Tinggalkan komentar

Cerpen: Bejo, Awas Kau… !

Bejo, Awas Kau..!

 Kolaborasi Elly Suryani, Rahma Wita, & Odi Shalahuddin

 

 Sejak kepulangannya kekotaini beberapa tahun yang lalu, mendadak Bejo tak mau lagi menyantap pisang kepok. Biarpun si pisang kepok telah diolah menjadi aneka penganan lezat seperti pisang goreng, kolak pisang, kue kacamata, dan lain-lain, tetap saja dia akan menepiskannya.

Entah kenapa.

Selidik punya selidik, hik, rupanya itu bermula sejak ia melihat beberapa rumpun tanaman pisang kepok tumbuh dengan suburnya, juga dengan buahnya yang sarat di sebuah kuburan alias Taman Pemakaman Umum dekat rumahnya.

Pada saat itu ia berhenti lama. Memandang pepohonan yang berdempet-dempetan. Sebuah pohon kamboja besar seakan menaunginya. Tiba-tiba saja terbayang, ketika akar-akar pisang itu menelusup ke tanah, menembus antara satu makam dengan makam lainnya. Untuk tumbuh dan berkembang, ia menyerap apa yang bisa diserap dalam tanah. Termasuk ia bayangkan, jenazah-jenazah yang telah menjadi pesta para belatung, terserot, memasuki akar-akar pohon pisang itu, bagaikan peredaran darah dalam manusia, sampailah ia di jantung pisang, yang kemudian mengembang, menjadi satu tandan pisang.

Memang pohon pisang itu bagaikan puisi Chairil Anwar. Sekali berarti setelah itu mati. Ya, pohon pisang hanya hidup sekali untuk berbuah sekali, setelah itu ia akan dilanjutkan oleh tunas-tunas muda yang tumbuh di sekitarnya.

Ah, tunas muda.. Bukankah sebelum ia dilahirkan, ia akan dihembuskan roh terlebih dahulu oleh induknya? Berarti, tunas-tunas itu lebih murni dihidupkan oleh saripati para mayat-mayat yang kian berdempetan, kadang dalam satu lubang sudah bertumpuk mayat-mayat lantaran kurang ruang. Makam tumpuk. Begitulah.

Lalu, bagaimana dengan pisang-pisang itu? Ah, tentu saja tidak akan ada yang mencurinya. Mengambil di siang hari pastilah tak mungkin berani karena di depan TPU adalah jalan yang selalu ramai. Di Malam hari? Ah siapalah berani mengingat TPU ini dikenal sangat angker dan penuh kisah misteri.

Jadi? Bejo lalu melihat sesosok orang membawa parang, menebas beberapa tandan pisang. Ah, penjaga makam. Hm, tentu dia memanen pisang itu bukan untuk diri dan keluarganya. Ada lima tandan pisang. Pastilah…

Ah, ya, pasti. Pasti ia menjualnya. Ke warung-warung terdekat atau ke pasar yang juga dekat sini, hanya disebrang TPU. Lalu? Ah, Bejo jadi ngeri sendiri memikirkannya. Pisang goreng kepok adalah penganan kesukaannya.

Membayangkan hal ini, Bejo merasa perutnya mules, ada yang diputar, naik ke dada, dan Oeeeeeekkkkk…. Muntahan Bejo mengalir deras. Membuat orang-orang lewat segera berpaling.

Sejak itu Bejo mengharamkan memakan buah pisang kepok bila ia berada di kotanya.

“He, lebaymu jo…,” begitulah saya sering meledeknya.

Tetap saja Bejo tak bergeming pada ledekan saya. Setiap kali memandang buah pisang kepok, ia memilih berpaling. Bila dipaksa, maka ia akan mual-mual, lalu muntah-muntah. Maka menakut-nakuti dia dengan memaksa untuk melihat pisang kapok justru kitalah yang akan merugi. Merawat Bejo, dan membersihkan muntahan-muntahannya.

“Saya selalu merasa bahwa mayat-mayat itu semakin terhisap, dan menyatu dalam pohon dan buah pisang. Cobalah lihat, tumbuh subur sekali. Tunasnya tak pernah habis, selalu berlimpah,”

“Ah, kamu Jo.. Itukanrejeki bagi penjaga makam,”

“Sungguh, bayangan itu selalu hadir. Apakah kamu tidak bisa merasakan bedanya pisang kapok di sini dengan di lain tempat?”

“Bagaimana kamu bisa membedakan bila dirimu saja tak pernah lagi mencicipi?” saya balik bertanya.

Ah, Bejo, Bejo…

Anehmu Jo…

Sebagai seorang kawan, kawan dekat, bisalah dikatakan sebagai sahabat yang kenal betul seluk beluk kisah hidupnya, sungguh, saya tak pernah merasa mampu menepiskan pikiran-pikiran dia tentang Pisang Kepok. Saya anggap ia berlebihan. Mengada-ada secara halusnya. Tapi ia tak peduli dikatakan apapun. Tetap saja pada pendirian bahwa pisang-pisang itu hidup dari mayat-mayat yang terhisap.

Sebenarnya, aku suka dan banyak menyetujui pandangan dan pikiran-pikirannya yang kadang nyeleneh. Sejauh ini dia selalu mampu meyakinkan kebenaran pendapatnya kepada orang lain. Pun kepada saya, teman sepermainannnya sejak kecil. Hanya, pendapatnya tentang pisang kepok kuburan itu, yang sama sekali tak bisa saya terima di otak. Itu pandangan yang paling ngawur.

Waktu berputar dalam iramanya. Tahun-pun berganti hingga saya tak lagi mengingat pendapat Bejo tentang pisang kepok kuburan itu. Maka pada malam tak berbintang ini, ketika hujan gerimis baru saja merintinkkan tetes terahirnya, betapa kagetnya saya karena dikejutkan oleh kehadiran sepiring pisang goreng keju di hadapannya saya.

Keterkejutan lain Bejo hadir di depan saya. Memandangi wajah saya, tanpa menoleh kea rah pisang di meja. Saya tak menyapa. Diapun tidak. Hanya kami duduk berhadap-hadapan.

Perasaan saya menjadi tidak enak. Aroma pisang keju yang telah terbalut itu, telah masuk ke hidung. Saya sungguh sangat mengenali aromanya. Aroma pisang kepok. Bejo tetap memandang saya dengan wajah datar. Matanya tetap memandang ke arahku. Aku menjadi serba salah.

”Sudahlah Jo. Jangan ganggu aku. Ini Cuma persoalan pisang kepok kan?” ujarku, sambil memalingkan muka.

Ia diam saja. Tak menjawab. Ketika kulihat wajahnya, saat matanya tajam menatap mataku. Matanya itu, ah.

”Sudahlah Jo. Sudah, pergi saja sana. Jangan ganggu aku. Alam kita sudah berbeda. Nanti aku bisa takut loh,” kataku serius dengan canda.

Betapa tidak, malam ini adalah malam keempat puluh kematian Bejo. Malam dimana saat roh manusia yang telah dipanggil illahi benar-benar lepas meninggalkan bumi.

Saya sedang mengikuti tahlilan bersama keluarga dan kerabat di rumahnya. Sepiring pisang goreng itu, entah mengapa di mata saya berubah menjadi penjelmaan Bejo. Sosok Bejo sendiri telah menghilang di hadapan saya.

Pisang goreng itu adalah pisang kepok goreng. Kemarin lusa saat saya melintasi di TPU dekat rumah bejo, beberapa rumun pisang kepok sedang ranum-ranumnya. Saya melihat Ibu Bejo tengah bercakap-cakap dengan penjaga makam. Pastilah ia membeli dari pohon-pohon pisang yang ada disana. Pisang yang telah menyerap saripati mayat-mayat, termasuk mayat Bejo.

Ohhhhh, betapa Bejo telah berhasil mencuci otak saya. Meski dengan gaya cueknya, pelan-pelan dia mampu meyakinkan alam bawah sadar saya. Lihatah, meskipun dia telah tiada, meskipun telah saya tepiskan, pikiran-pikirannya telah merasuki saya begitu rupa.

Inilah malam dimana Bejo mampu meyakinkan saya bahwa dia telah menyatu di pisang Kepok kuburan. Pisang goreng itu masih di hadapan saya. Tentu saja sayapun mengharamkan untuk menyantapnya. Rasaya seperti memakan tubuh sahabat saya sendiri. Kini, sepiring pisang goreng keju di hadapan saya itu bak menertawakan saya.

“Awas kau jo……” ancamku.

_____

Ilustrasi gambar dari SINI

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: