14 Komentar

Peluncuran Buku Hasil Penelitian ESKA dan Buruh Anak di Perkebunan

Peluncuran Buku Hasil Penelitian ESKA dan  Buruh Anak di Perkebunan

Bertempat di Ruang Lintang II, Hotel Puri Artha Yogyakarta, Save the Children yang tengah melaksanakan program EXCEED (Elimination eXploitative Child labor through Education & Economic Development) yang dilaksanakan dari tahun 2009 hingga 2013, menyelenggarakan Peluncuran Tiga Buku hasil pemetaan dan Studi Mendalam terhadap pekerja anak yang berlangsung pada tanggal 28 Pebruari 2011.

Buku tersebut, yakni: Laporan Pemetaan Dasar Pekerja Anak di Indonesia, Laporan Studi mengenai Buruh Anak di Perkebunan Kelapa Sawit di dua Kabupaten (Kabupaten Sanggau dan Kabupaten Sambas), Laporan Studi Mengenai Eksploitasi Seksual Komersial Terhadap Anak di Empat Kota (Pontianak, Bandar Lampung, Bandung, dan Surabaya)

Delailah P Borja, Country Director of Save the Children

Acara dibuka oleh Delailah P Borja selaku Country Director of Save the Children. Dikatakannya: “Save the Children Indonesia mendapat kepercayaan dari USDOL untuk menjalankan Program. Wilayah kerja program EXCEED ini adalah Jawa Barat, Jawa Timur, Jogjakarta, Lampung, dan Kalimantan Barat Fokus program ini adalah  memberikan layanan kepada anak yang terlibat dalam bentuk-bentuk pekerjaan terburuk utamanya Pekerja Rumah Tangga Anak, Buruh Anak di perkebunan, Anak perempuan yang bekerja di jalanan, dan Eksploitasi Seksual Komersial pada Anak. Layanan tersebut mencakup pencegahan maupun penarikan bagai anak yang sudah terlanjur terlibat dalam pekerjaan terburuk.“

Dikatakan lebih lanjut, guna mendapatkan gambaran yang lebih lengkap mengenai situasi pekerja anak telah dilakukan pemetaan dasar terhadap empat kelompok pekerja anak  di delapan kabupaten, dan studi pendalaman dilakukan terhadap buruh anak di perkebunan Kelapa Sawit di dua Kabupaten dan Ekploitasi Seksual Komersial terhadap Anak (ESKA) di empat kota.

Fatah Muria dan Fathuddin Muchtar dengan dipandu oleh Bambang “Kirik” Ertanto mempresentasikan situasi buruh anak di perkebunan kelapa sawit.

Fatah Muria mengingatkan bahwa situasi pekerja anak di sector perkebunan sawit perlu dikaitkan dengan relasi produksi pada system PIR-TRANS dan TSM (Transmigrasi Swakarsa Mandiri).

“Namun situasi tersebut juga melahirkan berbagai kategori pekerja anak, tergantung pada jauh tidaknya  dengan rantai produksi perusahaan. Semakin dekat relasi anak dengan perusahaan, maka  semakin intens keterlibatan anak di dalam perkebunan,” jelas Fatah Muria.

Selanjutnya Fatah Muria menjelaskan tentang identifikasi kategori pekerja anak di sektor perkebunan yang ditemukan berdasarkan hasil studi mendalam.

Pertanyaan penting yang dikemukakan menyangkut anak-anak yang bekerja di perkebunan milik keluarganya sendiri apakah bisa dimasukkan sebagai pekerja anak. Ini mengingat bahwa keberadaan mereka tidak pernah dianggap sebagai pekerja anak dan dianggap menjadi kewajaran sebagai bentuk membantu orangtua/keluarga.

Fathuddin Muchtar menambahkan bahwa berdasarkan data formal, memang tidak diketemukan adanya pekerja anak. Masyarakat sendiri ketika dilakukan kelompok diskusi terfokus menyatakan tidak ada pekerja anak. Ketika ditelusuri mengenai beban kerja yang dilakukan di perkebunan, barulah terungkap bahwa anak-anak juga banyak yang terlibat dala kerja-kerja di perkebunan.

Pada konteks ini dinyatakan oleh Fathuddin bahwa masyarakat masih memandang bahwa anak-anak yang membantu mengelola perkebunan milik keluarga dianggap bukan sebagai pekerja anak.

Odi Shalahuddin dan Hening Budiyawati yang mempresentasikan situasi ESKA, mengungkapkan temuannya bahwa subyek yang dilibatkan semuanya adalah anak-anak yang dilacurkan yang menjangkau anak laki-laki dan perempuan. Umur termuda pertama kali anak menjadi korban adalah umur 10 tahun.  38% masih berstatus pelajar dan 80% berasal darikotaitu sendiri.

Setelah menyampaikan tentang faktor-faktor resiko anak bisa menjadi korban ESKA, disampaikan tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada modus praktek prostitusi khususnya yang melibatkan anak-anak. Adalimatipe yang ditemukan dari dua kategori besar yaitu anak-anak yang di bawah kendali mucikari dan anak-anak yang melakukan kegiatan secara bebas atau bersifat freelance.

“Kecenderungan yang harus diwaspadai adalah anak-anak yang bersifat freelance, tapi ia melakukan kegiatan tanpa berada di tempat mangkal tertentu, tanpa berhubungan dengan mucikari dan perantara, tapi langsung berkomunikasi dengan klien atau pengguna. Mereka menggunakan fasilitas melalui internet ataupun melalui HP. Pola ini sulit untuk dideteksi sehingga penangannya-pun akan sulit menjangkau mereka,” Odi Shalahuddin memberikan peringatan atas salah satu tipe praktik ESKA yang tengah berkembang.

Ekandari Sulistyaningsih

Ditambahkan oleh Hening, tentang anak-anak korban ESKA yang berstatus masih pelajar. “Saya menjumpai mereka di salah satu café. Saya hitung ada sekitar 48 anak yang masih menggunakan seragam pada waktu jam pelajaran. Ketika mencoba melakukan pendekatan, saya bisa berkomunikasi dengan dua anak yang mengakui keterlibatannya dalam prostitusi. Anak-anak itu tidak saling mengenal dan tidak tahu diantara mereka ada yang berada dalam prostitusi,:.

Gambaran dua kelompok anak yang disampaikan dalam acara ini, merupakan sepenggal kisah buram dari wajah kehidupan anak-anakIndonesia. Keduanya juga dikategorikan sebagai bagian dari 12 bentuk-bentuk pekerjaan terburuk bagi anak yang diidentifikasi ada di Indonesia dan terkandung dalam Keputusan Presiden No. 59 tahun 2002 tentang Rencana Aksi Nasional Penghapusan Segera Bentuk-Bentuk Terburuk Pekerjaan Anak. . Kedua kelompok anak ini, dan kelompok anak lainnya yang menjadi anak jalanan dan Pekerja Rumah Tangga Anak, mendapatkan perhatian dari Save the Children untuk ditangani dengan target anak harus bisa dikeluarkan dari situasinya. Program EXCEED yang dilaksanakan mendapat dukungan dari USDOL (United States Department of Labor).

Ekandari Sulistyaningsih, Monitoring and Evaluation Spesialis, yang bertanggung jawab atas peluncuran buku ini menyatakan bahwa tujuan dari peluncuran buku ini adalah untuk menyebarluaskan informasi mengenai hasil penelitian ESKA dan Buruh Anak di Perkebunan Sawit kepada perwakilan Working Group di tingkat nasional, Provinsi dan kabupaten/kota, serta LSM mitra program EXCEED. Setelah peluncuran buku, acara dilanjutkan untuk berbagi informasi antar Working Group  dan LSM Mitra mengenai kegiatan Working Group di masing-masing wilayah kerja EXCEED guna meningkatkan pelaksanaan program dan pemberian layanan kepada anak di kedua isu tersebut dan berbagi informasi mengenai program-program yang dimikili oleh masing-masing instansi di Working yang dapat di akses oleh Mitra EXCEED dan Komite Pendidikan Masyarakat.

Yogyakarta, 28 Pebruari 2012

 Beberapa foto dalam acara:

14 comments on “Peluncuran Buku Hasil Penelitian ESKA dan Buruh Anak di Perkebunan

  1. Sukses untuk peluncuran bukunya sobat. Semoga bermanfaat…

  2. Ass, mohon informasi, bgmn utk mendptkan buku-buku hsl penel ESKA dan Buruh Anak di Perkebunan ini pak ?

  3. saya mau pesan buku lengkap(cover) bagaimana?

  4. […] Peluncuran Buku Hasil Penelitian ESKA dan Buruh Anak di Perkebunan. […]

  5. kalau boleh tahu, di toko buku mana ya, saya bisa nyari buku ini?

  6. selamat malam Pak, saya ingin mendapatkan ebooknya bagaimana caranya?
    terimakasih sebelumnya..

  7. pak saya minta tolong kirim ebook hasil penelitian nya ke email saya ya pak : herasihombing2301@gmail.com. terima kasih pak

  8. Selamat pagi, pak saya tertarik dengan ebooknya. Saya minta tolong untuk bapak mengirim ebook ke email saya: destaayu01@gmail.com
    terima kasih pak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: