Tinggalkan komentar

Berjumpa Ibu Prapto, Ibu Anak Jalanan Semarang (6)

BERJUMPA IBU PRAPTO, IBU ANAK JALANAN SEMARANG #6 

 

IBU 

Dia begitu tenang dan damai
Di saat anak-anak bahagia
Dia tetap kekasih abadi
Bagai cahaya matahari

Dia wanita setegar karang
Di saat persoalan menghadang
Dia wanita berpayung kehidupan
Sejuk sepanjang hari

Ibu, semuanya begitu menyenangkan
di kala belaimu redakan amarah
ibu, gambarmu selalu melekat
walaupun banyak yang tak ku ingat

Bu Prapto

Lagu “Ibu” banyak dikenal oleh anak-anak jalanan di Semarang dan Yogyakarta. Lagu yang diciptakan oleh Catur Adi Laksono, yang lebih dikenal dengan nama Yoyok atau akrab dengan panggilan Wak Yok, dikerjakan bersama anak-anak jalanan di Yogyakarta, sekitar akhir tahun 1997 atau awal 1998. Pada masa itu, setelah paska penyerangan terhadap rumah anak jalanan PAJS di kawasan Lemah Gempal yang disusul dengan situasi yang dinilai bisa mengancam keselamatan para anak jalanan, sebagian anak pergi dan tinggal ke Yogya. Pada masa itu, juga tengah diproduksi film “Daun di Atas Bantal” nya Garin Nugroho yang melibatkan para anak jalanan.

“Saat itu anak-anak jalanan yang terlihat sangar, baik laki-laki ataupun Perempuan, banyak yang menangis” tutur Wak Yok menceritakan proses terciptanya lagu. Kemudian lagu-lagu itu jadi sering dinyanyikan oleh para anak jalanan, dan kemudian menarik perhatian Garin yang menggunakan lagu itu untuk iklan layanan masyarakat yang sempat beberapa lama diputar di beberapa stasiun televisi.

“Pandangan saya terhadap Ibu Prapto, ya tercermin dalam lagu itu,” Wak Yok menambahkan dalam perbincangan santai di ruang tamu secretariat Yayasan Setara beberapa waktu yang lalu.

Setalah mengalami banyak pengalaman buruk terkait dengan perhatiannya kepada anak jalanan, Ibu Prapto memang tampak tegar dan tidak menghentikan kegiatannya. Tekanan dari masyarakat setempat mulai sangat berkurang, bahkan berubah menjadi apresiasi positif dan kekaguman terhadap keperdulian Ibu Prapto.

“Ya, setelah krisis jadi semakin banyak anak dari seputar sini yang menjadi jalanan,” kata Bu Prapto di tengah memijati diri saya. “Karena, setidaknya, anak-anak mereka juga mendapat perhatian dari saya,”

Keperdulian terhadap kehidupan anak jalanan juga menular kepada anak-anaknya yang  sempat pernah mencicipi kehidupan jalanan, namun berhasil lepas dan berhasil menempuh pendidikan hingga tingkat SMA, dan sempat pula bekerja di luar Semarang.

”Saya dulu pernah dibantu, sekarang, saya juga berupaya membantu sebisa mungkin. Setidaknya menjadi kawan untuk diskusi,” tutur Anas, anak kedua Ibu Prapto. Bersama adiknya, Ari, mereka juga banyak terlibat menghidupkan kegiatan di Sanggar SERABI, yang didukung oleh Yayasan Setara.

Melalui sanggar ini, banyak pihak dari luar yang melakukan kegiatan bersama mereka, termasuk orang-orang dari luar negeri yang tengah magang, atau memang keliling untuk berkegiatan bersama anak jalanan.

Rumah Ibu Prapto, tetap saja ramai, dan sesekali mantan anak jalanan masih singgah dan bermalam. Ibu Prapto juga masih memonitoring kondisi anak-anak jalanan yang pernah dikenalnya mengingat pertumbuhan anak jalanan baru memang sangat pesat.

Ketika terjadi pembunuhan terhadap mantan anak jalanan yang pernah berinteraksi dan singgah di rumahnya, Ibu Prapto masih peduli bahkan mengurus hingga pemakamannya.

Sungguh, bukan hal yang terlalu membesarkan dirinya, bila ia disebut sebagai Ibu Anak Jalanan Semarang. Julukan itu memang tepat dan sangat layak. Saya kira tidak seorangpun yang pernah mengenalnya akan mengabaikan dirinya.

___________

Catatan: Bila ingin mendengar lagu Ibu bisa di Klik di SINI, tapi sayang bagian akhirnya rusak. Seorang kawan tengah mengedit gambar untuk meng-upload lagu itu lagi.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: