8 Komentar

Kesaksian (1): Nama Saya Kasni

KESAKSIAN:

NAMA SAYA KASNI

Panggil saja saya Kasni. Nama palsu ataukah asli, saya sendiri juga tidak pernah peduli. Percuma bila hendak mencari, apalagi secara sembunyi-sembunyi, untuk tahu kebenaran nama ini. Sudahlah, percayai saja pengakuan ini. Panggil saja, Kasni, tanpa perlu ragu lagi. Pasti saya akan mengerti, sayalah yang dimaksud bila anda memanggil Kasni. Tapi jangan dipelesetkan menjadi kasihani. Atau jangan-jangan lantaran dikasihani itulah saya diberi nama Kasni. Ha.h.ah.a.h.a.ha….. Ah, jangan, jangan begitu. Saya tidak mau dikasihani.

Memang tidak ada bukti, sebagai identitas diri. KTP tidak punya. Sudah mengurus ke sana-kemari, pakai sogokan lagi,  tetap saja tidak bisa diberi. Uang hilang percuma. Waktu terbuang sia-sia. Jangan tanya saya punya Kartu keluarga  apalagi akta kelahiran, loh, Mbak. Pastilah tidak punya. Memang sih, serba sulit. Umur mungkin belum penuhi syarat punya KTP. Tapi KTP satu-satunya bukti identitas diri. Biar bisa menjadi lebih aman dan nyaman menjalani hidup ini, Mbak.

Ya, panggil saja saya, Kasni. Nama yang entah siapa yang memberi. Pak Min atau Mpok Nah? Atau rembukan para orang kampung. Entahlah.

Ingin memanggil dengan lain nama, silahkan saja. Syukur memberi nama aroma bunga. Ya, bunga…. Tapi…….  jangan, ah. Nama-nama bunga, katanya malah jelek bila jadi berita. Itu pasti nama para perempuan yang tengah dihinggapi derita. Seperti di televisi-televisi itu, loh, Mbak…

Umur… Berapa ya? Tanggal lahir-pun tak tahu. Kata orang-orang kampung, ketika mereka menceritakan tentang diri saya, katanya ditemukan menjelang negeri ini gegeran. Pada saat itu orang-orang banyak yang turun ke jalanan. Melakukan demonstrasi, membawa poster-poster. Banyak orang kampung yang juga ikutan turun ke jalanan. Kata mereka, lumayan bisa menjadi liburan, tapi tetap bisa makan. Itu tahun berapa ya, Mbak? Hm.. 1998? Sebelumnya. 1996 atau 1997. Ya, sekitar itulah. Jadi umur saya sekarang…… Ya, 14-15 tahun-lah, Mbak.

Katanya……. Ya katanya lagi, sih, Mbak, karena saya memang gak bisa mengingat dan memang tidak tahu. Saya ditemukan dalam sebuah kardus. Di pinggiran tumpukan sampah, dan sudah sedikit tertimbun pula.

Bayi merah. Tanpa pakaian, hanya tertutupi selimut. Tidak seperti di sinetron-sinetron, tidak ada barang lainnya dalam kardus itu. Ya, seperti gelang atau kalung sebagai pertanda. Siapa tahu kelak menjadi tanda dari anak seorang selebritis atau seorang konglomerat. Ha.ha.h.ah.a. Mimpi kali, ya, Mbak.

Kata mereka, tidak ada kegegeran di kampung. Sudah biasa ditemukan bayi di tempat pembuangan sampah kota itu. Saya adalah sebagian kecil dari bayi yang beruntung. Ditemukan masih hidup. Pak Min dan Mpok Nah yang bersedia mengambil saya untuk dirawat. Warga kampung tidak ada yang menolak. Kabar penemuan bayi ini juga tidak dilaporkan ke polisi. Malah bisa merepotkan ditanya-tanya dan dipanggil menjadi saksi. Lapor ke pemerintah? Lha, wong, tidak ada perangkat di kampung kami. Yang ada adalah ketua paguyuban. Kerjaan rutinnya hanya terima setoran setiap bulan, katanya untuk disetorkan ke banyak pihak.  Biar aman. Biar tidak diganggu preman. Juga biar tidak digusur.

Ya, begitulah Mbak. Saya dirawat oleh Pak Min dan Mpok Nah. Orang yang semula saya kira orangtua saya sendiri. Sampai saya dengar bisik-bisik, sampai akhirnya ada orang kampung yang menceritakan pada saya. Lantas saya tanyakan kepada Mpok Nah.

“Gak usah dipikirin. Apa bedanya kamu anak kandung atau anak pungut? Kita masih diikasih nafas, sudah syukur,’ Mpok Nah santai saja menjawab ketika saya tanya. Waktu itu saya masih kecil sekali. Mungkin lima tahunan-lah. Setelah itu terlupa lagi.

Ya, apa bedanya? Sungguh, saya tidak tahu apakah ada abedanya mereka orangtua kandung atau orangtua angkat yang telah berjasa memungut saya dari sebuah kardus di kawasan tumpukan sampah-sampah?

(bersambung)

______________

Ilustrasi gambar diambil dari SINI

lanjutannya:

  • Kesaksian (2):  Lautan Sampah. Klik di SINI:
  • Kesaksian (3):  Mengais dan Hidup. Klik di SINI
  • Kesaksian (4):
Iklan

8 comments on “Kesaksian (1): Nama Saya Kasni

  1. makin penasaran dengan lanjutannya, mas Odi selalu memberikan akhir yang tak terduga 🙂

    • He.h.eh.e.he. ini mengolah ulang dari tulisan lama, walau penuturannya berbeda… Malah jadi tulisan baru. Akan coba terus dikembangkan, dan semoga saja bisa membangkitkan beragam rasa..
      Terima kasih Asih atas kunjungannya
      Salam hangat selalu dalam semangat berkarya dan bekerja…

  2. Monolog Kasni sangat berkarakter dan kuat.
    Otak saya ‘dipaksa’ Kasni menebak dan penasaran.
    Bagian pertama yang sudah bisa membuat saya ‘lapar’ menunggu kelanjutannya.

  3. Bagaimana kisah Kasni selanjutnya ya?
    Tentu saja saya tidak rela kalau Kasni dikisahkan kayak di sinetron-sinetron hehe

  4. nunggu terusannya hehehe ….

    • Wah, terusnya agak tertunda nih, walau sudah ada beberapa seri yang siap, tapi masih acak-acakan urutannya… heh.e.h.e.he., semoga bisa segera ditata ulang dan berlanjut secara rutin…

      Terima kasih ya Wening…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: