2 Komentar

Cerpen: Salah Kamar

SALAH KAMAR

Kolaborasi Odi Shalahuddin, Elly Suryani & Rahma Wita

Seringkali Bejo melirik jam dinding yang tergantung di atas pintu keluar. Seakan ia tak yakin dengan jam di tangan dan angka yang tertera di Hp-nya. Waktu terasa berjalan lambat. Angka lima terasa jauh sekali. Padahal biasanya satu jam mudah sekali terlalui. Sekarang, jarum panjang menunjuk ke arah angka 6. sedang jarum pendek seakan memburu di belakangnya antara angka 4-5.

Di ruang lain, di gedung lain, juga jalan yang berbeda, seorang perempuan mengalami hal yang sama.  Lirikan pada jam tangannya teramat sering. Kawan depan meja sampai menanyakannya.

“Setengah jam terasa berat. Bumi terasa berhenti berputar. Dikau mengalami pula, sayang?” sms Bejo terkirim

“sabarlah, sayang. Waktu pasti kan datang,” Jawaban SMS yang diterimanya.

“Sayang, dah gak tahan nih,”

“Hi..hi..hi…”

Bejo hanyut dalam lamunannya. Ia membayangkan sesuatu yang akan terjadi. Teringat rencana yang terbangun semalam. Sebuah perjanjian dengan perempuan itu.

“Tanpa lampu, tanpa jeda, sampai pagi,” demikian perempuan itu menawarkan.

“Ah, jadi…!” jawaban spontan menjawab tantangan.

Memang, pada akhirnya waktu telah datang. Semua orang bergegas. Termasuk Bejo yang memang sudah mempersiapkan diri. Begitu pukul lima tepat, ia telah berdiri. Meja kerja sudah ia tata sebelumnya. Seluruh arsip telah tersimpan rapi di tempatnya. Komputer juga sudah termatikan.

“Boleh aku menumpang,” Mia, kawan kerjanya yang cantik nan centil menyapa Bejo ketika melintas depan mejanya.

“Hm… maaf, ya. Aku ada urusan lain, arahnya menyimpang,”

“Hm, malah asyik kalau menyimpang-nyimpang. Aku mau kok diajak menyimpang,” goda Mia.

Bejo tersenyum getir. “Maaf, ya,” melambaikan tangan sambil melanjutkan perjalanan tanpa menunggu jawaban.

***

Bejo telah menunggu di kamar. Sebuah hotel yang agak menyempil di pinggiran kota. Hotel kecil. Tapi aman, pikir Bejo. Ia juga memarkir mobilnya agak ke belakang, sehingga tak akan tampak menonjol. Bila ada orang mengetahui dan menyebarluaskan, pastilah akan membuatnya kerepotan. Tak lupa Bejo memberikan uang tip untuk penjaga parkir agar ada pengawasan ekstra terhadap mobilnya.

Beberapa batang rokok telah terhabiskan. Sudah pukul delapan lewat. Belum ada ketukan di pintu kamar. “Pasti macet,” hibur hati Bejo.

Ia hanya mengenakan celana pendek dan kaos singlet. Sambil menghisap rokok, ia pandangi hp yang tergeletak di meja kecil. Tak ada nada pertanda sms ataupun telpon sejak tadi. Ingin ia mengirimkan sms atau mencoba menghubungi perempuan itu, tapi ia batalkan niatnya. “Tidak asyik lagi. Justru menunggu seperti ini bisa jadi menyenangkan. Ada ketegangan, ada ketidaksabaran,” pikirnya.

* * *

Perempuan itu menggendap-endap. Memastikan tak ada seorang pun yang melihatnya. Suasana agak remang. Mungkin karena mendung. Mungkin juga  karena ia sedang terburu-buru selain ketegangan yang menyelimutinya.

Di hadapannya kamar 203 sebagimana yang dijanjikan seseorang yang telah menunggunya di kamar itu, sudah terlihat nyata. Kamar gelap, dan lelaki menyongsongnya ketika pintu terketuk, itu sudah jadi tanda. Maka seperti biasa, terjadilah hal yang memang diharapkan terjadi. Mereka bergumul. Pergumulan yang begitu bergairah membuat keduanya letih. Tanpa kata dan sapa, keduanya terlelap.

Pagi pun tiba.

Oh..!!!

Ah…!!! Astaga !!!. perempuan itu setengah menjerit, ketika ia buka tirai dan cahaya menyibakkan kegelapan. Lelaki yang tergolek di sampingnya, masih terlihat pulas, sama sekali bukan sosok yang dikenalnya. Bukan Bejo!

DI kamar lain, kamar 302, Bejo tak kalah terkejut. Perempuan di sampingnya, bukan yang diharapkan. Mengapa bisa terjadi? Ketika pintu terketuk, sebagaimana direncanakan bersama, ia langsung mematikan lampu, membuka pintu, dan meraih perempuan itu. Ia langsung mencumbu. Agak heran ada penolakan sebenarnya, tapi tak boleh bertanya. “Tanpa kata, hanya desah” bukankah itu kesepakatannya ?

Akhirnya mereka bercumbu, semakin dahsyat. Bergeser perlahan, berputar dan membantingkan diri ke ranjang. Kegelapan, tak terlihat apa-apa. Hanya suara desah dari nafas yang terburu.

* * *

Bejo dan perempuan itu berhadapan. Pada sebuah restaurant. Secangkir kopi mulai mendingin. Demikian pula secangkir teh. Keduanya memainkan jemari masing-masing. Hampir lima belas menit berlalu, ketika keduanya bertemu.

Bejo memang datang lebih dahulu. Disusul perempuan itu. Tak ada salaman. Tak ada senyum. Keduanya berupaya memalingkan muka.

Bejo mengeluarkan sebatang rokok. Sudah terjepit di bibir, tapi ia urungkan. Ia tersadar, ruang yang diduduki bukanlah ruang bagi perokok. Beberapa pasang mata sudah mengawasi. Ia lemparkan senyum.

“Kamu…” keduanya hampir bersamaan. Tidak ada kelanjutan.

Masing-masing larut dalam pikirannya. Berusaha menebak-nebak. Wajah mereka tampak terlihat gundah.

“kamu menjebak kesetianku,” akhirnya Bejo memulai perkataannya. “Kamu kirim orang lain,”

“Kamu…?”  perempuan itu tak melanjutkan. Ia segera memahami. Ada kesalahan memang. Ia sendiri telah masuk ke kamar yang salah. Ada lelaki lain. Lantas bagaimana ada perempuan lain yang salah masuk ke kamar Bejo? Melakukan hal sama dengan yang dilakukannya?

Memang ada kesalahan di luar kemampuan mereka. Ini tampaknya tak perlu diperdebatkan. Rancangan yang sudah dibangun memang gagal total. Ah…..

Suara dering HP. Perempuan itu segera melihat nama yang muncul di layar monitor. “Budi,” katanya pada Bejo.

“Iya, iya. Sebentar lagi mama pulang. Sebentar, satu jam lagi. Iya, mama sama papa. Mau bicara dengan papa? Sebentar. Mas, Budi mau bicara, kangen katanya”

19 Maret 2011

Iklan

2 comments on “Cerpen: Salah Kamar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: