Tinggalkan komentar

Obrolan Lepas tentang Bangsa Saat begadang

Obrolan Lepas Tentang Bangsa Saat begadang

Semua orang itu guru, alam raya sekolahku, sejahteralah bangsaku

Minggu malam (11/3), dua orang kawan, darikotayang berbeda mengirimkan sms tengah berada di  Yogya. Kepada satu kawan  saya berjanji akan menemui di atas jam 12 malam, pada kawan yang satu, saya katakan akan menunggu (dengan pikiran bisa mengajaknya untuk bertemu kawan yang ia kenal juga).

Begitulah, sekita jam 12, satu kawan datang, langsung saya memberikan tawaran untuk ikut bertemu kawan satunya lagi. Ia setuju. Saya juga mengajak satu kawan lain. Lalu meluncurlah kami bertiga, dari Yogya bagian selatan menuju Yogya bagian utara.

Hanya obrolan-obrolan lepas dengan beragam tema yang meluncur begitu saja. Tapi banyak yang bisa terpetik sebagai bahan pembelajaran. Pada obrolan lepas, pastilah tak lepas pula lahir pembicaraan mengenai gossip-gosip dan carut marut bangsa ini. Kelakuan para petinggi negeri dan wakil rakyat yang tidak mencerminkan sebagai pembawa amanah, kasus korupsi, politik uang, dan sebagainya.

“Pendidikan. Ini sangat penting sekali. Pendidikan ulang untuk merubah cara berpikir sehingga kita bisa memahami realitas dan mampu mengidentifikasi tantangan-tantangan bangsa ke depan secara lebih baik lagi,” pernyataan dari kawanku. ”pikiran-pikiran kita, tanpa sadar sesungguhnya berisi pikiran-pikiran dari luar yang menyebabkan kita sering gagal mengatasi persoalan bangsa ini,”

Tentang pendidikan, jadi teringat dengan Mohammad Farid dan Yayak Yatmaka, dua orang pendiri SAMIN (Yayasan Sekretariat Anak Merdeka Indonesia) yang sangat concern mengembangkan berbagai konsep dan metode pendidikan bagi anak di pertengahan tahun 1980-an. Semangat untuk membangun bangsa ini melalui pendidikan yang mampu mengembangkan kapasitas anak-anak agar kritis terhadap realitas dan memiliki keberanian untuk berpikir dan bertindak melakukan perubahan-perubahan di lingkungannya. Melalui media ekspresi artistik yang dinilai sebagai pendekatan yang tepat bagi anak, maka terlahirlah misalnya lagu-lagu anak merdeka yang hingga kini masih bergema di berbagai wilayah di Indonesia.

”Ketika saya mempelajari tulisan-tulisan pendiri bangsa ini, Soekarno, saya melihat faktor terpenting adalah menjadikan bangsa yang mampu berdiri sendiri tanpa tergantung pada bangsa lain. Ini tidak berarti kita mengisolasi diri, tapi bisa berhadapan setara,” tambah kawanku, yang pada tahun 1980-an juga aktif memfasilitasi dan mengembangkan Teater Rakyat di berbagai komunitas di Indonesia. Dialah Warsito. Sosok yang dikenal sangat low profile, namun sangat aktif membangun komunikasi dan kerjasama dengan berbagai pihak.

Pembicaraan terus mengalir, dengan beragam tema, berlompatan, kadang terselingi dengan canda. Tidak terasa waktu terus berjalan, adzan Subuh-pun terdengar. Kami berpamitan, lantaran seorang kawan harus kembali ke kotanya pukul 06.00, dan Warsito juga harus ke Jakarta dengan penerbangan pagi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: