Tinggalkan komentar

Cerpen: Mencari Tuan !

MENCARI TUAN !

 Kolaborasi Ma Sang Ji & Odi Shalahuddin

Klik. Melesatlah aku. Melayang. Terbang. Gesit menarikan gemulai tubuh. Menembus secara sempurna sela-sela tipis bermilyar frekuensi. Meloncat. Dari satu jendela ke jendela lain yang terbuka ataupun tertutup rapat.

Akhirnya dalam hitungan sepersekian detik. Tibalah aku di sini.

“Hai. Kenalkan. Aku: Siluman cantik dari perbatasan Cina-Korea. Begitu orang-orang biasa memanggilku”

Ah, kulihat, berjuta pasang mata lelaki menatap lekat padaku. Seakan hendak menelanjangi. Menebak-nebak bangunan di balik kain yang menyelimuti tubuhku.

“Jangan tertipu mata dan kata-kata. Aku, hanya siluman yang tak bertuan,” kucoba mengingatkan mereka. Beberapa diantaranya masih mengerlingkan mata nakalnya. Ughs…

“Hai, cantik,” seseorang memulai sapaannya. Beribu orang kemudian mengikutinya. Bertambah kata-kata nakal. Membuatku tersenyum, bahkan lebih lagi, ingin terbahak. Dasar lelaki!

Ingin aku menyeringai. Menunjukkan kebenaran tentang sapa perkenalanku. Sungguh. Aku adalah siluman cantik. Secantik apapun. Aku tetaplah siluman. Jujur aku menyampaikannya. Maka bukalah mata dan hatimu kawan.

Tapi, aku tidak menyeringai. Justru senyuman termanis yang kumiliki memancar ke wajah-wajah mereka. Malam dingin menjadi panas yang bergelora. Lihat saja keringat telah menetes di wajah para lelaki itu. Sebagian diantaranya, bahkan telah membuka baju dan kaos dalamnya. Keringat basah. Hm.. bau menyesak!

“Aku adalah siluman. Aku tengah mencari tuan,”

“Biarkan aku menjadi tuanmu. Sebagai tuan, tak akan kujadikan dirimu hamba sahaya yang tersiksa. Aku akan perlakukan dirimu, tidak sebagai budak. Jauh melebihi manusia biasa. Berada di sisiku, sebagai ratu,” rayu seseorang.

“Hai, cantik, janganlah meragu, ikutlah aku. Tak akan berposisi sebagai tuanmu, kita bisa menyatu. Apalagi harus ditunggu, segeralah melaju,” rayu seseorang lainnya.

Rayuan-rayuan bertebaran. Dengan kata-kata yang indah melambung tinggi ke angkasa sehingga tak terjamah sampai rayuan-rayuan vulgar yang tidak lebih baik dari sampah.

“Aku adalah siluman. Kutegaskan sekali lagi. Aku adalah siluman. Siluman nan cantik. Tapi tetap siluman,”

“Kami tidak perduli siluman. Tidak ada diskriminasi di sini. Semua memiliki posisi, tiada peduli siapa dia. Manusia, syetan, iblis, malaikat, semuanya ada di sini. Bahkan sebagian telah menjelma menjadi satu,”

Rayuan, ajakan, kini juga disertai bujukan dan ancaman. Mengerikan bagi manusia. Tapi bagiku, sebagai siluman, tidak bermakna apa-apa.

Kulihat akhirnya satu sama lain yang tidak saling mengalah. Mulai saling berbantah. Mulai saling menghujamkan kata menusuk hati masing-masing. Rayuan indah yang mula terdengar, kini telah berubah menjadi caci maki vulgar tak terarah. Betapa bodohnya mereka. Berubah kesadaran dan terendahkan harkatnya lantaran diriku. SILUMAN.

Ah, aku harus segera pergi. Merasa tiada guna di sini. Hiruk-pikuk bagai rebutan tulang. Aku bukan anjing. Tiada layak menjadi rebutan. Aku adalah Siluman. Jelas, berkali kukatakan kepada mereka agar tak salah paham. Tetap saja terbutakan mata mereka. Lebih baik aku terbang ke Singapura, lalu mampir di Cina dan Korea, sebelum mendarat di Amerika.

K L I …..

Belum sempat sempurna, sebuah tangan telah mencengkram, membuatku menoleh kepada sosok tampan nan seksi penuh pesona. Sempurna sebagai manusia masa kini. Layak menjadi selebriti yang senantiasa hadir di televisi. Tapi tidak bagiku. Seluruh wajah bisa kucipta.  Siapakah dia penuh percaya diri berani mencengkramku?

“Tetaplah di sini, cantik. Inilah tempat yang menyenangkan bagi semua, termasuk untuk dirimu,”

“Siapakah dirimu?”

“Akulah Tuanmu sesungguhnya. Aku Tuan Kompasiana,”

Ah, diakah?

Rupanya Tuan Kompasiana benar-benar makhluk sempurna. Memiliki seks appeal yang tinggi, menggairahkan, bagaikan magnet yang menghisap jutaan manusia untuk mengelilinginya, meliukkan segenap tubuhnya menari-nari teriringi jutaan tembang dengan musik beraneka ragam dari segenap irama semesta.

“Aku mencari Tuan. Tuan siluman pula. Bagaimana aku percaya bahwa tuanku adalah manusia?” aku menanggapi perkataannya, sebagai pertanda ada magnet yang menarikku pula. Ah, aku hanya siluman.

“Sungguh, akulah Tuan Kompasiana. Tuan segala Citizen Journalism (CJ), ‘Number One in the World’,” sosok yang mengaku Tuan merayu dengan kata mendayu tanpa rasa ragu.

Selanjutnya ia sampaikan dengan bahasa matematika ala pemain catur, posisi Kompasiana saat ini. Diungkap betapa Kompasiana telah menaklukkan empat jawara CJ internasional dari Korea, Singapura, Kanada, dan Thailand. Bahkan, men-“skak mat” empat jagoan itu baru dalam hitungan langkah awal.

Bagai bermain catur, Tuan kompasiana masih hendak mengerahkan varian yang paling tajam dari “Pembukaan Gambit Raja”. (Kata mbah Gugel, strategi ini bermakna mengorbankan para hamba, yaitu pion-pion raja dan bahkan beberapa perwira bila perlu, demi kejayaan sang Tuan.)

Semakin lama ia bercerita, semakin aku kehilangan bahasa. Sungguh bahasa yang digunakan semakin tiada aku mengerti. Bahasa matematika dan strategi permainan caturkah?

BICARALAH DENGAN BAHASA HATI, TUAN!” teriakku dalam hati, tak sempat terlontar lewat kata-kata yang berhamburan melalui sela bibirku yang pastilah sangat sensual.

Sayang semilyar sayang, teriakan hati tak terdengar oleh Tuan kompasiana, yang bercerita, dan para hamba yang berada di sekelilingnya terus saja memberikan pembenaran-pembenaran, membuatku berpikir keras menjadikan sakit kepala. Bisa kau bayangkan rasanya, seorang siluman-pun bisa berpusing ria. .

“Kamilah yang terdepan. Para warga yang berada di depan, yang tentunya telah melewati ujian perjalanan yang berliku dengan penuh perjuangan mendedikasikan seluruh jiwa-raganya, maka penghargaan terhadap mereka tengah kami pertimbangkan dan akan diperjuangkan,”

Terdengar sorak gempita seluruh hamba sahaya. Orang-orang bergegas ke rumah dan kembali lagi dengan peralatan beraneka rupa dengan maksud yang sama: Mengasah taring dan kukunya.

Semakin lama, semakin tak tahan mendengar kata-kata dan tingkah polah para lelaki yang semula tampak seperti pejantan kini luruh bagaikan pelayan. Walau masih sempat kulihat, ada jendela-jendela terbuka dengan sosok yang memandang dari kejauhan dengan mata berkaca-kaca.

Sudah saatnya aku pergi, tak perlu ditahan lagi. KLIK.

Tibalah di Singapura, berpapasan dengan gerombolan kompasianer yang berkuku tajam & bertaring runcing. Mereka berseliweran di depan seekor patung singa yang besar sekali. Kepada mereka aku bertanya “Adakah Tuan siluman di sini?”

Hanya gelengan kepala jawabnya. Tak perlu menunda. KLIK.

Melayang dan hinggap di  Cina, tubuhku melayang memasuki wihara Naga Sakti. Selaksa patung berjajar rapi. Yang paling menggetarkan hati, patung Dewi Kwan Im. Kepadanya, aku menuding dalam hening, “Anda Tuan siluman, bukan?”

Tiada jawab. Keheningan semakin dalam. Melayang kembali. KLIK.

Di Korea, patung-patung bertebaran. Paling menggairahkan adalah  patung para selebriti ternama. Kepada mereka, aku berbisik, “Di manakah Tuan siluman berada?”

KLIK. Melesat kembali. Melayang-layang. Jauh tinggi, Menembus dinding-dinding awan. Putih. Hitam. Hingga langit tak berawan dengan birunya yang teduh tak terhalang pandang. Bermain-main, dan kumandikan diriku secara bebas dengan cahaya matahari.

Setelah berpuas diri. Kembali menukik. Menembus awan kembali. Melayang. Melewati lautan. Gunung. Bukit. Sungai. Tibalah di sebuah patung.

Liberty. Patung Liberti. Amerika. Kembali kusaksikan dan berpapasan dengan para kompasianer berkuku tajam & bertaring runcing. Berlalu-lalang dan berpose di segenap sudut di bawah patung Liberty yang menjulang tinggi. Kepada mereka kuteriakkan permohonan,

“TOLONG! PERTEMUKANLAH AKU DENGAN TUAN SILUMAN!”

Melayang-layang. Pada saat gelap telah menjelajah hari. Bulan dan bintang menghiasi langit. Aku melayang, membalikkan tubuh dan terlentang. Kubiarkan angin menina-bobokan diriku. Terayun-ayun. Hingga kudengar tembang merdu entah dari mana asalnya. Ah, kudengar bait-bait lirik yang menggoda dan menelusup ke dalam jiwa. Tentang pencarian diri yang tak tuntas. Tembang itu seakan mengejek diriku, seorang siluman cantik.

“Mencari, sedang tak tahu yang kau cari
Ada di dekatmu, pun kau tak kan bisa tahu
Carilah aku, bila kau telah tahu tentang diriku
Aku tak perlu mencarimu karena aku sudah tahu
Carilah apa yang hendak kau cari
Barulah lanjutkan perjalanan mencari apa yang hendak kau cari,”

________

Cerpen ini kemudian dikembangkan oleh Ma Sang Ji menjadi trilogi, yang dapat dilihat di Kompasiana:

  • Siluman Cantik Mencari Tuan, klik di SINI ilustrasi diambil dari situ.
  • Bicaralah dengan Bahasa Hati, Tuan Klik di SINI 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: