1 Komentar

Cerpen: Saat Subuh Menyapa

SAAT SUBUH MENYAPA

Kolaborasi Asih Suwarsy, Odi Salahuddin, fitri Y.Yeye

Jepretan Sumali Ibnu Chamid

Subuh hampir menyapa. Alunan ayat suci sudah terdengar berkumandang dari pengeras suara Masjid di ujung jalan. Seperti biasanya, selalu terulang, pada saat-saat semacam inilah akan terdengar ketukan keras di pintu. Mi, seperti biasa pula, hanya membaringkan tubuh dan berusaha keras agar tak tertidur, betapapun dirinya telah letih dan sangat mengantuk. Ia tak ingin tidak terjaga. Bila sampai terjadi, maka ketukan akan terus bertubi-tubi, dengan keras, seakan hendak menjebolnya. Ya, Mi, tak ingin hal itu terjadi. Ia tidak ingin tetangga menjadi terganggu dan menjadi bahan omongan di kampung ini. Oh, bukan hanya itu sebenarnya. Terlambat membuka pintu bisa mengakibatkan tubuh-tubuhnya menjadi sasaran empuk hantaman Bo, suaminya.

Ketukan pertama sudah terdengar. Mi tak perlu menunggu ketukan berikutnya untuk segera bangkit dari ranjang. Ketukan demi ketukan yang mengeras saat ia masih tergesa menuju pintu. Segera ia membukanya. Aroma minuman keras menyeruak. Walaupun telah menjadi sarapan pada dini hari, aroma itu tetap saja menyesakkan pernafasan Mi. Sesosok tubuh di depan pintu, dengan langkah terhuyung akan masuk ke dalam rumah ini.Belum tentu bisa sampai ranjang. Seringkali sudah terjatuh diruang tamu.

Walau dengan kekuatan yang nyaris tak ada, Mi akan memaksakan diri untuk membawa suaminya ke tempat tidur. Bukan karena Mi kasihan terhadap Bo, tapi Mi takut dengan tindakan Bo. Seperti yang pernah terjadi, karena tidak kuat memapah Bo, akhirnya Mi membiarkan saja Bo tertidur di ruang tamu.

Akibatnya tak pernah Mi bayangkan. Seperti beruang mengamuk, Bo menghancurkan apa saja yang ada di dalam rumah. Teriakan-teriakan kemarahan, sumpah serapah, hingga kata-kata penghinaan terdengar di telinga Mi. Saat itu Mi hanya bersembunyi di balik lemari. Dia memeluk ke dua anaknya yang sama takutnya dengan dirinya. Dua bocah perempuan yang tak tahu apa-apa. Mi khawatir dengan keselamatan ke dua putrinya. Dia tidak ingin anak-anaknya menjadi sasaran kemarahan Bo. Karena itu saat Bo mengamuk, Mi terus memeluk ke dua putrinya yang masih balita dengan erat. Dia bisa saja meminta ke dua anaknya untuk lari ke tetangga. Tapi sejak suaminya membuat keributan dengan para tetangga, tak ada lagi yang bersimpati untuk menolong Mi dan kedua anaknya. Mungkin mereka sudah lelah atau juga sudah kesal dengan tingkah Bo yang selalu membuat masalah dengan mereka.

”Mengapa harus dipertahankan bila dirimu selalu tersiksa,”

Wi, seorang sahabat dekatnya berkomentar. Sungguh, Mi sama sekali tidak menceritakan apapun tentang dirinya. Sama sekali tidak curhat. Mungkin saja Wi berusaha menebak melihat kondisinya. Atau ia mendengar kisah-kisah dari para tetangga.

Ini masalah rumah tangga sendiri, tidak baik diobral kesana kemari. Apapun yang terjadi, biarlah aku sendiri yangmenanggungnya. Demikian Mi berpikir dan bersikap.Bo adalah pilihan hatinya sendiri. Bukan paksaan. Ia memang sangat mencintai Bo, seorang laki-laki dari desa sebelah. Memang, Bo bukanlah lelaki sempurna. Ia tidak berperawakan tegap ataupun ganteng. Ia biasa-biasa saja. Tubuhnya kurus, walau tidak kurus sekali. Penampilannya selalu ceria, banyak canda dan senyum. Ia juga memiliki jiwa sosial yang tinggi. Tak segan membantu kawan-kawan semampu ia bisa. Ia juga biasa menyiikapi hidup dengan enteng.

”Sudah susah hidup ini, biarlah kita buat tertawa,” demikian ia selalu berkomentar.

Perjumpaan Mi berkenalan pertama kali saat ada lomba karnaval tingkat kecamatan. Waktu itu ia menjadi salah satu panitia. Demikian juga Bo. Semula tidak ada perasaan apa-apa. Tapi kepergiannya dengan Bo, menggunakan sepeda keliling desa-desa untuk menyampaikan undangan, mengompori agar terlibat dalam lomba, membuatnya menjadi dekat.Kisah berjalan begitu saja sehingga mereka menjadi pasangan walau tiada kata cinta terlontar.

”Bukankah cinta tak perlu dikatakan? Biarlah ia mengalir bagaikan air,” demikian Bo pernah berkata ketika ditanyakan apakah ia mencintai Mi dengan sungguh-sungguh. Jawaban yang mengambang dan bisa menjadi pembelaan bila kelak terjadi sesuatu. Tapi Mi diam saja, akhirnya mengikuti aliran kehidupan bersama Bo. Sampai pada akhirnya Bo, setelah mendapatkan pekerjaan sebagai buruh di sebuah pabrik di pinggiran kota, menyatakan ingin memperistrinya, ia sama sekali tak menolak.

Pernikahan mereka berlangsung sederhana. Namun itu tak mengurangi kebahagiaan yang Mi rasakan. Baginya, asal mereka sudah menikah, sesederhana apapun acara itu tak lagi penting. Bahkan andai Bo mengajaknya menikah hanya berdua saja menghadap penghulu, Mi bersedia. Cinta dalam hati Mi sudah seperti bola salju, yang setiap hari bertambah besar. Mi sadar ia tak bisa lagi berpaling dari sosok Bo, lelaki pertama yang singgah dan menempati ruang dalam hatinya.

Hari-hari berlalu dengan tawa dan cerita bahagia. Sinar cinta terlihat jelas dari rumah mereka. Rumah peninggalan orang tua Mi. Rumah yang lumayan tua dan tak lagi terlihat keindahannya. Tapi karena cinta, rumah itu terlihat bercahaya. Oleh Bo rumah itu kemudian di cat dengan warna cerah, hingga tak tampak lagi kalau rumah itu adalah rumah tua yang sudah ketinggalan jaman.

Setiap pagi, saat Bo akan berangkat kerja. Mi akan mencium tangan suaminya. Ciuman tangan itu di iringi doa, agar suaminya mendapat kemudahan dalam mencari rejeki. Dengan lembut pula, Bo akan mencium kening istrinya. Berharap saat kembali nanti, ia masih bisa melihat senyum dan wajah manis istrinya. Dan dengan lambaian tangan, pasangan yang tengah di penuhi bunga-bunga cinta itu pun berpisah. Kehidupan yang indah. Langit mendung tak pernah terlihat di atas rumah mereka. Hanya sinar mentari dan siluet senja yang mewarnai. Sesekali keindahan pelangi, juga menampakkan diri

.Kelengkapan kebahagiaan kehidupan mereka saat anak pertama lahir sangat terasa sekali. Sayang, situasi berubah pada tahun ke lima pernikahan mereka. Peristiwa yang harus dialami selepas melahirkan anak perempuannya yang kedua.

Pada saat itu, ketika kehamilannya mencapai tujuh bulan, Bo mengabarkan kepadanya bahwa dirinya mendapatkan tawaran menggiurkan dari juragan Min yang dikenal bisa menyalurkan orang-orang untuk bekerja di luar negeri. Bo mendapatkan pilihan apakah ke daerah Timur Tengah, Singapore, Malaysia, atau Korea. Ketika disampaikan kepada Mi tentang niatnya, Mi merestui.

”Bila itu pilihan terbaik, aku pasti akan selalu mendukungmu, Kang Mas,”

Surat-surat mulai diurus. Semuanya butuh uang. Tabungan dan seluruh perhiasan Mi yang memang tak seberapa telah berpindah tangan ke pihak lain untuk memenuhi kebutuhan itu.
”Mi, harus bayar 25 juta.” kata Bo, di suatu senja, di teras rumah sembari duduk berdua menikmati kopi dan pisang goreng.

”Kalau tidak, perjalanan akan gagal.”

”Dua puluh lima juta?!” Mi terpana. Darimana mendapatkan uang sebesar itu? Uang yang tak pernah terpegangtangan olehnya. Membayangkan-pun juga takpernah.

”Diberi waktu dua minggu, ini, Mi.” Bo sambil menatap cahaya matahari yang memerah, yang menelusup lewat dedaunan pohon mangga.

Bo sendiri merasa pasrah. Ia merasa tidak bisa melanjutkan perjalanannya untuk mencapai harapan untuk melakukan perubahan dalam kehidupan mereka. Walau sudah keluar uang sekitar dua juta lebih untuk mengurus dan melengkapi surat-surat yang dibutuhkan, uang itu dapat hangus begitu saja tanpa guna. Surat keterangan kesehatan, paspor, dan setumpuk surat-surat lainnya hanya menjadi kertas belaka.

”Ya, sudahlah, Mi,” Bo sambil meraih dan menggenggam jemari Mi yang duduk tertunduk. ”Jangan dipikir. Memang bukan rejeki kita,” lanjut Bo sambil berdiri dan membungkuk di depan Mi. Tangannya mengelus-elus perut Mi yang telah semakin membesar.

Mi mengangguk-anggukkan kepala. Tapi pikirannya berkecamuk. Mencoba menerobos berbagai dinding di kepala mencari celah dan harapan guna membuka jalan agar uang yang dibutuhkan bisa tersedia. Sudah separo jalan, tak perlu dihentikan.

”Eh, kemana si Si, Mi?” Bo membuyarkan bayang-bayang yang tengah bermain dalam kepala Mi menanyakan tentang Si,anak pertama mereka.

Mi menoleh ke arah Bo. Lalu matanya menjelajah sekeliling rumah yang tertangkap mata. ”Tidak kelihatan, mungkin masih asyik bermain di rumah Mpok Ani. Biar aku cari dulu, hampir Maghrib”

***
Mi tidak bisa melepaskan dirinya larut dalam tidur. Walau matanya terpejam, pikirannya terus berlari-lari. Seakan menembus semak belukar, memasuki hutan perawan, menghempaskan berbagai tanaman membuka jalan, suasana gelap. Ia terus berlari, mencari suara gemercik air, mencari cahaya terang. Tapi ia merasa terus berputar pada jalan tak beraturan. Bahkan kembali ke titik semula.

Membuka mata, terlihat Bo sudah terlelap. Kedua anaknya, juga tampak lelap tidur berpelukan di dipan yang terpisah.

”Ah, Kang Bo, pasti ada jalan, pasti ada jalan. Oh, Tuhan, bukalah pintumu, biar aku memasuki rumahmu,danberilahpeneranghatidanpenerangjalan,”pinta Mi dalam hati.

***
Suatu sore, tanpa sengaja Mi berbelanja ke warung pinggir jalan. Di sana ia berpapasan dengan Bu Hani yang sudah berada di atas motor butut dengan mesin yang sudah menyala. Tampak sebuah tas yang terkalung di lehernya menempel di dadanya. Ini seakan menjadi ciri khasnya.

Ia orang kampung sebelah, namun seringkali mengunjungi orang-orang kampung ini. Mi sendiri tidak begitu tahu apa pekerjaan Bu Hani, dan tidak pernah menanyakan langsung ataupun menanyakan kepada para tetangganya yang tampaknya sudah sangat akrab dan sering dikunjungi rumahnyaoleh Bu Hani.

”Ke warung,”sapa Bu Hani ramah.

Mi Mengangguk lalumeneruskan langkahnya.

Bu Hani mematikan mesin motornya. ”Mi, suamimu bekerja dimana?”

Pertanyaan yang terasa aneh di telinga Mi, sehingga ia menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Bu Hani yang juga sudah turun dari motor dan mendekati dirinya. ”Suamimu kerja di mana?” ulangan pertanyaan.

”Ya,cuma buruh pabrik, bu. Dipinggiran kota sana.Ada apa toh, Bu?”

”Tidak, aku dengar katanya mau kerja diluar negeri ya?”

Mi memandang wajah BuHani yang tampak ramah.Mi mengangguk.

”Kapan berangkat, Mi?”

”Entahlah, bu. Sebenarnya sudah mengurus surat-suratnya. Sudah lengkap dokumen-dokumennya semua.Tapi…..”

”Belum ada kepastian berangkat, Mi?”

”Kata Kang Bo sih kemungkinan bulan depan sudah bisa berangkat. Itu kata Kang Min kepada Kang Bo. Suami saya kan minta bantuan dia untuk bisa menyalurkan dirinya agar bisa bekerja di luar negeri itu, Bu.”

”Oh. Lantas, kenapa? Ada masalah?”

”Hm…..”

”Ya,siapa tahu ibu bisa bantu. Sesama tetangga kitakan harus saling membantu,”

***
”Begini loh, Mi,” Bu Hani yang terus memburu hingga sampai di rumah Mi.

”Sayang loh, kalau sudah keluar uang, tapi tidak jadi berangkat. Saya bantu, pasti saya bantu,”
”Tapi,Bu…”
”Ah, tenang saja. Tidak akan ada yang tahu. Saya tidak pernah akan cerita ke siapa-siapa. Kalau ada yang tahu juga jangan dianggap. Tidak perlu malu. Hampir semua orang yang ada di kampung ini pernah saya bantu. Pak Kri waktu menikahkan anak perempuannya secara besar-besaran itu sampai nanggap wayang segala, itu saya bantu loh. Tadi Mbak Na, warung yang kau datangi tadi, juga baru saya bantu. Ini saya mau ke Pak Somad, katanya anaknya butuh biaya. Jadi, jangan sungkan.”

Bu Hani semangat sekali membujuk Mi.

”Begini loh, Mi,” Bu Hani yang terus memburu hingga sampai di rumah Mi. ”Sayang loh, kalau sudah keluar uang,t apit idak jadi berangkat. Saya bantu, pasti saya bantu,”

”Tapi,Bu…”
”Ah, tenang saja. Tidak akan ada yang tahu. Saya tidak pernah akan cerita ke siapa-siapa. Kalau ada yang tahu juga jangan dianggap. Tidak perlu malu. Hampir semua orang yang ada di kampung ini pernah saya bantu. Pak Kri waktu menikahkan anak perempuannya secara besar-besaran itu sampai nanggap wayang segala, itu saya bantu loh. Tadi Mbak Na, warung yang kau datangi tadi, juga baru saya bantu. Ini saya mau ke Pak Somad, katanya anaknya butuh biaya. Jadi, jangan sungkan,” Bu Hani semangat sekali membujuk Mi.

Mi tercenung. Tak disangka ada jalan yang terbuka. Tapi ada keraguan mengapa Bu Hani semangat sekali ingin membantunya. Darimana ia tahu Bo berencana bekerja di luar negeri? Mengapa ia tak tahu bahwa Bu Hani sangat giat membantu orang-orang di kampungnya? Ah… Pikiran Mi melayang-layang. Tas plastik banjaan masih berada di pangkuannya. Ia berdiri.

“Maaf sebentar Bu Hani, saya masukkan dulu belanjaan. Hm, mau minum apa, Bu?”
“Tidak usah repot-repot Mi. Santai saja. Seperti dengan siapa saja. Ya, sudah belanjaannya dibawa masuk dulu.”

Mi masuk meletakkan belanjaan di dapur. Pikirannya masih saja melayang-layang. Ah, Kang Bo, impianmu bisa  terwujud, untuk meraih mimpi-mimpi kita bersama.

“Jadi, bagaimana, Mi? Kebutuhannya berapa sih?”

“Besar sekali,Bu.Dua puluh lima juta,”nada ragu tampak dari suara Mi.

“Oh, gampang, itu gampang, Mi.Ehm, tapi kamu punya sertifikat tanah rumah ini, kan?,”
Mi tercekat. Rumah peninggalan orangtua merupakan kekayaan satu-satunya yang ia miliki sekarang. Tidak.. Tidak akan aku lepas. Tidak akan aku jual. Lama ia terdiam sampai beberapa kali Bu Hani menegurnya.

“Jangan berpikir buruk dulu, Mi. Bukan Ibu hendak membeli. Tapi sebagai jaminan. Ya, untuk jaga-jaga. Pinjam di Bank, sudah pakai jaminan, birokrasinya berbelit-belit, belum tentu juga diberi,”

Ucap bu Hani dengan nada penuh tekanan.

”Terima kasih banyak, Bu. Terima kasih. Sungguh saya bahagia Ibu akan membantu. Biar saya pikir-pikir dulu, ya Bu.Nanti malam akan saya bicara kan dengan Kang Bo,”

”Iya, santai saja. Biar Ibu besok ke sini lagi,”

“Ada Mi, kan saya pinjam di bank. Dan saya pinjamkan lagi untuk orang-orang di kampung sini yang butuh”jelas bu Hani.

“O ya..berarti saya juga oleh minjam donk bu?” Tanya Hani sumringah.

“Gimana caranya bu, bayarnya gimana? trus berapa maksimal kita bisa pinjam?” Mi semakin semangat bertanya.

“Boleh Mi, kalau kamu mau.Kamu butuh berapa?” balasbuHani.

” Dua puluh lima juta bisa,bu?” tanpa ragu Mi menyebutkan nominal yang ia butuhkan.

“Bisa, tapi untuk apa uang sebanyak itu Mi?”tanya bu Hani heran.

“Buat biaya administrasi suami saya bekerja keluar negeri, Bu”jawab Mi.

“Ok, bisa besok kamu nisa ambil ke rumah. saya akan jelaskan berapa kamu harus nyicil setiap bulannya.” ungkap bu Hani panjang lebar.

“Terimakasih banyak bu,Insya Allah besok pasti saya datang” dengan bahagia Mi menjawab. Lalu mereka berpisah.

Keesokan harinya bu Hani memberikan uang yang dijanjikannya. Dengan gembira Mi pulang kerumah dan menyerahkan uang sejumlah  25 juta kepada Bo. Bo senang sekali. Dia langsung pergi dengan terburu-buru ke rumah Pak Min dan menyerahkan uang itu. Dalam kepala Bo sudah banyak rencana yang akan dia wujudkan.Terutama keinginan untuk membahagiakan anak dan istrinya. Tapi anehnya berhari-hari setelah penyerahan uang itu, Bo tak kunjung dipanggil juga untuk bekerja.

Mi mulai gelisah, sementara sebentar lagi bu Hani akan datang menagih cicilan yang lumayan besar. Bo juga mulai terlihat panik. Ia  berusaha mendatangi Pak Min, tapi rumah pak Mi telah kosong. Menurut tetangganya sudah beberapa hari ini Pak Min menghilang. Ternyata bukan hanya Bo yang mencarinya. Ada puluhan orang yang hilir mudik mencari pak Min. Tubuh Bo langsung lemas saat menyadari Pak Min telah minggat dan tidak tinggal di kampung itu lagi. Artinya uang Bo yang 25  juta plus perhiasan Mi yang selama ini di bawa kabur.  Langit serasa menjadi gelap dalam pandangan Bo. Ia dan Mi telah jadi korban Pak Min. Mereka berdua telah tertipu.

Saat  Bo tiba di rumah dan memberitahu Mi, Mi tak bisa menahan tangisnya. Dia benar-benar kalut, pikirannya kacau. Bagaimana cara mereka melunasi hutang pada bu Hani si rentenir itu? Dengan tubuh menggigil karena gemetar Mi meminta Bo melakukan sesuatu, Mi tak sanggup memikul beban itu sendiri.  Karena bingung dan stress dengan masalahnya, Bo mulai berubah. Bo seringkali pulang larut malam. Mi semakin khawatir dengan Bo. Dan sekarang tingkah Bo malah makin menjadi. Bo mabuk-mabukan. Mi makin terpuruk. Sendirian memikirkan nasibnya dalam ruang kesepian yang melelahkan. Bo bahkan tak peduli lagi saat Mi melahirkan anak mereka yang  kedua. Untunglah masih ada tetangga yang mau membantu Mi.

Dua bulan berlalu. Akhirnya yang Mi takutkan terjadi juga. Siang itu bu Hani datang dengan di kawal beberapa pria bertubuh besar. Wajah Mi sudah pucat saat melihat kedatangan orang-orang itu.

“ Sesuai kesepakatan kita Mi, hari ini rumah kamu akan saya sita.” Mi berdiri terpaku. Dia seperti tak percaya dengan ucapan bu Hani. Dengan cepat Mi berlutut di depan bu Hani sambil memegang tangan bu Hani.

“ Tolonglah bu, beri kami kesempatan. Kami akan membayar hutang kami.” Mi memohon dengan linangan air mata. Sementara itu anaknya melihat dengan tatapan tak mengerti. Tapi wajah bu Hani tak berubah. Sejak datang hingga melihat air mata Mi, sikapnya tetap dingin. Tak ada kesan keramahan seperti saat dia membujuk Mi untuk meminjam uang padanya. Dia bahkan mengibaskan tangan Mi yang akhirnya terduduk di lantai rumah yang mulai terkelupas. Mi seakan tak percaya melihat perubahan sikap bu Hani.

“ Saya sudah memberikan kalian kesempatan. Tapi ini sudah dua minggu. Kesabaran saya sudah habis. Mana suamimu? Saya ingin kalian berdua melihat surat perjanjian yang telah kamu tanda tangani. Setelah itu kalian harus segera angkat kaki dari rumah ini. Rumah ini sejak hari ini menjadi milik saya.” Mi makin panik. Dia tidak ingin kehilangan rumah yang sejak kecil menjadi tempatnya bernaung.Mi maju memegang tangan bu Hani lagi. Dia masih mencoba memohon belas kasih dari bu Hani. Saat itulah Bo keluar, dia juga sama terkejutnya dengan Mi.

“ Karena sekarang suamimu sudah ada. Saya minta kalian menandatangani surat penyerahan hak atas rumah ini.”  bu Hani mengeluarkan kertas yang terlipat dari dalam tasnya. Kertas itu kemudian di berikan dengan kasar ke tangan Bo yang sejak tadi terdiam. Mi berdiri dan merebut kertas itu dari tangan suaminya.

“ Aku  dan suamiku tidak mau menantangani apapun. Kami tidak akan menyerahkan rumah ini. Kalian tidak berhak mengambil rumah kami!”  teriaknya histeris. Mi hendak merobek kertas itu ketika bu Hani berteriak lantang.

“ Robek saja kertas itu dan kalian akan berakhir di penjara karena tuduhan penipuan.” Mi terkesima. Tubuhnya tak kuasa lagi berdiri. Kembali dia terduduk di lantai. Airmatanya nyaris membasahi kertas itu kalau saja Bo tidak segera mengambilnya.

“ Kami akan tanda tangan.” ucapnya pasrah. Mi memegang tangan suaminya. Pandangan matanya terlihat memohon.

“ Kalau tidak tanda tangan  kita berdua akan di penjara. Bagaimana dengan Si? Siapa yang akan menjaganya. Kamu juga sementara hamil.”  Mi terdiam. Dengan berlinang airmata dia akhirnya menandatangani kertas itu.

Senyum kemenangan tersunging di wajah bu Hani mengiringi kepergian mereka. Bo menarik tangan Mi yang histeris tak rela meninggalkan rumah mereka. Mi tak rela kehilangan satu-satunya peninggalan orang tuanya. Dengan berurai air mata Mi berjalan di samping suaminya. Tangannya memegang kandungannya yang sudah tujuh bulan. Kepala Mi makin terasa berat. Membayangkan dia akan melahirkan membuatnya makin cemas. Kemana dia, anaknya dan suaminya akan pergi? Tak ada sanak saudara yang akan menerima Bo yang sudah terkenal suka mabuk-mabukan.

Syukurlah malam itu Haji Maksun yang rumahnya dekat mesjid bersedia menampung mereka. Tapi itu hanya sementara. Malam itu juga haji Maksun mencari rumah kost untuk mereka. Tak lupa wejangan yang sangat banyak di tujukan untuk Bo. Malam itu Bo manggut-manggut. Wajahnya terlihat penuh penyesalan. Mi juga yang semula kesal dengan tingkah Bo yang suka mabuk-mabukkan akhirnya jatuh iba. Sesaat sebelum mereka tertidur, Mi mengatakan kalau dia sangat mencintai Bo. Demi anak-anak  mereka Bo harus berubah, kembali seperti Bo yang Mi kenal.

Tapi janji tinggal janji. Sejak malam itu Bo sama sekali tak berubah. Bahkan tingkahnya semakin menakutkan. Dari sikap dan tutur katanya yang halus, Bo berubah menjadi kasar. Kata-kata umpatan disertai dengan pukulan menjadi rutinitas yang diterima Mi.

Entah sampai kapan Mi akan sanggup bertahan. Dia  selalu berdoa di setiap sholatnya, agar suaminya mendapat hidayah dan segera berubah. Seburuk apapun Bo, Mi masih sangat mencintainya. Mi selalu bermimpi, kebahagiaan yang pernah ia rasakan akan hadir kembali dalam kehidupannya. Kehidupan penuh cinta seperti saat pertama ia dan Bo memulai kehidupan baru mereka. *****

Iklan

One comment on “Cerpen: Saat Subuh Menyapa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: