6 Komentar

Ingin Jadi Guru

INGIN JADI GURU

Odi Shalahuddin

Aku selalu teringat dengan seorang guruku kala SD. Bu Enong, demikian kami memanggilnya. Guru di SD Cipinang Cempedak 04 pagi di daerah Pedati, Jakarta Timur. Saya tidak tahu apakah dia masih mengajar atau sudah pensiun. Semoga saja dia masih sehat. Maklum, sudah 30 tahun lebih masa-masa itu.

Sejak aku kelas empat, Bu Enong selalu memperhatikan murid-muridnya. Ia akan melakukan test dengan pertanyaan-pertanyaan guna mengetahui sejauh mana murid-muridnya bisa menyerap pelajaran yang diberikan.

Ketika bel berdentang tanda pulang. Bu Enong akan mengumumkan nama-nama yang harus tinggal di kelas. Setelah memberi waktu istirahat sebentar, nama-nama yang dipanggil akan mengulang pelajaran yang tadi diberikan.

Setiap hari, nama-nama selalu berganti. Seingatku, aku pernah beberapa kali mengikuti pelajaran tambahan darinya. Tidak ada rasa malu, justru bila mengingatnya yang muncul adalah rasa haru. Demikian juga yang dialami oleh kawan-kawanku.

Tiga adikku yang bersekolah sama. Menceritakan hal serupa.

Bu Enong kemudian menjadi sosok yang melekat dalam diriku. Pengabdiannya kuanggap total sebagai pendidik, ia memberikan pelajaran tambahan bagi anak-anak yang membutuhkan (tanpa memungut bayaran), , ia sering berkomunikasi dengan para orangtua kami, mengajak berdiskusi tentang perkembangan anak didik di sekolah dan juga menanyakan situasi kami, murid-muridnya bila di rumah.  Para orangtua menjadi dekat dan bisa mengikuti perkembangan anaknya, serta bisa mengambil langkah-langkah yang tepat ketika anak-anaknya di rumah.

Lantaran Bu Enong, sejak kecil aku memiliki cita-cita ingin menjadi guru. Cita-cita yang masih bertahan sampai aku duduk di bangku SMA. Aku menganggap guru sebagai sosok yang mulia, menjadi sosok yang mencerdaskan anak-anak bangsa. Anak didiknya bisa menjadi apa saja, sedang guru tetap seperti sedia kala.

Walaupun tidak menjadi guru secara formal, sejak SMP aku mengorganisir kawan-kawan sekolah untuk mendirikan teater. Kami berlatih diri, dengan metode-metode yang kuingat ketika kecil turut terlibat dalam pementasan teater. Setelah itu ada bantuan untuk mendatangkan guru-guru yang memang bergelut dalam dunia teater seperti Simon Hate (anggota teater Dinasti yang kemudian mendirikan Kelompok Teater Rakyat Indonesia) dan Joko Kamto (anggota teater Dinasti juga yang sekarang menjadi pasukan Kiai Kanjeng), dan juga Warsito, yang walau tidak punya latar belakang teater, tapi belajar banyak tentang metode-metode teater rakyat dan mempraktikkan pada kami. Belajar dari mereka, akhirnya aku dipercaya untuk memfasilitasi beberapa kelompok teater di pedesaan di DIY dan Jawa Tengah.

Waktu berjalan. Akhirnya berkenalan dengan konsep dan metode pendidikan alternatif (yang mana sebenarnya juga sudah diterafkan dalam teater yang aku ikuti dan turut mengembangkannya). Aku akhirnya berkenalan dengan nama Paulo Fraire dan Ivan Illich (dua nama yang pemikirannya merasuk pada aktivis 70-80-an yang kemudian mencoba membangun perlawanan dengan mengembangan sistem dan metode pendidikan yang berbeda dari sistem negara), Ross Kid (tokoh teater rakyat), dan banyak nama lagi.

Tapi jujur kuakui, tidak tuntas belajar tentang pemikiran mereka. Seorang kawan yang banyak mempengaruhi hidupku, selalu menyatakan: ”Tidak perlu membaca… Pengalaman kita adalah pelajaran berharga,”. Akhirnya aku memang menjadi pemalas dan enggan untuk membaca. Orang yang sama ketika berjumpa lagi saat aku mahasiswa menyatakan, ”Kita harus banyak membaca,” Nah, sudah terlanjur malas membaca, jadi susah untuk membangkitkan kembali. Beruntung aku berkawan dengan seseorang yang memaksaku untuk banyak membaca walau untuk tema yang aku geluti hingga kini, yaitu isu/persoalan anak.

Kuliah tidak selesai, terlalu banyak kegiatan di luar. Cuti, bablas hingga kini. Tak pernah kembali lagi.

Aku bersentuhan lagi dengan kawan-kawan, yang memiliki motto penyemangat dengan mengutip Ki Hajar Dewantara. ”Semua orang itu adalah guru, semua tempat adalah sekolah”. Seorang kawan, membuat lagu yang menjadi penyemangat, dan kami tularkan terus menerus.  Judulnya ”sama-sama”

Belajar sama-sama
Bertanya sama-sama
Kerjasama sama

Semua orang itu guru
Alam raya sekolahku
Sejahterahlah bangsaku

Sebuah himpunan yang menamakan dirinya Perguruan Rakyat Merdeka, menggunakan lagu itu dalam setiap pertemuan, juga menuliskan dalam email dan mailing-list mereka.

Semua orang itu guru. Dengan kesadaran demikian, maka aku banyak belajar dari orang-orang, siapapun dia. Karena masing-masing orang tentulah punya ilmu yang tidak kita ketahui. Petani, tentu lebih banyak tahu bagaimana alam dan waktu yang tepat untuk menanam jenis tanaman tertentu. Nelayan, tentulah tahu membaca langit, memetakan bintang-bintang, untuk tahu arah, dan kemungkinan bahaya yang mengancam. Dan juga padamu, semua yang senantiasa berbagi melalui tulisan,  tentulah tulisan-tulisan yang diposting atau komentar-komentar yang tertorehkan di berbagai lapak, banyak yang mencerahkan. Dari mereka aku banyak belajar, karena mereka kuanggap sebagai para guru. Mungkin orang lain berpandangan sama, menganggapku sebagai guru. Kita semua adalah guru.

Selayaknyalah kita mengucapkan selamat dan penghargaan kepada para guru.  Pengabdian menjadi guru adalah mulia. Ilmu yang diberikan akan berguna dan melekat dalam diri manusia selama hidupnya. Kalian adalah pahlawan-pahlawan tanpa tanda jasa.

Tapi, aku bertanya: Mengapa ruang-ruang guru menjadi ruang pengajar. Hal yang sama ruang dosen juga menjadi ruang pengajar. Guru mendidik dan guru mengajar, tentulah berbeda maknanya. Sebagai pengajar, ketika usai mengajar dan bergegas untuk mengajar ke tempat lain, memang sah adanya. Tapi akan kehilangan makna sebagai pendidik. Hal ini bukan sekedar istilah atau kata belaka. Namun mengandung makna yang pengejewantahannya juga berbeda.

Tapi, sekali lagi kuucapkan sapa: Senantiasa semangatlah para guru, sejahteralah dirimu…. Selalu….

_______

Ilustrasi dari SINI

Iklan

6 comments on “Ingin Jadi Guru

  1. Senantiasa semangatlah para guru, sejahterakan dirimu…. Selalu….

  2. Pernah nyoba mengajar di tempat les bahasa, ternyata saya tidak cocok hehe

  3. Saya juga suatu hari ingin jadi guru…semoga bisa tercapai, hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: