3 Komentar

Cerpen: Kutitipkan Kau Pada Malam

KUTITIPKAN KAU PADA MALAM 

Kolaborasi Elly Suryani, Rahma Wita & Odi Shalahuddin

Foto Sumali Ibnu Chamid

Aku terbangun dalam sekali sentakan.
Nanar kupandangi langit-langit kamar.
Tak ada cahaya.
Lampu, entah putus atau tengah mati listrik.
Sungguh, aku tak pernah tertidur dalam gelap.
Siapa jahil? Betapa tega pelakunya

Aku terasa asing.
Di mana Aku?
Kuraba samping kiri dan samping kananku
dalam kegelapan ini. Oh, di mana buah hatiku?
Mataku mulai berair. Aku terisak dalam gelap.
******

Tangan kecil itu menohok tepat di jantunngku. Dia meronta. Tak henti-henti meronta.

”Ada apa dengan dirimu sayang?” berlinang air mataku melihat buah hatiku yang tidak bisa lelap dalam tidurnya.

”Kayaknya flue membuat nafasnya tersengal. Dia belum mampu bernafas melalui mulut. Besok kita bawa ke rumah sakit saja biar di sedot dan dia bisa bernafas dengan normal,” sebuah suara menjelaskan padaku apa yang sedang dialami buah hatiku.

Tapi tak ada waktu untuk besok. Ini masih jam dua pagi. Nyawaku bisa melayang bila sepanjang malam harus menyaksikan penyiksaan yang dialami jantung hatiku. Serta merta aku mendekatkan mulutku ke hidung mungilnya. Tanpa berfikir panjang, tak ada rasa jijik dan keraguan aku sedot cairan kental dari ke dua lubang hidungnya. Dia menggelinjang sesaat. Beberapa kali kulakukan hal yang sama, sehingga nafasnya mulai teratur.

“Lihatlah pipinya merona, memerah. Aliran darahnya mulai normal dan dia tersenyum. Dia bilang terima kasih padaku!” aku bicara pada bayangan tak terlihat sambil tersenyum.

Kusandarkan tubuhku di dinding kamar yang mulai dingin sambil berbisik lirih, “tidurlah buah hatiku. Tidurlah dalam dekapanku. Takkan kubiarkan jauh dariku dan sesuatu terjadi padamu sampai malam berikutnya seumur hidupku.”
kutitipkan kau pada malam
dengan keindahan sejuta bintang
kan kupetik satu persatu
dan kutanam dalam bening bola matamu
cahaya hidupku
berjanjilah bahwa aku tak kan kehilangan riang tawamu
berjanjilah gadis kecilku
jangan pernah pergi dari malamku
malam yang selalu kurindu dan kutuju

* * *

Sungguh, betapa aku merasa tertipu. Mereka semua jahat kepadaku. Mereka tidak suka melihat aku menikmati kebahagiaan. Mereka tak suka bila aku bercanda dengan buah hatiku. Lihatlah, lihatlah buah hatiku yang kini tertawa riang. Ia memainkan jemarinya. Tangan-tangan mungil yang masih lentur.

Eh, hati-hati, jangan membawanya dengan tergesa. Nanti ia menangis. Aku sungguh sedih mendengar suara tangisannya. Tidak, ia tidak akan nakal. Ia adalah anak yang manis. Anak yang lucu. Anak yang mampu menyerap segenap lelahku.

Aku merasakan tubuhku melayang-layang bagaikan peri, memainkan buah hatiku untuk berputar-putar, melayang-layang, terbang, tinggi, dan ia selalu saja tertawa-tawa. Tidak punya rasa takut. Buah hatiku yang mungil. Segenap jiwaku akan kupertaruhkan untukmu.

* * *

Gelap. Aku benar-benar menangis.
Tanganku tak menyentuh apapun
Kemanakah buah hatiku?
Aku menjerit
Menjerit sekuat tenaga

”Dimana buah hatiku???!!!!!!”

Kalian memang jahat!!!
Jahat!!!

Tidak pernah suka aku berbahagia
Kalian selalu menipuku
Menyembunyikan buah hatiku!!!

Jahaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaattttttttt

* * *

”Maaf, istri Bapak memang tidak bisa menerima kenyataan ini. Ia terlalu mencintai anak Bapak. Ia tidak bisa menerima kehilangan,”

Kudengar desah Bram, suamiku. Terasa dekat dengan diriku. Namun sungguh aku sama sekali tak berdaya. Susah bergerak, rasa kantuk menggelayut teramat sangat. Tapi sungguh, kurasakan belaian Bram di rambut kepalaku.

Iklan

3 comments on “Cerpen: Kutitipkan Kau Pada Malam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: