sayang banget ngelepasin perawannya,
nggak akan bisa balik lagi meskipun nangis darah juga.
Bila aku diberi kesempatan untuk dilahirkan kembali,
aku ingin menjadi laki-laki.

Alasannya karena menurut aku laki-laki itu makhluk yang paling kuat.
Tidak seperti wanita sering disakitin dan dilecehkan oleh kaum laki-laki  

(ISS, perempuan, 16 tahun,  Bandung)

 ***

 Aku merasa malu melihat diri sendiri
karna apa yang aku punya sekarang adalah hasil uang haram. 

Pekerjaan yang aku jalani tidak layak dicontoh.

Tapi sekarang aku bangga sejak kenal anggota “Yayasan Melati”
(nama samaran sebuah Ornop) ada perubahan untuk hidup saya. Saya bisa meninggalkan dunia gelap.

(PAD, 17 tahun, perempuan, Bandung)

INTISARI

Laporan penelitian mengenai Eksploitasi Seksual Komersial terhadap Anak (ESKA)” ini adalah hasil penelitian di empat kota dari empat propinsi, yaitu Pontianak (Kalimantan Barat),  Bandar Lampung (Lampung),  Bandung (Jawa  Barat) dan Surabaya (Jawa Timur). Studi ini merupakan bagian dari pelaksanaan Eliminate Exploitative Child Labor through Education and Economic Development (EXCEED Project) yang dilaksanakan oleh Save the Children dengan melibatkan organisasi non-pemerintah sebagai mitra kerja.

Istilah ESKA mulai dikenal sejak dilangsungkannya Kongres Dunia Pertama Menentang Eksploitasi Seksual Komersial terhadap Anak yang berlangsung di Stockholm, Swedia, pada tahun 1996. Pada kongres tersebut, diidentifikasikan ada tiga bentuk ESKA, yaitu prostitusi anak, pornografi anak dan perdagangan anak untuk tujuan seksual. Pada studi ini, anak-anak yang menjadi subyek penelitian adalah anak-anak yang dilacurkan. Meski demikian, para peneliti juga menggali data mengenai dua bentuk ESKA lainnya sebagai pelengkap informasi.

Berdasarkan hasil penelitian lapangan, ditemukan bahwa anak untuk pertama kalinya dijerumuskan ke prostitusi atau menjadi korban ESKA adalah ketika berumur 10 tahun, yang diungkapkan oleh dua anak perempuan dari Surabaya.

Anak-anak yang menjadi korban, tidak hanya anak perempuan, tetapi juga anak laki-laki. Sebagian besar anak berasal dari dalam kota itu sendiri, dan masih berstatus Pelajar.

Faktor-faktor resiko yang mempengaruhi anak menjadi korban ESKA tidaklah tunggal. Satu faktor akan berhubungan dengan faktor-faktor lainnya. Berikut hasil identifikasi faktor-faktor resiko:

  • Latar belakang keluarga (tingkat ekonomi rendah, keluarga pecah/broken home, tidak ada perhatian dari orangtua, kekerasan dalam rumah tangga, penelantaran, dan eksploitasi ekonomi)
  • Terpengaruh Lingkungan atau ajakan teman
  • Diperdaya atau ditipu
  • Gaya hidup konsumtif
  • Untuk bertahan hidup

Berdasarkan pola komunikasi anak dengan mucikari, secara umum telah mengalami banyak perubahan. Bila pada periode-periode sebelumnya mucikari memiliki peranan besar dan berkuasa penuh atas ”anak buahnya”, pada penelitian ini ditemukan sebagian besar peran mucikari telah bergeser menjadi sekedar perantara. Hal ini dipengaruhi oleh faktor semakin menonjolnya anak-anak yang bekerja secara individual atau dalam kelompok-kelompok kecil. Pada pola semacam ini, anak bisa menolak tawaran dari mucikari tanpa memiliki resiko apapun. Pada sisi lain, ketika anak membutuhkan uang, ia bisa menghubungi perantara/mucikari untuk dicarikan klien.

Pola di atas juga berpengaruh pada tempat mangkal. Kendati masih dijumpai anak yang memiliki tempat mangkal tetap seperti anak-anak di Surabaya yang biasa mangkal di jalanan dan di Pontianak yang mangkal di Hotel-hotel, sebagian besar anak tidak memiliki tempat mangkal tetap untuk mendapatkan klien. Bilapun mereka berada di tempat-tempat tertentu, seperti cafe, tempat karaoke, diskotik, dan mall, biasanya hanya untuk berkumpul dengan kawan-kawannya, tidak untuk mencari klien atau karena sebagai tempat untuk bertemu klien yang telah disepakati dalam komunikasi keduanya.

Berdasarkan pola-pola semacam di atas, dapat dikatakan bahwa keberadaan anak-anak di dalam prostitusi sifatnya tersembunyi. Hal ini kembali pada periode sebelum tahun 1990-an dengan karakter yang berbeda, yaitu pada saat ini kegiatan anak lebih bersifat individual atau dalam kelompok kecil. Pada periode akhir 1990-an hingga awal tahun 2000-an, keberadaan anak-anak di dalam prostitusi sangat menonjol karena anak-anak berada di dalam ruang publik (jalanan, cafe, diskotik, mall) untuk mendapatkan klien sehingga mudah dijumpai.

Masalah-masalah yang dihadapi oleh anak korban ESKA:

  1. Kekerasan bersifat fisik, mental, sosial dan seksual
  2. Kehamilan tidak dikehendaki
  3. Ancaman penyakit menular seksual dan atau terinfeksi HIV/AIDS
  4. Ketergantungan dengan drugs
  5. Eksploitasi ekonomi
  6. Eksploitasi seksual

Respon pemerintah di tingkat pusat dinilai positif dengan menempatkan posisi anak sebagai korban dan pihak yang memanfaatkan seksualitas anak telah ditempatkan sebagai pelaku kriminal. Berbagai peraturan, kebijakan dan program untuk mengatasi persoalan ESKA telah dilangsungkan. Di sisi lain, respon pemerintah di tingkat propinsi, kota/kabupaten dinilai belum memadai. Ada berbagai kebijakan di tingkat Pusat, belum ditindaklanjuti oleh pemerintah lokal seperti Rencana Aksi Propinsi atau Kota/Kabupaten dan pembentukan Gugus Tugas untuk mengatasi masalah ESKA.

Hal yang menjadi catatan khusus adalah bahwa Kebijakan dan program yang ada belum mampu menyentuh anak-anak yang melakukan kegiatan secara individual ataupun kelompok-kelompok kecil yang diproyeksikan bisa berkembang dengan pesat di empat kota tersebut, dan dimungkinkan terjadi pula di kota/kabupaten di luar lokasi penelitian. Artinya kebijakan belum memperhatikan adanya perubahan dalam situasi industri seks secara umum yang makin masif dan terbuka, di mana prostitusi pelajar sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sistem tersebut.

Catatan: 

Bagi rekan-rekan yang tertarik untuk mendapatkan hasil studi ini dalam bentuk e-file, bisa mengirimkan permintaan melalui email ke odi_sh@yahoo.com atau ekan_s@yahoo.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: