4 Komentar

Kesaksian (3): Mengais dan Hidup

KESAKSIAN (3):

MENGAIS DAN HIDUP

Pemulung di Bantar Gebang

Entah umur berapa untuk pertama kalinya saya mulai diajak oleh Mpok Nah untuk mengarungi dan mendaki gunung sampah. Nasib dan Surip, dua kakak saya sudah terlebih dahulu. Awalnya mereka bersama Pak Min, tapi kemudian jalan sendiri-sendiri. Dua adik saya masih terlalu kecil dan biasa tinggal di rumah.

Jujur, tidak banyak yang Aku kerjakan. Hanya memasukkan barang-barang pilihan dari Mpok Nah yang terjatuh, lalu memasukkannya ke dalam keranjang. Berulang kali aku terjatuh lantaran kesendol pantat para orangtua. Kalau sudah begitu, hanya tawa yang menggema. Membuat aku tertawa pula.

Awalnya, tidak terlalu lama. Paling sekitar dua jam dalam sehari di pagi hari aku diajak oleh Mpok Nah. Selebihnya, aku bisa pulang ke rumah. Memang belum bebas untuk bermain, tapi menjaga adik-adik.

Secara perlahan waktu bertambah, lalu di punggungku juga sudah mulai diletakkan keranjang untuk memasukkan barang-barang bekas yang bisa dipilah dan dijual. Biasanya aku berkerumun dengan orang-orang yang sebaya atau lebih tua sedikit dariku. Kadang, kami mengais sampah, sambil bermain-main. Baru terhenti ketika orangtua mulai menegur atau memarahi. Kami akan saling pandang, menahan senyum dan tawa, berpura-pura bekerja lagi, lalu menikmati permainan, mengais-ngais sampah.

Kalau lagi beruntung, kadang bisa menemukan dompet yang masih berisi uang. Uangnya dibagi kepada anak-anak yang melihat, isi dibuang, dompet disimpan. Kadang juga ditemukan uang di tempat yang tak terduga. Di tas plastik misalnya. Pak Sukir, pernah beruntung menemukan uang banyak di sebuah tas plastik hitam. Malamnya dibuat pesta, para orang dewasa asyik berjoget dan bernyanyi, kami anak-anak mengintip, ikutan berjoged-joged juga.

Tapi kesialan juga sering terjadi. Menemukan sebuah bungkusan rapi, ketika dibuka ternyata hanya bangkai tikus, atau makanan basi. Juga beberapa kali ditemukan bayi. Tapi sudah mati. Kasihan sekali nasib mereka ya… Ah, akhirnya aku juga merasa beruntung, bisa diberikan kehidupan. Setidaknya aku bisa bercerita sekarang. Kepada dirimu, Mbak. Atau jangan-jangan, ini sebuah bencana, dan kematian bisa lebih baik dibandingkan kehidupan?

Begitulah, Mbak, hari-hari kami lalui. Dengan mengais-ngais, bersahabat dengan sampah, dalam aroma yang tidak lagi membuat kami muntah. Mungkin karena sudah terbiasa ya, Mbak? Dari sampah-sampah itulah ribuan orang bisa hidup. Bisa makan, bisa menikmati kehidupan.

Walau banyak juga kisah sedihnya. Ada beberapa orang yang mati karena tertimpa longsoran sampah atau terkena garukan alat-alat berat. Ini membuat kami semua harus berhati-hati, Mbak.

_________________

Ilustrasi foto adalah gambaran pemulung di Bantar Gebang Bekasi. Diambil dari SINI

Tulisan terkait:

Iklan

4 comments on “Kesaksian (3): Mengais dan Hidup

  1. Miris sekali, seperti potret nyata kehidupan para pemulung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: