1 Komentar

Cerpen: Sebab Kau Embun, Maka Aku Ingin Mencintaimu Dengan Sederhana

SEBAB KAU EMBUN, MAKA AKU INGIN MENCINTAIMU DENGAN SEDERHANA

Kolaborasi Elly Suryani & Odi Shalahuddin

 

Pagi. Setetes embun yang terjatuh dari sebuah daun. Masih tersisa beberapa tetes lainnya. Sebelum berakhir, sebelum matahari menaik dan menyerap lewat panasnya, teramat sayang untuk dibiarkan. Butiran-butiran embun bagaikan kristal dengan ruang penuh imajinasi di dalamnya.

Warna kemerahan sudah terlihat di bagian Timur. Tubuh bukit mulai menampak. Kabut yang perlahan menurun dan menghilang. Awan putih di langit. Cerah sekali. Pada ruang kosongnya, menembus ke langit biru.

Ini hari Sabtu. Entah tanggal berapa. Tapi pastilah hari ini, ketika janji siap untuk ditepati. Dari goresan tiap kata yang terlahir, dari awal perkenalan, hingga pada akhirnya kata-kata mengalir, menjadi ruang penyejuk dalam jiwa. Memainkan imajinasi dan rasa. Kosong dan menyiksa, bila dalam perjalanan hari, tiada kata tersapa. Darinya.

Perempuan itu telah siap. Telah keluar dari rumahnya yang mungil. Masih berdiri di pagar rumah. Menanti taksi yang segera menjemputnya. Tidak banyak barang bawaannya. Hanya sebuah travel bag. Cukuplah. Cukup aneh pula sebenarnya bagi seorang perempuan yang biasanya membawa dua tas besar-pun masih terasa kurang.

Menunggu taksi datang, ia keluarkan handphone tuanya. Terbuka memopad, matanya seksama memandangi kata-kata yang mulai tereja dari sela bibirnya yang mungil. Tak perlu mengeja seperti anak sekolah, tapi ia merasa lebih mantap mengeja. Menggerakkan bibir, seakan menggerakkan seluruh energi bahagianya.

Aku merindukanmu dengan segala rupa hari ketika pagi, siang dan malamnya.
Maka siapakah yag bisa menghalangi gelora cinta bila ia telah membuih hingga samudera kehilangan buihnya, haha. Tak ada. Tidak kau, dia, atau siapa saja. Kecuali oleh mereka yang tak menerima rasanya.

Sebab sederhana itu meringankan, maka aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Sebab embun itu sederhana, bening, juga menyejukkan maka kita jadikan cinta kita embun. Sebab kau embun, maka ingin mencintaimu dengan sederhana. 

Ya, itulah kata-kata yang terlontar dari seorang lelaki. Disampaikan semalam. Ia simpan dalam dekapan. Dan tentu saja tersimpan dalam HP tuanya.

Hampir setahun tampaknya, namun telah bertahun terasa mengenalnya. Pengembaraan jiwanya bertahun telah merasa menemukan dermaga untuk melabuhkan dirinya. Bagaimanakah rupa sang lelaki itu? Benarkah sosok-sosok yang ditampilkannya lewat foto-foto ataupun lewat webcam? Apakah kata-katanya patut dipercaya? Jangan-jangan ia sudah beristri? Jangan-jangan telah memiliki beberapa anak? Ah, ia sisihkan segala keraguan di saat pertemuan tinggallah menunggu hitungan jam. Ia harus menanamkan kepercayaan. Jangan lagi muncul keraguan. Torehan kata-kata setiap harinya telah melekat di dalam kepala, di dalam hati, menjadi kesatuan dalam dirinya.

Perempuan itu membuka rekaman kata-katanya ketika menjawab kata-kata lelaki itu: 

Kukatakan padamu, kelak sinar mentari akan kita nikmati bersama
sembari kita minum kopi dan saling memeluk bahu
sebab samudra tak cukup luas tuk pisahkan kita
sebab langit kita sama dan angin selalu mempertemukan jiwa kita kemanapun kita mengembara 

Kukatakan padamu, kelak kita akan berdiri bersisian
sembari kita memandang hujan teteskan rintiknya
sebab kau dan aku saling mengukir nama di jiwa-jiwa kita
dan kurasakan sehelai daun jatuh ke bumi di tempatmu saat kau hembuskan namaku padanya

Ya, lelaki itu. Lelaki yang kelak akan menjadi tumpahan segala rasa di mana ia akan serahkan segala-galanya, termasuk mengarungi perjalanan hidup yang beraneka. Ia merasa telah siap.

* * *

Di belahan bumi yang lain. Di sebrang samudra. Pada saat yang sama, seorang lelaki muda, masih berada di pembaringannya. Ia menatap langit-langit. Tetap tak berubah sejak ia menempati kamar ini. Namun bayangannya menembus langit-langit, membayangkan seorang perempuan muda, yang baru saja mengirimkan sms kepadanya. ”Sayang, aku telah berangkat. Telah tiba di bandara. Siap mengangkasa, bermain dan berloncatan di awan. Ah, seandainya saja perjalanan ini bersama dirimu, tentulah bahagia rasanya. Tunggulah aku, segera tiba”

Ia melirik jam weker di samping tempat tidurnya. ”Ah, masih lima-enam jam lagi,” Kembali matanya menatap ke atas, memandang langit-langit. Menembusnya kembali melewati lorong waktu untuk menyibak berbagai peristiwa perbincangan melalui layar monitor. Kata-kata yang mengalir jernih di anak sungai dengan ketinggian yang tidak pernah melebihi batas sungai. Sosok penuh senyum yang terlempar ribuan kilometer yang hingga di kamar ini. Atau melalui sms ke handphonenya.

Dunia kamar telah mempertemukan dua insan yang berjauhan jaraknya menjadi tidak lebih dari 30 cm dari pandangan mata. Pertemuan yang diawali dari sebuah blog keroyokan, ketika perempuan itu hadir dengan sebuah puisinya yang menyisakan kegetiran bagi pembacanya. Ah, ia torehkan komentar. Berbalas. Saling berbalas. Seperti chatting rasanya. Ah, gak perduli dengan pembaca yang lain, akhirnya lebih dari 100 komentar tertera. Hanya mereka berdua. Ingin rasanya tertawa merasakan kegilaan semacam itu.

Berlanjut pesan lewat  inbox. Add di jejaring sosial Facebook. Chatting. YM. Skype. HP. Tak ada alat komunikasi murah yang tidak tergunakan. Wah, luar biasa teknologi ini. Membuat dunia tanpa batas. Terbentang sepanjang samudra, gunung, bukit, danau, sungai, hutan. Tak perlu paspor dan biaya mahal. Tidak lebih dari dari 10,000 yang bisa terpuaskan untuk berkomunikasi.

Ah, terima kasih kepada Cooke dan Wheatstone yang telah menemukan telegram pada tahun 1836. Terima kasih pada Alexander Graham Bell yang telah menemukan telpon pada tahun 1876. Berawal dari penemuan keduanya, revolusi komunikasi telah dimulai. Apalagi pada saat perang dingin antara Uni Sovyet dan Amerika. Amerika yang merasa kebakaran jenggot (walaupun tak punya jenggot) lantaran Uni Soviet dengan mulus berhasil meluncurkan Spuniknya ke angkasa. Membuat ambisi Amerika mengembangkan research habis-habisan yang pada akhirnya melahirkan komunikasi internet yang luar biasa bergunanya bagi manusia.

Ya, seperti lelaki dan perempuan ini. Tiada hambatan berarti dalam komunikasi. Kecuali mati listrik. Bisa menjadi seperti neraka. Aarrrrrgggghhh…

Lelaki itu teringat, perjumpaan awal di akhir Juni. Pada saat itu, ia teringat dengan sebuah puisi yang juga sudah dilantunkan menjadi lagu yang bisa menyentuh dan memainkan irama hati. Puisi yang sering lekat dalam surat-surat undangan pernikahan. Ya, itulah puisi Sapardi Djoko Damono: Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api
Yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat diucapkan
Awan kepada hujan
Yang menjadikannya tiada

Ah, kini telah kembali ke bulan Juni. Hampir genap setahun. Kembali ia teringat sebuah puisi Sapardi Djoko Damono pula. Hujan Bulan Juni.

Walau tiada hujan yang turun bulan ini, tapi terasa indah sekali untuk membaca dan mendengarkan lantunan irama lagunya. Lelaki itu bangkit, menyalahkan laptopnya, membuka file lagu-lagunya, dan terdengarlah suara Reda Gaudiamo dan Ari Malibu.

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

* * *

Perempuan itu duduk di dekat jendela. Matanya bebas memandang awan-awan dengan bangunan yang beragam. Ia seakan melihat sebuah istana awan. Berpakaian putih-putih bagaikan putri dari khayangan, diiringi para dayang melangkah pelan mengililingi tembok istana. Kolam awan, sesekali beriak. Iseng ia mengambil segenggam awan, melemparkannya ke udara. Memandang kemana akan terjatuh. Mengulang. Wajah berseri-seri. Para dayang mengikuti tingkah sang putri. Mereka melempar awan, melayang-layang dipermainkan angin, dan jatuh berserakan tidak mengarah ke mana lemparan tertuju. Mereka tampak tertawa-tawa. Sang putri iseng melempar awan ke tubuh salah satu dayang. Dayang yang lain mengikuti. Satu sama lain kemudian saling melempar awan. Tiada peduli panas yang semakin terik. Atap langit, matahari terbuka. Tapi tetap saja keluar tawa bahagia.

”Ah” teringat perempuan itu. Sebelum boarding ia menuliskan kata-kata yang akan diucapkannya nanti kepada sang lelaki.

* * *

Hamparan padang rumput nan hijau. Dua kuda putih berlari kecil. Lelaki. Perempuan. Mereka melepas matahari yang hampir terjatuh. Angin semilir memainkan dedaunan yang telah runtuh dari batangnya.  Bunga-bunga rumput bergoyang-goyang.

Di atas bukit. Mereka berhenti. Turun dari kuda. Menyaksikan lekuk tubuh perbukitan yang menari. Mereka saling menggenggam tangan dan memainkan jemari. Mata mereka lepas ke depan. Tiada kata. Hening dalam irama desir angin yang lewat di telinga.

Lelaki itu teringat, tentang bait-bait menjelang ketetapan. Sang perempuan melemparkan kesah kepadanya:

Sebab kita tak punya pilihan lain. Sebab kita tak bisa menikah karena kita berbeda. Sebab kau tak ingin aku memeluk agamamu hanya karena ingin menikah denganmu. Sebab aku tak ingin kau memeluk agamaku hanya karena ingin menikah denganku. Sebab aku tak ingin melakukan dosa saat berdekatan denganmu dengan rasa rindu yang menyesakkan ini…..

Ah, setelah berulang kali kata bersambut, mereka pada akhirnya tiba pada keyakinan bahwa mereka saling mencinta walau tak pernah berjumpa, kecuali di dunia maya. Tapi apa lagikah yang bisa dipercaya pada ini masa? Keyakinan, itulah yang terdalam harus tergenggam. Keduanya merasa sangat yakin. Menjadi kekuatan batin.

Mereka masih saja terdiam. Angin mengeras. Memainkan rambut perempuan yang lepas dari ikatan. Terlempar ke depan, menutupi wajah. Sang lelaki menyingkapnya. Pandangan mata beradu. Tak ingin mengelak. Perlahan terpejam bersamaan dengan wajah yang saling mendekat.

Angin makin kencang menjelma badai. Kuda berlari menjauh. Hujanpun turun dengan derasnya. Tergesa mereka berlari, mencari tempat untuk berteduh entah di mana. Perempuan tiba-tiba terpeleset, jatuh ke bibir jurang. Beruntung cepat tertangkap sang lelaki. Hujan menderas. Jalan licin. Sang lelaki merasa turut terjatuh.

Ia membuka mata. Masih di kamar. Dilihat jam weker. Ah, tinggal satu jam. Ia segera bangkit. Menghambur ke kamar mandi. Pasti terlambat lantaran perjalanan tidak bisa diprediksi. Paling cepat satu setengah jam. Ah, pastilah perempuan itu resah menunggu.

* * *

Ya, perempuan itu telah menunggu. Sejak tadi ia duduk di kursi di deretan terdepan. Memandang bus-bus yang berhenti dan bergerak lagi. Memandang mobil-mobil yang tiada henti berlalu. Ia keluarkan Hp-nya. Tak ada tanda pesan diterima. “Ingkar janjikah ia?”

Ia membuka hp, membuka kembali torehan kata-kata yang dibuatnya semalam menjelang tidur. Entah mengapa, kata-kata itu meluncur begitu saja. Membuatnya terkejut ketika mengulang membaca. Tapi ia tak ingin menghapusnya.

Seandainya saja saat ini atau esok hari sang maut menjemputku, kukira aku tetap akan menyongsongnya dengan senyum mengembang di kedua sudut bibirku. Setidaknya, karena aku telah menemukanmu….

 

Ah…..

* * *

Berulang kali sang lelaki memaki dirinya sendiri. Setengah perjalanan baru tersadar ia tidak membawa hp-nya. Ia tak bisa mengabarkan kepada sang perempuan yang tentunya telah resah menunggu. Ia memacu kendaraannya dengan cepat. Kecepatan yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Seperti orang kesetanan.

Melaju cepat, walaupun sudah tidak berada di jalan tol lagi. Orang-orang memaki sekaligus menganggapnya sebagai orang gila yang bodoh. Ia telah memasuki terminal bandara, ia lihat jam, sudah satu jam keterlambatannya.  Ketika ia melihat ke depan, ia terkejut ketika ada sesosok yang terlihat ragu untuk menyebrang jalan. Ia berusaha mengerem sekuatnya. Tapi terlambat. Sosok itu telah terhantam kendaraannya.

Wajahnya memucat, orang-orang telah berkerumun dalam hitungan detik. Beberapa orang telah menggedor-gedor pintunya. Ia segera membuka dan bersikap waspada dengan kemungkinan akan di massa.

Seorang perempuan tergeletak, dengan hp di tangannya. Sebuah travel bag terlempar jauh ke tengah.

”Cepat, cepat, cepat….” orang-orang bergegas, lelaki itu turut terdorong. Ia segera meraih bagian tubuh atas perempuan itu. Mengambil HP yang masih ada dalam genggamannya.

Terlihat kata-kata yang dirasa tidak asing cara penuturannya:

Seandainya saja saat ini atau esok hari sang maut menjemputku, kukira aku tetap akan menyongsongnya dengan senyum mengembang di kedua sudut bibirku. Setidaknya, karena aku telah menemukanmu….

Mata lelaki itu berkunang-kunang. Untuk selanjutnya ia tidak bisa mengingat apa-apa lagi.

_______________

ilustrasi gambar diambil dari SINI

Iklan

One comment on “Cerpen: Sebab Kau Embun, Maka Aku Ingin Mencintaimu Dengan Sederhana

  1. kata-katanya meliuk-liuk puitis sekali 😀
    saia suka kata2 ini:
    Sebab embun itu sederhana, bening, juga menyejukkan maka kita jadikan cinta kita embun. Sebab kau embun, maka ingin mencintaimu dengan sederhana.
    seperti di bolak-balik dan jadinya bagus 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: