1 Komentar

Aku Gagap Bilang Cinta

AKU GAGAP BILANG CINTA

 Odi Shalahuddin

Aku tahu, sikapku tentu menjengkelkan dirimu. Tidak hanya untuk setahun-dua tahun, tapi lebih dari 20 tahun sejak kali pertama kita bertemu. Aku bisa memahami, bila saja muncul keraguan-keraguan dalam hatimu. Lebih dari itu, pun aku bisa memahami bila terlahir prasangka-prasangka, dan perbincangan akhirnya menjadi pertengkaran.

Pertengkaran itu biasa dalam suatu hubungan, demikian banyak orang berpandangan. Pertengkaran adalah bumbu kehidupan, seperti sayur tanpa garam. Pertengkaran hampir senada dengan mimpi-mimpi yang bertebaran, yang biasa kita sebut sebagai kembang tidur. (Walau ada yang berpandangan bahkan berkeyakinan pula bahwa itu merupakan isyarat atau pertanda yang diberikan akan terjadinya sesuatu. Keyakinan yang bisa merujukkan misalnya pada primbon-primbon). Jadi, begitulah, tentang pertengkaran. Begitulah suatu hubungan. Begitulah kira-kira tentang yang terjadi pada diriku, atas sikapku, dan respon yang pernah terjadi.

Aku sungguh-sungguh menyadari bahwa aku bukanlah orang yang mudah merangkai kata-kata indah yang mampu membuai dan menerbangkan dirimu memasuki kekayaan dunia imajinasi, membangun dan menciptakan berjuta mimpi dan harapan. Sungguh, aku menyadari itu. Aku menyadari bahwa aku bukanlah tipe orang yang romantis yang mampu merencanakan dan membangun suasana. Apalagi membuat kejutan-kejutan tak terduga. Tentu kau tahu, bahwa itu benar-benar tidak pernah kau alami. Sebagaimana tontonan sinetron-sinetron ataupun film-film drama.

Semua mengalir begitu saja. Kita bertemu, saling mencuri pandang, dan merasa malu untuk bisa saling bersapa. Ya, begitulah yang kuingat tatkala pertama kali kita berjumpa. Kita latihan teater untuk pementasan acara 17-an di desamu. Pementasan pertama dan juga yang terakhir lantaran tema yang dibawakan mengenai dampak revolusi hijau terhadap para petani dianggap mengganggu stabilitas desamu. Setelah itu, latihan-latihan teater-pun berhenti.

Lama tak bertemu. Suprise! Ketika tiba-tiba kau bersama kawanmu singgah. Lalu kau ditinggal kawanmu sendirian. Dan hanya kita berdua. Berbasa-basi, saling mencari kata-kata untuk mempertahankan komunikasi memperpanjang waktu pertemuan ini. Setelah itu, kita merasa menjadi sepasang kekasih. Tanpa ada kata-kata cinta yang terucap. Tanpa ada janji-janji yang  disepakati. Ya, semua mengalir. Mengalir begitu saja.

Aku benar-benar tidak romantis. Bahkan boleh dikata sangat egois. Puisi pertama yang kubuat untuk dirimu, Pada Tengah Malam sama sekali bukan puisi cinta. Bukan puisi untuk kita berdua. Tapi lebih pada kegelisahan-kegelisahan yang kualami. Aku berkutat pada kehidupanku sendiri. Benar-benar sangat EGOIS!

PADA TENGAH MALAM

: Bagi Sri

Entah mengapa harus tengah malam, beragam bayang bangkitkan kegelisahan.Kamar kosong bisu mencekam mencengkram, tergolek tiada daya aku telentang. pikirku berlari siapkan pemberontakan. tiada daya aku terkulai. jadi pesakitan, kunikmati semuanya. hitam-putih hantarkan maya. kudapati akau dimana-mana penuhi ruang, gerakkan nestapa. kudapati aku mengelesot di jalan menjilati kotoran. kudapati aku berpacu dengan asap-asap motor langkai waktu. kudapati aku mengantuk menggantung pada jalan layang tengah kota. kudapati aku bersenyawa pada slogan-slogan dan papan iklan. kudapati aku berdiri kaku pada sebuah menara.

Hirukpikuk dan hening berbau darah, amis, memuntahkan keranda. hai, siapakah aku, lewatkan keperian dan tersayatnya hati gerak awan, berputar, pekat, tak tampak matahari, terasa panas membakar tubuh-tubuhnya-tubuh yang terpecah bercecer sepanjang sungai-sungai hitam. langkah kaki kecil ragu mengucil terasing dari suara burung-burung gagak yang terus membangunkan kota sebelum hancur karena dosa-dosanya tertimbun berabad-abad lamanya sebagai tempat pembantaian ribuan nyawa bagi pertarungan tak berkesudahan.

Bisik-bisik malam, tetes sisa hujan sore tadi gemerincing lonceng, semuanya memainkan irama menyejukkan hati. namun tiba-tiba bising mengetuk-ngetuk darah, nanah, yang lantar berlari ke segala arah, menyerobot paksa keluar lewat pori-pori.

Duniapun mati suri, henti sejenak, kudapati aku berada pada keterasingan. membangun kekosongan, kabut datang, terpenjara aku di dalamnya. dimana aku sekarang? ruang dan waktu kosong. terkulai, kembali dalam kamar, khayalku mimpi buruk, entah kenapa, siapa salah, takdirkah?

Aku berbaring, terkulai, tiada daya, masih di kamar, masih di kamar, masih di kamar, sungguh!! Sungguh-sungguh, aku masih di sini.

Dzikir alam, dzikir semesta, masih?

(1991)

Setelah itu, janji yang kita buat adalah janji suci, mengikatkan diri dalam sebuah perkawinan yang kini telah berlangsung hampir 17 tahun. Hingga kehidupan kita ditemani oleh dua anak yang sekarang telah tumbuh menjadi remaja. Kita tetap bersama.

Puisi kedua buatmu. Juga tak nyatakan cinta.

TETAPKAN

:Bagi Sri

gemetarnya waktu yang mendera
secara perlahan memakan usia
dan ini masa
kita tentulah belum merasa tua
kendati tak ingkari tak lagi muda

tak terasa
lima belas tahun sudah bersama
jaga api tetap menyala pada batasnya
hingga kehidupan tetap bercahaya
meredup namun tak padam
senantiasa taklukkan rasa kelam

Perjalanan, masih terbentang
sampai titik mana, entah,
kita tak kuasa menguaknya
mari tetap bergandeng tangan
berjalan, dan berjalan
dengan rencana-rencana yang telah tergelar
kekuatan hati, kekuatan dashyat
untuk taklukkan berbagai persoalan

3 Juli 2009

Sepanjang kehidupan kita bersama, aku sama sekali belum pernah bilang cinta kepada dirimu. Keyakinan-ku, cinta tak perlu diucapkan, tapi sikap dan tindakan bisa menentukan sejauh mana kita bisa membangun bahtera rumah tangga ini. Hal inilah yang mungkin menggelisahkan dirimu. Bujukanmu agar aku mengatakan ”cinta” selalu kujawab dengan senyum. Membuatmu cemberut terkadang marah. Sampai mungkin kau bosan dengan permintaanmu. Berubah permintaan, pertanyaan tentang kerinduan, apakah pernah kurasa, itupun selalu juga terabaikan. Oh, mungkin baru tahun ini, memasuki tahun ke 17. Beberapa kali kuucapkan itu melalui sms-sms. Menyambut sms kerinduanmu. Yang kau sambut, ”apakah rasa rindu juga harus dipinta?”

Ah, istriku, maaf aku gagap mengucap kata cinta. Tapi percayalah, aku tetap akan setia, sebagaimana kesetianmu selama ini. Mengarungi kehidupan dalam suka maupun duka. Sebenarnya kita sudah membuktikan, tiada pertengkaran hebat yang berlarut. Bukankah itu bukti tentang kuatnya hubungan kita?

Maaf, maafkan aku. Tak pernah mengucap kata cinta padamu. Sebagaimana puisiku yang ketiga untuk dirimu: Maaf.

MAAF

:Bagi istriku

20 tahun jalan bersama
sejak awal pengakuan
menempuh perjalanan
tak tahu kapan dan dimana
berakhir

ikatan terjalin
mencumbui hari-hari
semakin sempurna
telah terlahir
anak-anak kita

Pada titik ini
membuka rekaman
dan kutahu
ku tak pernah merayu
apalagi memujamu

Sungguh
tak berani kukatakan
kau bagaikan bintang
karena kutahu itu tak kan teraih
tak berani kukatakan
kau bagaikan matahari,
karena kutahu
panasnya tak sanggup tertahan
tak berani kukatakan
kau bagaikan bulan
karena kutahu
cahayanya hanya bayang
tak berani kukatakan
kau bunga aku adalah kumbang
karena aku terlalu bodoh
untuk menghayati diri sebagai bunga dan kumbang

Padamu,
kulihat hanya dirimu
bukan membangun bayang
seperti apa dan siapa
untuk itulah aku mencinta

Maafkan aku istriku,
bila aku tak mampu membangun imajinasimu
tentang keindahan cinta
hidup menjadi biasa-biasa saja
dan tak salah bila tumbuh prasangka
memang aku tak pernah sempurna
tapi yakinlah…

Suatu hari kau pernah berkata:
“keyakinan dibangun
dari mata dan rasa
Sesekali berkatalah
biar kutahu…”
pinta sederhana
tak terpenuhi pula

Pada sisi lain
terlalu banyak salah terbaca
dan kau-pun ringan memaafkannya

semakin sempurnalah
ketidaksempurnaanku

Maafkan,
maafkan aku
istriku…

(Yogyakarta, 4 Oktober 2009)

Dan, untuk saat ini, aku belum mampu lagi menulis puisi buat dirimu. Aku mencoba belajar mengucap kata cinta dalam puisi yang kurencanakan kutujukan pada dirimu. Selalu saja aku terhempas, tak mampu menciptakannya. Bisa lebih konyol dari orang-orang muda yang tengah mengalami cinta monyet.

Maafkan aku istriku, bila kata “cinta tak pernah terucap. Tapi percayalah, aku mencoba yang terbaik bagi kehidupan kita bersama, dengan anak-anak. Dan menjelang hari baik ini, aku mengucapkan dengan tulus: Mohon maaf lahir dan batin.

Yogyakarta, 9 September 2010

One comment on “Aku Gagap Bilang Cinta

  1. Romantis e kak odi xixixiixixii

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: