Tinggalkan komentar

Fiksi Sampah Membangun Gairah

Saya sudah lupa kapan pertama kali belajar menulis. Tapi yang pasti saya ingat, tulisan pertama adalah sebuah puisi. Puisi yang dikomentari oleh Bapak dan masih terngiang hingga saat ini, sehingga menjadi malu rasanya bila mengingat. Menulis masih saya lakukan saat SMP dan SMA, berupa puisi, cerpen, dan reportase. Tulisan yang juga harus ditulis karena aktif mengelola sebuah buletin remaja yang beredar di DIY dan Jawa Tengah. Ketika kuliah,  menulis fiksi khususnya cerpen sangat bergairah sekali. Itu pada periode `1993-1996. Kemudian dengan alasan klasik: kesibukan, maka bisa dikatakan sangat jarang menulis, kecuali catatan-catatan harian.

Ketika ada jejaring sosial, facebook utamanya, beberapa kali menulis dalam note-note. Kemudian berkenalan dengan Kompasiana, awal mulanya hanya menjadi  pembaca, lalu mulai terpengaruh ikutan menulis. Tapi pada awal tulisan lebih banyak menyangkut persoalan-persoalan anak.

Bila-pun pada saat itu memposting karya fiksi berupa puisi atau cerpen, hampir semuanya merupakan tulisan-tulisan lama. Namun ketika Kompasiana digemparkan oleh pernyataan bahwa semua karya fiksi Kompasiana adalah sampah, maka sebagai orang yang pernah menyukai dan bergelut dalam dunia fiksi, agak gerah juga mendengarnya. Lantaran itulah, dengan enteng turut urun rembuk membuat tanggapan, pembelaan dan terlibat dalam diskusi-diskusi dalam ruang komentar.

Berawal dari sanalah, pada akhirnya saya terjebak dan mulai bergairah untuk mengamati dan menulis fiksi kembali serta  ”memprovokasi” kawan-kawan turut serta menggeluti dunia fiksi. Gairah yang sama, tampaknya dirasakan pula oleh para fiksioner Kompasiana pada masa itu.

Semangat untuk membuktikan bahwa karya yang dihasilkan itu juga bisa bermakna, sebagian kompasianer membentuk komunitas untuk saling berbagi dan berdiskusi. Salah satunya adalah komunitas yang menamakan dirinya DESA RANGKAT. Kompasianer yang telah memiliki komunitas, yaitu Kampung Fiksi, mulai mengadakan perhelatan minggu fiksi di Kompasiana, yang berlanjut pada perhelatan demi perhelatan yang dilangsungkan oleh para fiksioner.

Penggemer fiksi tentu menyambut positif dan terlibat dalam berbagai perhelatan yang ada, seperti Festival Fiksi Kompasiana, Malam Prosa Kolaborasi, Festival Surat Cinta, dan sebagainya. Pada tingkat Komunitas, Desa Rangkat membuat episode-episode cerita yang terus bergulir dan menghasilkan ratusan karya. Hal menarik yang bisa dilihat adalah perhelatan-perhelatan tersebut mampu  menjaring para kompasianer yang semula tidak pernah atau jarang menulis fiksi untuk berpartisipasi. Saya sendiri, walau tidak semua perhelatan saya ikuti, berusaha keras untuk bisa hadir.

Berawal dari gairah ini pula, membuat saya berinisiatif membuat sebuah blog yang dimaksudkan sebagai sarana belajar untuk mengembangkan karya-karya. Postingan pertama dilakukan pada tanggal 31 Januari 2011. Pada bayangan di kepala saat itu, ketika satu karya ditampilkan, akan ada seseorang yang melakukan apresiasi dan kritik, sehingga pembelajaran didapatkan bukan hanya oleh penulisnya, melainkan juga oleh sahabat-sahabat lain.

Sayang hal semacam itu tidak terjadi. Kendati demikian, walau sempat mengalami kekecewaan, saya berusaha untuk mempertahankan blog tersebut sebagai tempat memajang karya. Banyak sahabat lama yang saya minta untuk menyumbangkan karya-karyanya atau setidaknya memberi ijin karya-nya yang sudah dipublish untuk dimuat ulang di blog tersebut. Saya bersyukur, banyak sahabat menyatakan tidak berkeberatan.

Memang, masalah utama adalah memposting secara rutin. Artinya, harus tersedia karya. Untuk itu, upaya mendapatkan karya dengan menyapa dan meminta kesediaan banyak sahabat harus terus dilakukan. Perkembangan kemudian, memang mulai banyak yang mengirimkan karya. Pada karya-karya tertentu, dibutuhkan proses penyuntingan yang hasilnya didialogkan dengan penulisnya, sampai ada persetujuan akhir, hingga karya tersebut bisa dipublish. Tentu butuh waktu ekstra guna menjalani proses tersebut.

Saya merasa bersyukur bahwa pada akhirnya persoalan kebutuhan karya yang akan ditampilkan sedikit bisa teratasi. Target yang ditetapkan tidak muluk-muluk, yaitu hanya empat postingan dalam seharinya. Apabila pada hari tertentu terjadi kekurangan naskah, maka tulisan sendiri-lah yang turut diposting.

Hampir setahun proses ini dijalani. Berharap pada tahun kedua bisa lebih baik lagi dan bisa melibatkan sahabat-sahabat lain untuk mengelolanya. Eh, tapi, apakah anda sudah pernah berkunjung ke blog ini? Bila belum, ayo jangan segan bertamu ke : KUMPULAN FIKSI dengan klik di SINI

7 Januari 2012

Salam,

(Odi Shalahuddin)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: