Tinggalkan komentar

Kesaksian (2): Lautan Sampah

KESAKSIAN (2):

 LAUTAN SAMPAH

Jangan membayangkan rumah, seperti rumah-rumah yang Mbak lihat selama ini. Saya yakin pasti Mbak-e tidak pernah memperhatikan atau melongok rumah-rumah petak di pinggiran kali atau di bawah jembatan atau seperti kampung yang saya tempati, di tepian tempat pembuangan sampah. Kalaupun pernah melihat, saya yakin hanya sepintas, tapi saya yakin belum pernah melongok atau memasuki rumah-rumah itu. Begitu kan, Mbak?

Entah siapa yang memulai dan sejak kapan rumah pertama berdiri, saya malah tidak pernah bertanya atau mendapat cerita. Ratusan atau mungkin bisa juga lebih dari seribu rumah dengan ribuan jiwa tinggal di dalam perkampungan ini. Ya, saya tinggal di salah satu rumah yang ada. Rumah di perkampungan yang terbentuk memanjang dan melingkar di pinggiran sekitar lahan pembuangan sampah yang sangat luas. Rumah-rumah yang berhimpit dengan barang-barang bekas bahkan sudah ada sejak jalan masuk ke areal ini, di sisi kanan-kiri jalan.

Rumah-rumah berjejer seperti mainan dengan beragam warna Maklum, orang kampung sangat kreatif. Menggunakan barang-barang bekas untuk bangunan. Dinding dan atap, dari barang bekas. Rumah ”templekan” biasa disebut begitu. Termasuk juga barang-barang di dalamnya, kebanyakan barang bekas. Karpet, alas tidur, kursi. Tapi memang tidak banyak. Lha, memang rumahnya sempit-sempit.

Sampahnya itu, loh, Mbak. Sangat banyak sekali. Lahannya sangat luas, pasti capek kalau kita berkeliling di tepiannya saja. Hamparan seperti lautan, lautan sampah. Bertumpuk sangat tinggi, bagaikan gunung. Ya, rumah-rumah berada di sekitar lautan dan gunung sampah. Bisa terbayang, gak, Mbak?

Truk-truk kuning pengangkut sampah seakan tak habis-habisnya membawa sampah-sampah itu ke tempat ini. Sampah dari rumah-rumah di kota. Wah, luar biasa, ya, mbak. Belanjaannya pasti banyak, sehingga sampah-nya juga banyak. Belum lagi, Mbak, nanti kita bisa menemukan barang-barang bekas yang menurut kita masih bagus, tanpa ada kerusakan. Jadi, orang kota itu kaya-kaya, ya, Mbak? Bosan, lalu dibuang saja, tinggal beli baru lagi.

Puluhan alat-alat berat, hm… itu loh, Mbak, namanya…. bego, ya bego… terus menerus mengeruk, lalu menimbun sampah-sampah. Nah, pas mengeruk, sampah-sampah kan tersebar juga, bisa memudahkan kita mencari sampah-sampah yang bisa dijual.

Ya, Mbak. Di situlah aku sejak umur sekian hari hingga kabur dari sana, menjalani hidup INI. Aku anak sampah. Warga di sana adalah masyarakat sampah.  Sampah dalam arti sebenarnya. Sampah yang menghidupi ribuan jiwa.

(bersambung)

Ilustrasi foto diambil dari SINI

Sortir:

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: