5 Komentar

Cerpen: Anak-anak yang Terjajah Malam

ANAK-ANAK YANG TERJAJAH MALAM

Kolaborasi Odi Shalahuddin & Dianingtyas Kh

Malam telah larut. Hampir menjelang pergantian hari. Orang-orang, para pekerja dan pelajar, tentunya mulai bersiap untuk menuntaskan harinya dengan beranjak ke pembaringan. Atau bahkan sudah mulai terlelap dan bermain dalam mimpi-mimpi.

Tapi di sini. Justru kehidupan barulah dimulai. Walaupun secara resmi dibuka pukul sembilan malam ketika lampu-lampu utama mulai dimatikan, berganti lampu warna-warni yang membuat temaram, dan sesekali berpendar lampu-lampu mengarah kepada panggung dan lantai dansanya, barulah terhitung jam sebelas, para tamu mulai berdatangan.

Aku sendiri, sudah sejak tadi berada di sini. Aku duduk seperti biasanya di kursi putar di barisan bar. Kukira aku adalah pengunjung pertama. Aku datang, para pekerja masih berbenah-benah. Para pemandu satu persatu datang, mengisi tanda-tangan di meja mami Mina dekat pintu masuk, setelah itu bergegas ke kamar belakang berganti pakaian dan berias dulu. Ya, seperti hari-hari sebelumnya. Selalu begitu yang kulihat.

Botol bir di hadapanku telah kosong, isi gelas tinggal sekali tegukan saja. Musik yang mengalun telah berganti irama. Awalnya tadi lagu-lagu yang mendayu, sekarang berganti menjadi lagu-lagu yang menghentak. Beberapa pemandu yang duduk di barisan sofa sebelah Timur, mulai berdiri dan bergoyang. Aku tersenyum saja memandangnya.

Marno, salah satu bartender menghampiriku, meraih botol kosong.

”Tambah lagi, Pak?”

”Bolehlah, satu,”

Aku mengambil sebatang rokok, baru mau menyalahkan, sudah ada korek menyala mendekat ke ujung rokok yang telah terselip di bibirku. Segera aku hisap hingga ujung rokok terbakar. Korek api gas telah mati, tergenggam ke telapak tangan si pemiliknya, yang segera memasukkan ke tas kecilnya.

”Terima kasih Mi. Minum?”

”Ah, jam kerja, tidak boleh minum,”

”Mami curang. Kalau anak buahnya saja, disuruh minum sebanyak-banyaknya kalau menemani tamu,”

”Wah, komentar yang salah. Bisnis bisa rusak kalau begitu,”

”Loh, bagaimana Mi?”

”Kalau bisa tamu minum sebanyak-banyaknya, anak buah mami minum sedikit-dikitnya. Harus tetap waras, jangan sampai mabuk. Kecuali terpaksa. Terpenting bill-nya bisa besar,”

Aku tertawa. Mami tersenyum. Ia memang kelihatan anggun. Cara berdiri, cara berjalan, cara menyalami tamu, sungguh sangat tertata.  Benar. Penampilannya tampak berwibawa. Namun tidak mengurangi sisa-sisa kecantikannya. Eh, sekarang pun masih terlihat cantik. Ketika muda, pasti luar biasa cantiknya. Pernah kulontarkan pernyataan seperti itu, ia hanya tersenyum saja.

Sering aku mengamati bagaimana ia melayani tamu-tamu yang baru datang. Ia sangat lihai menyenangkan para tamu dengan sambutannya yang hangat, bersahabat, tapi tersimpan pula benteng yang tidak rapuh, membuat tamu harus berpikir ulang untuk bersikap kurangajar kepadanya.

“Anak buahnya sekarang makin banyak, Mi,”

”Hm, tidak juga, hanya limapuluh. Hm, maaf ya, mami tinggal,” ia segera bergegas menuju pintu masuk ketika ada serombongan orang datang. Kulihat beberapa wajah yang tampak tak asing. Mencoba mengingat, kurasa bukan kawanku. Oh, ya, beberapa wajah itu memang sering muncul di koran dan televisi. Ada yang anggota dewan terhormat, ada pula pejabat publik yang cukup akrab di masyarakat.

Sebentar mereka duduk di kursi sofa bagian belakang. Mami terlihat bercakap-cakap sejenak. Mereka berdiri lagi, lalu melangkah menuju anak tangga dekat toilet itu. Mami memberi isyarat kepada anak buahnya yang berada di sofa. Tujuh perempuan mengikuti langkah mami bersama rombongan. Ya, mereka menuju lantai dua. Ke ruang karaoke.

Tamu-tamu terus berdatangan. Kursi-kursi hampir terisi semuanya. Belum lagi rombongan-rombongan yang datang dan langsung naik ke lantai dua. Di kursi bar, sudah ada pula pengunjungnya.  Para pemain musik sudah beraksi di atas panggung.

Di barisan pemandu, tinggal beberapa orang saja yang terlihat. Selebihnya telah menyebar ke berbagai kursi. Pakaian yang ketat dan seksi, dalam temaram lampu, dan duduk yang mulai dihimpir para tamu, tentunya akan sangat mudah membangkitkan birahi. Asap rokok yang mengepul, menggumpal, tak seluruhnya sempurna untuk keluar dari putaran penyedot asap sehingga sirkulasi udara terhambat. Mata mulai memedas.

Tiba-tiba mataku terpaku pada sosok di sudut ruangan. Lima orang rombongan di kursi itu, dengan tiga orang perempuan yang mendampinginya. Para lelaki yang haus. Tangan yang nakal. Mungkin juga suara-suaranya penuh rayuan. Sayang tidak terdengar dari sini. Eh… Kok mau menjadi penguping urusan orang saja!

Satu anak perempuan yang menarik perhatianku. Ia tampak canggung. Tubuhnya kecil, ekspresi wajahnya masih terlihat malu dan takut-takut. Terlihat sekali walau dalam temaram. Kutaksir, usianya masih teramat muda. Hampir seumuran dengan adikku yang masih kelas IX.

“Anak baru tuh, Mas. Baru masuk kemarin. Masih tokcer,” Marno tiba-tiba sudah berada di belakangku di balik meja bartende.

”Sstt…” aku memberi isyarat dengan meletakkan telunjuk di bibirku.

Marno tertawa. Aku tahu bahwa ia tahu aku sama sekali tidak tertarik untuk membooking perempuan di sini sebagai kawan ngobrol di meja. Bukan lantaran biayanya yang mahal, soal itu aku mampu untuk membayarnya. Tapi memang aku tidak suka. Berbicara dengan mereka aku sering, tapi bukan dalam rangka membooking. Kebiasaanku berada di cafe ini membuatku telah mengenal banyak orang di sini. Aku menempatkan mereka sebagai kawan ataupun sebagai sahabat.

”Tapi kalau dengar ceritanya sih kasihan, Mas. Dia masih sekolah. Kelas IX. Dieksploitasi orangtuanya sendiri. Diperkosa oleh Bapaknya. Lalu dijual, termasuk ke sini. Tadinya mami menolak lantaran masih anak-anak, berat resikonya. Tapi Bapaknya memaksa dan mengancam. Katanya biar dicoba dulu satu minggu. Ya, dunia malam, Mas… Mengerikan dan banyak kehidupan yang tidak masuk akal, bisa terjadi,”

Aku mendengarkan dengan seksama kisah dari Marno, sambil mata memandang ke arah sosok itu. Terasa ada kegeraman dan kemarahan, manakala melihat seorang tamu merangkul dan memaksanya untuk mencium dirinya.

Kulihat ia berdiri, mendengarkan seorang bicara, lalu pergi meninggalkan meja itu. Ia mendekat ke Marno, berarti ia tepat berdiri di sisiku.

Open bottle, Mas,” katanya sambil menyebutkan salah satu merk minuman.

Ketika ia menoleh ke arahku yang tengah melihat dirinya, ia melemparkan senyumannya. Betul-betul wajah dan senyum seorang anak. Ah. Kejamnya dunia ini.

Pagi telah merangkak. Jam setengah tiga sudah. Hampir tutup. Aku membayar minuman, dan bergegas keluar. Di atas mobil di parkiran, kulihat rombongan keluar. Lima lelaki dan satu perempuan yang telah terlihat sangat mabuk. Perempuan itu, gadis itu, anak itu. Sungguh, aku tidak ingin membayangkan apa yang terjadi ketika perempuan itu mulai masuk ke satu mobil bersama mereka.

_________

Foto ilustrasi diambil dari SINI

Iklan

5 comments on “Cerpen: Anak-anak yang Terjajah Malam

  1. Whaowww… Cerpen yg sangat menarik, dengan pemilihan tema yang, mungkin bisa dibilang cukup hangat untuk jaman sekarang. Bahkan orang tua sendiri rela melakukan itu ya..
    Aku juga tidak berani membayangkan apa yg terjadi selanjutnya setelah si anak masuk ke mobil..

  2. hallo bang Odi, sarapan kedua saya kali ini membuat saya tersedak dan bertanya dalam hati :Kisah semacam itu apa memang benar-benar ada atau khayal abang saja

    • Tentu saja namanya karya fiksi, cerpen ini hanya sekedar imajinasi. Sepenggal realita yang tertangkap. Pada kenyataan sesungguhnya pastilah lebih menyedihkan nasib anak-anak pada dunia malam… Salam hangat Bintangrina..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: