Tinggalkan komentar

Kebahagiaan Seorang Penulis

KEBAHAGIAAN SEORANG PENULIS

Dibawah Bayang-bayang Ancaman (2004)

Secara sederhana, pengertian penulis yang digunakan dalam tulisan ini adalah seseorang yang menghasilkan tulisan. Tulisan yang dihasilkan dan dipublikasikan, tidak memperhitungkan apakah berada di media komersial dan karenanya mendapatkan imbalan ataupun  berada di jejaring sosial, blog pribadi atau jurnalisme warga, tanpa ada imbalan materi. Intinya ada tulisan yang dihasilkan. Melalui pengertian semacam ini,  maka tidak berlebihan bila saya mengklaim atau memposisikan diri sebagai penulis.

Menulis, dan menulislah. Tak perlu meragu. Berulang kali saya menyatakan demikian. Menulis adalah kebiasaan. Kalau sudah biasa, maka tentu tidak menjadi suatu kegiatan yang menyusahkan.

Menulis dan menulislah. “Setiap hari minimal satu,” seru Omjay yang disusul dengan semangat dari Bung Kate “Menulis terus selagi bisa menulis,”.

Menulis, memiliki banyak keuntungan, sebagaimana telah banyak diungkapkan oleh kawan-kawan di berbagai postingannya. Keuntungan berupa tersalurnya ekspresi diri, menjadi pewarta, ataupun tertuangnya pemikiran tentang sesuatu hal. Bisa pula, menulis sebagai bentuk terapi terhadap diri sendiri. Lebih jauh, menulis agar bisa bermanfaat bagi orang lain untuk mendapatkan informasi atau inspirasi yang mampu menggerakkan kata-kata menjadi suatu tindakan perubahan yang lebih baik. Keuntungan lainnya, tentulah bisa beragam, dan pastilah anda pernah menikmati keuntungan tersebut.

Saya sendiri, merasa bahagia ketika niat untuk menulis bisa terlaksana, dan lahirlah suatu tulisan. Ketika dipublikasikan mendapat respon melalui komentar-komentar yang hadir dan terlihatnya angka yang menunjukkan jumlah yang telah membuka (dan membaca), kebahagiaan menjadi bertambah. Tidak jarang, dari suatu tulisan, (seorang) pembaca mengirimkan pesan ke inbox, meminta informasi lebih dalam dari apa yang ditulis, kemudian berlanjut kepada diskusi yang saling mencerahkan. Atau, berawal dari tulisan pula, kita mendapatkan tawaran-tawaran lain yang bisa bermakna bagi perjalanan kehidupan kita. Misalnya mendapat tawaran pekerjaan tertentu. Kebahagiaan akan terus semakin melengkapi.

Kebahagiaan, satu sama lain bisa berbeda, bisa pula sama, juga bisa berbeda untuk hal yang sama dalam konteks yang berbeda. Ini pastilah tergantung bagaimana mensikapi dan memaknakannya.

Beberapa pengalaman pribadi misalnya, saya sangat berbahagia sekali ketika kelas dua SMP untuk pertama kali puisi dimuat di media massa. Hal yang sama ketika awal-awal kuliah di tahun 1990-an, cerpen dan artikel di muat di Koran lokal dan nasional (apalagi juga mendapatkan honor yang lumayan). Kebahagiaan bertambah ketika pertama kalinya satu cerpen diikutkan dalam buku kumpulan cerpen bersama para cerpenis lain. Lalu menyusul diterbitkannya kumpulan tulisan tentang persoalan anak, dilanjutkan dengan kepuasan berhasil menyusun satu buku tentang kehidupan anak jalanan di Semarang periode 1996-2001, dan seterusnya. Kebahagiaan tersendiri pula apabila tulisan kita menjadi referensi yang digunakan untuk tulisan-tulisan lainnya. Berdasarkan pengalaman ini, maka  hal-hal pertama, pastilah sangat membahagiakan, seolah ingin menggemakan ke dunia tentang apa yang kita alami dan rasakan.

Menulis, tanpa niat buruk, pastilah akan mendapatkan sesuatu yang bermanfaat bagi diri kita yang menjadi kebahagiaan tersendiri. Lantas, apakah kebahagiaan yang engkau alami sebagai penulis?

(Odi Shalahuddin)
Yogyakarta, 14 Maret 2012

_______________________

Diposting di Kompasiana, klik di SINI

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: