Tinggalkan komentar

Dua Kisah

DUA KISAH

Inilah kisah. Hanya dua. Lebih dari itu tak sanggup rasanya. Lama berencana. Baru kali ini terlaksana. Semoga saja. Dirimu mau membaca. Sungguh bahagia. Apalagi ada komentarnya. Uh… luar biasa… Begitulah akan kurasa.

Kisah ini tentulah bukan kisah nyata. Hanya rekaan belaka. Dari otak yang semakin hampa. Diterjang badai usia. Ah, kok sok merasa tua? Ha.h.ah.ah.a.ha.ah.a.

***

Kisah Pertama

Sebut sajalah namanya Kelana. Tinggal di sebuah kota. Kota besar yang menjadi ibukota. Sebuah perumahan mewah penuh pesona. Papa ganteng, mama jelita. Keduanya adalah pengusaha.

Kelana bersekolah di sekolah ternama. Kawan-kawannya orang berpunya. Semua senang berpesta. Mengajak Kelana pastilah kecewa. Ia akan menolaknya, lantaran memilih membaca. Di sebuah kamar dengan fasilitas serba ada. Tapi ia biasa-biasa saja.

Pada saat liburan tiba. Kelana ingin liburan ke desa. Kedua orangtua, terkejut mendengarnya:

”Mengapa tidak ke Amerika?” Papanya bertanya

”Mengapa tidak ke Eropa ?” timpal Mamanya

”Tidak Papa, tidak Mama. Aku ingin ke desa,” jawab kelana

Saling berpandangan, berbisik-bisik, Papa dan Mama. Keheranan melanda. Di kepala.

”Ke desa mana?” tanya Papa

”Entahlah, Papa”

”Sama siapa?” Mamanya bertanya

”Sendiri saja,”

”Hah!!”

”Mengapa Papa? Mengapa Mama?”

Berdiskusilah bertiga.

Pada akhirnya,

orangtua menyetujuinya.

Kelana pergi dengan kereta. Naik dari stasiun Jatinegara. Kelas ekonomi yang dipilihnya. Semakin pusinglah Papa-Mamanya. Tapi mau berkata apa? Kesepakatan dan persetujuan, demikian adanya.

Menuju Jogjakarta. Kota yang dulu pernah disinggahinya. Waktunya,  ia sendiri sudah lupa. Tapi kota inilah yang ada di pikirannya. Terpengaruh Kompasiana. Sering menampilkan kehidupan Yogya.

Sampai di stasiun masih pagi buta. Tanya pusat informasi tentang desa wisata. Ia bisa tinggal bersama. Berbaur dengan para penduduknya. Naik taksi, tawar-menawar jadilah. Padahal lokasinya di mana, belum tahu juga si Kelana.

Sebuah desa. Terletak di utara. Tampak merapi seperti Raja. Tengah duduk di singgasana. Mendengar laporan para hamba. Kelana terpesona, segera mengabadikannya.

Taksi berhenti di sebuah rumah khas Jawa. Rumah sang kepala Desa. Sudah terbuka pintu dan jendela. Turun, membayar, menjinjing ransel, Kelana menyapa dan bertanya.

“Benar, ini rumahnya. Kepala Desa ada, masuk saja,” seorang perempuan tua.

Ramah nian kepala desa. Istrinya juga. Baru saja duduk, kopi dan gorengan segera tersedia. Ah. Kelana segera serahkan KTP yang diminta.

Perempuan cantik berseragam SMA. Mencium tangan Ibu dan Kepala Desa. Mengangguk padanya. Keluar menuju sepeda. Tak sadar Kelana, matanya mengiringi langkah gadis jelita.

”Ehem,” deheman kepala desa menyadarkan dirinya.

”Biar tidur di sini saja. Tidak apa-apa?”

“Oh, tidak, Pak. Senang bisa diterima,”

Seminggu waktu Kelana. Tinggal di desa. Setiap hari berkelana dan belajar bekerja. Menyusuri pematang, bermain air di sungai, dari pagi hingga senja. Apalagi ditemani oleh anak kepala desa. Keletihan pastilah tak dirasa.

Bergelut dengan lumpur sawah, terjatuh dari sepeda, belajar berbagai tanda, semua dialami Kelana. Sampailah tiba. Harus kembali ke kota.

Di Bandara. Orangtua menunggu berdua. Memeluk erat sang mama. Menepuk-nepuk bahu kelana, sang papa.

“Anakku kelana. Pastilah dikau menderita. Hidup di desa. Kotor adanya. Hitam kulitmu bersihkan segera,’ isak mama dalam pelukannya.

***

Kisah Kedua

Sebutlah namanya jelita. Wajahnya penuh pesona. Sesuai dengan namanya. Ialah sang kembang desa. Membuat para lelaki terpana, bila memandangnya. Duhai sedemikian sempurna. Sebagai manusia. Bila kau berjumpa, sama pula apa yang akan kau kata.

Jelita Anak SMA. Selalu menjadi juara. Kini ia duduk di kelas Dua. Walaupun masih muda. Banyak orang telah meminangnya. Menyatakan kepada kedua orangtua. Dijanjikan rumah, perhiasan, dan fasilitas bagaikan sorga. Jelita selalu menolak. “Aku masih muda, aku punya cita-cita,” harap orangtua tak memaksa. Bukankah ini bukan jamannya Siti Nurbaya?

Suatu hari di kala senja. Datang berita membuatnya gembira. Ia terpilih pergi ke ibukota. Studi banding ke beberapa instansi negara. Semua biaya, ada yang menanggungnya.

Jelita naik kereta. Sampai di Jakarta pagi buta. Tak berani keluar nunggu penjemputnya. Mata berkeliling merinding bulu roma. Ramai orang jalan tergesa. Seperti diburu marabahaya. Apakah demikian perilaku orangkota? Hati jelita bertanya.

Untunglah tak berapa lama. Datang penjemput, di luar sana. Terpampang nama. Jelita. Pastilah tak salah duga. Ia mendekat dan menyapa.

“Jelita?”

“Ya,”

Di dalam mobil sudah ada beberapa, orang-orang dari berbagai kota. Berjabat tangan, saling bersapa. Bergerak keluar, susuri jalan kota. Luar biasa. Padat sudah terasa. Padahal matahari saja belum menyapa.

Hotel mewah dilihatnya. Wow. Memang luar biasa. Di situlah tempat tinggalnya. Selama di Jakarta. Takut-takut dirasa.

Satu kamar tak berdua. Jadi sendiri-sendiri saja. Bukan senang, malah takut menghinggapinya. Di depan kamar Jelita diam saja. Selembar kartu, bagaimana membuka? Lihat kiri-kanan, lorong diam, tak ada suara. Gelisah, ah ini bagaimana?

Beruntung seorang perempuan muda keluar kamarnya. Jelita segera bertanya. Senyum perempuan muda tak enak tampaknya. Kartu diambilnya, dimasukkan, pintu terbuka. Ah, hanya begitu saja?

”Terima kasih atas bantuannya,”

Masuk kamar ia terpana. Ah, kamar sedemikian luas hanya sendiri saja? Berapakah harganya?

Letakkan tas, kamar tiada cahaya. Memencet tombol lampu tak menyala. Hah…! Hotel mewah tak ada lampu menyala.. Gerutu sang jelita. PLN pastilah penyebabnya. Sama ketika di desa, setiap hari padam lampu selalu ada.

Tiduran di sofa. Tetap nikmat rasanya. Ia akan menunggu lampu menyala.Waktu berjalan seperti biasa. Satu jam sudah, tetap gelap gulita. Cemas jelita. Keluar kamar, lampu-lampu menyala. Lantas apa yang salah? Cleaning services mendorong gerobaknya. Minta tolonglah kepadanya. Lelaki muda, tersenyum menggoda. Hanya memasukkan kartu dekat pintu, benderang sudah. Ah, jelita seakan ingin menjerit lara. ”Betapa bodohnya Jelita,” tersipu-sipu jadinya. Sambil melirik lelaki muda, cakap pula tampangnya.

Isi tas dibuka. Ia mulai menata. Masuk kamar mandi, persoalan lain menghadangnya. Ah, untuk di sini sebaiknya tak usah cerita.

Singkat kata, singkat cerita. Selesai sudah, kembali ke desa. Di setasiun orangtua dan tetangga. Sudah menjemputnya.

“Wah, anakku jelita, sudah pergi ke ibukota. Tentulah kami berbangga. Engkaulah harapan desa,” ibunya memeluknya erat sampai sesak nafas jelita.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: