Tinggalkan komentar

Hidup Bersama Rakyat, uji Kelayakan Para Wakil Rakyat dan Pejabat Negara

HIDUP BERSAMA RAKYAT, UJI KELAYAKAN PARA WAKIL RAKYAT DAN PEJABAT NEGARA

Catatan:

Tulisan lama yang tampaknya masih relevan juga dengan situasi sekarang. Artinya pula, memang belum ada perubahan nyata…

_________

Menyimak berbagai pernyataan dan kelakuan para pejabat negara dan wakil rakyat yang seringkali menciderai hati dan perasaan warganegara Republik Indonesia tercinta ini, Saya jadi teringat perbincangan dengan seorang kawan menjelang kepulangan ke Yogya kemarin sore.

Perjalanan menuju bandara, kami mengobrol berbagai hal. Dari rencana pembuatan buku (yang kujanjikan akan kuselesaikan), bicara tentang berbagai bencana yang tengah melanda sebagai salah satu ujian bagi manusiaIndonesia, sampai pulalah pada gossip politik rakyat mensikapi berbagai kelakuan para wakil rakyat dan pejabat negara.

Beberapa waktu ini kita senantiasa dikejutkan oleh berbagai pernyataan para wakil rakyat dan pejabat Negara yang melakukan pembenaran atas tindakan/keputusan yang menyangkut penggunaan uang Negara dan pernyataan-pernyataan controversial terhadap situasi yang terjadi atas bangsa ini.

Di penghujung tahun 2009 misalnya, Rencana pembangunan gedung DPR baru yang diperkirakan akan membutuhkan biaya 1,6 triliun, telah menimbulkan reaksi yang hebat di masyarakat. Dan reaksi semakin meningkat ketika Pius Lustrilanang, mantan aktivis mahasiswa yang pernah menjadi korban penculikan, yang kini menjadi anggota DPR RI dari Partai Gerindra, dalam kapasitasnya sebagai wakil ketua BURT menyatakan: “Kalau bicara kemiskinan ya sudah sejak Indonesia merdeka rakyat Indonesia miskin. Tidak ada hubungannya antara pembangunan gedung dengan kemiskinan,” (lihat misalnya di Detiknews.com tanggal 1/9/2010)

Pada Oktober 2010, sebut saja Marzuki Alie, sang Ketua DPR RI, yang nota bene memiliki posisi bergengsi dalam barisan yang ditempatkan sebagai wakil rakyat yang terhormat. Mensikapi tragedy gempa dan tsunami yang melanda Mentawai, beliau menyatakan bahwa bencana alam seperti tsunami merupakan risiko warga yang tinggal di pulau seperti Mentawai. Jika tak ingin menghadapi risiko itu, sebaiknya pindah.

Menyusul pernyataan Fauzi Bowo atau dikenal dengan panggilan akrab Foke di bulan Oktober juga saat menghadiri pisah sambut Kapolda Metro Jaya (7/10/2010) mengenai banjir di Jakarta. Foke menolak jika Jakartadikatakan mengalami banjir. Dia mengatakan, di Jakarta hanya terjadi genangan, bukan banjir. “Harus dibedakan antara banjir dan genangan,” katanya

Pernyataan yang baru saja terjadi dan menimbulkan reaksi, terutama dari para facebooker adalah pernyataan dari Andi Malarangeng mengenai pengungsi. Dikatakannya: “Menurut saya penting memberikan kegiatan positif bagi pengungsi. Saya lihat mereka itu sudah enak sebenarnya (huruf tebal dari penulis), makan sudah siapkan dan MCK sudah ada. Mereka ini tinggal menunggu bunyi klenteng-klenteng lalu sarapan, klenteng-klenteng lalu  makan siang dan klenteng-klenteng lalu makan malam,” kata Andi Mallarangeng di Gedung Agung, Jl Malioboro, Yogyakarta, Minggu (7/11/2010). Demikian kutipan pemberitaan dari detiknews.com (http://pendek.in/02cuk). (Sikap saya tentang pernyataan ini sudah saya posting di Sini juga, lihat: Untuk Tuan  Mentri AM)

Pernyataan di atas adalah hanya segelintir contoh dari pernyataan-pernyataan yang melukai hati rakyat. Pernyataan yang dilontarkan seolah tanpa dipikir terlebih dahulu dampaknya, sesungguhnya mencerminkan bagaimana cara berpikir para wakil rakyat dan pejabat negara ini. Tampaknya tidak terlalu meragukan bahwa tiada terbersit-pun mereka memahami apalagi bertekad untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi warganegara Indonesia.

Mensikapi situasi ini, kawan bicara melontarkan pernyataan menarik. ” Seharusnya tes and proper test untuk wakil rakyat dan para pejabat jangan hanya test tertulis dan wawancara saja. Tapi mereka juga diterjunkan untuk hidup dan tinggal di tengah-tengah rakyat dengan fasilitas yang sama dengan yang dinikmati oleh rakyat. Setidaknya satu bulan saja,”

Gagasan iseng yang tampaknya menarik sekali. Para wakil rakyat dan para pejabat yang sebagian besar berasal dari kalangan kelas atas, yang mungkin sulit membedakan antara alang-alang dan padi, dan belum pernah bersentuhan dengan lumpur, tentu berbeda pengalaman hidupnya dengan rakyat. Mereka mungkin bisa tidak habis pikir apabila ada orang-orang yang bisa berkelahi bahkan hingga mati hanya demi memperebutkan uang tidak lebih dari seratus ribu. Mereka mungkin menganggap orang-orang yang tinggal di bawah jembatan, di bantaran sungai, atau di rumah petak yang berhimpit-himpitan sebagai sikap kebodohan karena tempat-tempat tinggal itu tidaklah sehat dan membahayakan keselamatan. Ya, mungkin saja.

Karena itulah, menerjunkan para calon wakil rakyat dan para pejabat, dengan menghilangkan fasilitas negara, di tengah kehidupan kelompok masyarakat tertentu, dimana harus bisa hidup sebagaimana layaknya orang-orang yang tinggal di situ, bisa membuka kesadaran baru bagi para calon tersebut. Setelah itu, wawancara yang dilakukan adalah untuk mengecek kebenaran apakah selama masa uji kelayakan di lapangan, mereka benar-benar telah melaksanakannya sesuai prosedur, berperan aktif di dalam masyarakat untuk membahas dan mengatasi masalah-masalah yang dihadapi, dan gagasan-gagasan tentang perubahan yang bisa dilakukan. Test wawancara ini akan menghadirkan wakil-wakil dari komunitas yang menjadi tempat uji kelayakan di lapangan, untuk menyampaikan apakah yang dinyatakan para calon wakil rakyat dan pejabat negara itu benar adanya atau hanya bualan belaka.

Bagaimana pandangan anda?

Yogyakarta, 8 November 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: