Tinggalkan komentar

Cerpen: Segelas Jus Mangga

SEGELAS JUS MANGGA

Kolaborasi Elly Suryani, Rahma Wita dan Odi Shalahuddin

”Siang bu? Ini pesanan ibu. Apa ngak da yang lain”? Ujang tak pernah bosan bertanya, setiap siang, setiap hari walaupun selalu mendapat jawaban yang sama.

Tetapi tampaknya ia sama sekali tak pernah lupa untuk menghantarkan segelas jus ke ruangan perempuan yang telah menjadi bosnya bertahun-tahun itu setiap siang, setiap hari, di luar hari libur. Ia sama sekali tidak pernah bertanya mengapa harus jus itu yang menjadi pilihan. Ia hanya bertanya tentang pilihan lain. Sebenarnya, aku pikir-pikir, pintar juga si Ujang.

Sebuah benda langsing, transparan menggoda dengan warna kuning dan siluet coklat meliuk indah di sepanjang lekuknya. Hmmmmm….siapapun yang memandangnya di terik matahari 12.00 siang pasti akan tergoda.

Perempuan itu tersenyum. Seolah menikmati sensasi seksi sang penggoda. Semantara objek yang diamatinya sejak 10 menit yang lalu mulai berkeringat salah tingkah dan tidak sabar untuk diraih. Bukankah pesonanya yang ”All out” tidak layak untuk diabaikan.

Perempuan itu beranjak menuju ke jendela kaca di belakang meja kerjanya. Disingkapnya tirai yang melindungi ruangan itu dari tempias matahari siang. Ia kembali meraih gelas yang telah basah. Ia kembali mendekatkan diri ke jendela. Ia sempatkan diri memandang ke luar. Memandang teriknya matahari yang tajam. Seakan hendak menguliti aspal-aspal jalanan. Kendaraan yang berderet jalan tersendat.

Ah, jam makan siang. Heran perempuan itu ketika berpikir tentang pikiran orang-orang. Lho? Kok bisa memikirkan pikiran orang yang orang lain belum bisa merasakannya?

Ah, bukan itu. Tapi tindakan. Tindakan mereka selepas jam 12. Mereka seakan berlomba-lomba untuk keluar dari kantor, mencari tempat makan. Katanya sih begitu alasan yang sering dikemukakan. Ini dilakukan oleh jutaan orang. Maka tak mengherankan bila di siang hari bolong, jalan-jalan Jakarta akan dipenuhi kendaraan yang merambat atau kadang macet total.

Bodoh! Orang-orang bodoh yang melakukan hal itu. Bukankah di setiap gedung perkantoran selalu tersedia restaurant atau rumah makan? Bila dianggap terlalu mahal, biasanya di jalan-jalan pinggiran di belakang perkantoran sudah berhimpitan tempat-tempat orang berjualan. Mengapa harus pergi jauh-jauh? Dasar bodoh!

Ah, perempuan itu tersenyum sendiri. Benar-benar tersenyum. Wajahnya lucu sekali. Merona. Ada apa?

Perempuan itu teringat kisah dari kawan-kawannya. Sebenarnya orang-orang Jakarta, berlomba ke luar kantor menyeruak ke berbagai ruang, bukan sekedar makan pelepas lapar di perut. Tapi juga lapar nafsu!

Benarkah? Entah. Tapi kawan-kawannya asyik saja bercerita. Bukan tentang siapa-siapa . Tapi tentang dirinya sendiri yang melakukan. ”Orang yang terkungkung pikirannya menganggap bercinta harus malam hari,” seorang kawannya menggoda.

””Fantastis, luar biasa. Cobalah tengok kanan-kiri, siapa tahu ada juga yang lagi tengok-tengok.. Ha.h.ah.ah.ah.a.,” kawan lain seorang manager perusahan alat kecantikan yang tengah berkembang pesat berbisik di telinga perempuan itu.

Ia menyeruput isi dalam gelas melalui pipet warna putih yang tertekuk. Ia memenikmati lembut serat dingin di dalamnya menjalar melewati kerongkongannya yang segera berterima kasih atas anugrah siang itu. Pikirannya masih saja menjelajah berbagai ruang. Tanpa sadar, ia telah menggigit-gigit pipet itu hingga gepeng.

Menutup kembali tirai, kembali duduk di kursi. Rasanya cepat sekali. Tak terasa. Baru seteguk sudah lenyap. Ah….. Demikian cepat isi gelas terkuras habis.

Ponsel di saku kanannya bergetar. Perempuan itu kaget, tapi ia tak mengacuhkannya. Ia merasa rindu pada segelas Jus mangga. Sayang sudah tak berbekas. Bisa saja ia memencet tombol, meminta Ujang datang kembali. Meminta satu gelas lagi. Tapi apa nanti kata si Ujang?

Ah, ia pasti tak pernah merasakan, satu keindahan menikmati kesegaran dengan bayang-bayang yang melintas dalam kepala di siang hari.

Kedua kalinya getaran itu kembali terasa. Perempuan itu tak bergeming. Ini jam istirahat, tak ada yang berhak menggangguku. Kalau urusan penting pasti nanti ditelpon lagi. Batinnya. Dan dia melanjutkan menikmati kesegaran di siang itu. Entah berapa kali hp di sakunya bergetar, dia tak peduli. Di pikirannya, ia hanya membayangkan gelas kosong itu akan berisi lagi jus mangga.

”Ah, segar,” desahnya singkat sambil meletakkan gelas.

Kini, perempuan itu menatap gelas jus mangga yang memang benar-benar sudah tandas. Tiba-tiba ia teringat ponsel yang tadi bergetar tanda seseorang sedang memerlukannya. Diraihnya benda tipis munggil itu dari saku blezernya. Pada layar ponsel ada tulisan “3 missed call”. Hah, suaranya meninggi demi melihat nama sang penelpon. Segera saja tangannya memutar tombol call,

“Ya, ada apa mas…?”

“Kamu kemana aja…!?” sahutan yang terdengar marah didengarnya

“Sedang ke kamar kecil tadi…, ada apa..?”

“Cepat pulang, Didi diserempet mobil tadi”

Perempuan itu terhenyak, lunglai. Sesaat dia tak mampu berfikir. Didi, putra semata wayangnya, diserempet mobil. Tak sanggup lagi dia berkata-kata. Ponsel itu segera dimasukkannnya ke dalam tas. Iapun bergegas pulang. Ya, hidup, dalam hitungan detikpun tak bisa diduga. Betapa mahal harga kenikmatan sesapan segelas jus mangga tadi.

_____________

Foto Ilustrasi diambil dari SINI

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: