2 Komentar

Cerpen: Kenangan 1520

KENANGAN  1520

kolaborasi Asih Suwary, Fitri Y. Yeye, dan Odi Shalahuddin

 

 

Namaku adalah Kenangan. Sesuai nomor urut kejadianku, maka di belakang namaku ada angkalimabelas dua puluh yang mengikuti. Angkalimabelas itu adalah umur si pemilik kenangan saat aku terlahir sedangkan angka dua puluh adalah nomor kamarku. Olehnya aku kemudian ditempatkan dalam ruang yang sangat luas. Dalam ruang itu terdapat banyak kamar. Aku bahkan belum sempat menghitungnya hingga selesai, apalagi menghitung jumlah penghuninya yang terus saja bertambah.

Saat pertama kali aku datang, sudah banyak kenangan-kenangan lain yang telah menempati kamar mereka masing-masing. Aku ditempatkan di lantailima belas, kamar dua puluh. Dalam kamar itu tak ada apa-apa, hanya ruang kosong. Tak ada lampu, apalagi jendela. Aku bahkan tak tahu sudah berapa lama aku berada disini. Walau awalnya mencoba mencoret-coret dinding dengan tanda untuk menghitung hari-hari, tapi lelah pula dan tak berkelanjutan. Pasrah. Biarlah waktu terus berjalan tanpa aku tahu saat apa dan bagaimana.

Setiap saat aku hanya memperhatikan kenangan-kenangan lain yang hilir mudik di depan kamarku. Aku tak tahu apa yang mereka kerjakan. Mereka, dengan wajah-wajah baru silih berganti, tak sempat aku mengenali satu persatu.

Kesendiriandalam ruangan tak membuatku jenuh. Kepasrahan untuk menikmati. Aku hanya merasa aneh saja dengan sikap kenangan-kenangan lain. Sejak berada di sini tak ada satupun yang ingin mengenalku. Jangankan berbincang, tersenyum saja mereka enggan. Hanya tatapan aneh yang sering aku lihat saat mereka melintas di depan kamarku. Kadang aku juga ingin berada diantara mereka. Bercanda bersama mereka. Ada bahkan yang terlihat sangat akrab. Padahal mereka berasal dari lantai yang berbeda. Aneh, mengapa aku yang berada dalam kamar yang sangat banyak penghuninya ini, tak jua menemukan teman?

“Kenangan lantai lima belas nomor dua puluh! Ada panggilan untukmu!”

Aku terhenyak kaget. Rasa takut menyerangku. Apakah suara itu lagi yang datang? Suara yang selalu menarikku dengan paksa dan menyiksa tubuhku? Suara itu sangat keras hingga memekakkan telinga. Tapi anehnya, kenangan lain tidak terpengaruh. Mereka seolah tak mendengar suara yang begitu keras, padahal suara itu nyaris menjatuhkanku.
Aku memandang ke seluruh ruangan. Tak ada siapapun yang berdiri memanggilku.

“Kenangan lantai lima belas nomor dua puluh! Ada panggilan untukmu!”

Kembali aku tersentak kaget. Mengapa kenangan lain itu tidak bergeming seolah tidak mendengarkan suara yang sangat keras itu.

“Ayo ikut!” tiba-tiba seperti ada yang menarikku. Aku serasa terbang menembus langit-langit. Tapi anehnya tak ada satupun kenangan yang melihatku. Mereka tetap asyik dengan kesibukan mereka. Aku terbang lalu terhempas di sebuah ruang yang sangat luas tanpa sekat. Tergeletak di lantai yang sangat dingin. Belum sempat tersadar akan ruangan ini, Tangan-tangan tak terlihat menarikku paksa dan menghempaskan diriku sehingga terduduk di kursi pesakitan. Rasa sakit benar-benar terasa di sekujur tubuhku. Aku terduduk dengan lemas, tak ada tenaga untuk bangkit. Beberapa tangan berusaha untuk menarikku. Tarikan yang terasa begitu kuat. Beruntung ada suara ”Cukup,”

Apakah aku layak bersyukur, tindakan yang membuatku sakit bisa terhenti? Entahlah. Aku tetap saja merasa berada di ruang asing dimana segala kemungkinan bisa terjadi terhadapku. Apa itu? Entah. Benar, sungguh, aku tak paham.

“Ayo ceritakan, nona. Mengapa nona membunuh ayah tiri nona?”

Tubuhku terurai memanjang lalu perlahan-lahan melewati lorong. Aku kembali.

Sepuluh tahun yang lalu.

Pernikahan kedua ternyata membuat ibu begitu bahagia. Senyum bahagia tampak jelas saat si ibu menjabat tangan para undangan yang datang. Wajar jika ibu tersebut bahagia, sekian lama menjanda akhirnya ada seorang pengusaha kaya yang akhirnya jatuh cinta pada si ibu dan melamar nya untuk menjadikan dia istri. Ibu itu tak perlu lagi bersusah payah bekerja. Tak perlu lagi berdagang keliling karena sudah ada seseorang yang akan menopang hidupnya. Si gadis duduk di sudut ruangan dengan rasa bahagia. Namun tidak demikian saat matanya bertemu dengan ayah tirinya. Gadis itu merasa tatapan ayah tirinya itu seperti belati yang akan menusuk jantungnya. Terasa sangat aneh. Gadis itu tidak suka melihatnya. Sementara itu suasana riuh di ruangan terasa sekali. Semuanya saling bercengkerama dengan canda bahagia. Wajah mereka berseri-seri, menandakan hati yang berbunga-bunga.

“Masuklah, sekarang ini adalah kamarmu.” ucap ayah tirinya dengan ramah. Gadis itu menatapnya sekilas. Cepat dia palingkan wajahnya. Gadis itu tidak suka melihat sinar mata dari ayah tirinya. Terkesan seperti seseorang yang sangat kehausan dan butuh untuk segera meminum segelas air.

Mata gadis itu menatap sekeliling. Kamar yang cukup besar, sebuah bad berkelas tertutup kain sprei kotak-kotak rapi dan bersih, ada selimut bulu tebal terlipat menutupi sepertiga sprei. Lemari kayu berukuran sedang terpajang dipinggirnya.

Langkahku terhenti. Terdengar lagi sebuah suara.

“Ayo, nona. Lanjutkan ceritamu!”

Tubuhku tertarik perlahan.Tersendat-sendat. Aku tidak suka. Ini sangat menyiksaku. Tubuhku terurai lagi.

Malam itu saat sang gadis sedang terlelap. Terasa sebuah tangan mencengkramnya. Sebuah beban berat menindih, seluruh tubuh terasa teraba, dan jilatan dan ciuman penuh nafsu di seputar leher dan wajah membuatnya menggelinjang. Tapi kesadaran segera muncul. Saat mata terbuka, mulut tiba-tiba terbekap oleh sebuah tangan kokoh yang membuat tak mampu berteriak. Berusaha meronta. Tekanan semakin kuat, membuat sulit untuk bernafas.

Kedua tangan gadis itu berusaha memukuli tubuh yang menindih, seperti tanpa daya dan tak ada perubahan. Tangan kanan Lelaki itu liar meraba-raba tubuhnya, berusaha menyibakkan rok, dan memasuki rongga hingga menyentuh langsung kulit pahanya.

Tangan meraba-raba ke kanan, sampai pada tombol lampu meja. Terang terbangun. Sosok wajah yang menindih terlihat nyata. Ayah tiri!

Lampu meja sekuat tenaga ditariknya dan dihantamkan ke arah kepala lelaki itu. Tekanan sedikit berkurang, ia menarik kedua kaki lalu mengayunkan dengan sekuat tenaga ke perut lelaki itu sehingga terjungkal ke lantai. Gadis itu segera bangkit dari ranjang, merapat ke lemari pendek yang ada di samping ranjang. Ia memandangi lelaki yang masih tergeletak di lantai, yang berusaha bangkit dengan senyum menyeringai seakan memang hendak memakan mangsanya.

Gadis itu semakin merapatkan diri pada lemari pendek dengan tangan di belakang, bergeser dan bersiap melihat kemungkinan lelaki itu memburunya. Tanganya terasa memegang benda dingin. Segera diraih dan tersimpan di tangannya yang bersembunyi di belakang tubuhnya.

Lelaki itu menghambur ke dirinya hendak memeluk, dengan cepat, gadis itu mengayunkan gunting tepat di dada lelaki itu. Jeritan sang lelaki yang terhuyung. Ia gerakkan gunting yang masih terhujam. Ia cabut dan tancapkan kembali ke tubuh itu. Mata lelaki terasa lemah memandangnya. Menahan sakit, lalu ambruk. Gerakan-gerakan tubuh yang semakin memelan. Kemudian diam. Gadis itu masih memandangnya. Dengan kaki, ia menyentuh tubuh lelaki yang benar-benar sudah tak bergerak lagi. Kepanikan melanda hati sang gadis.

Aku melihat lemari yang digunakan gadis itu untuk menyembunyikan mayat ayah tirinya yang bejat itu. Darah masih berceceran di dalam kamar, dengan panik gadis itu menarik sprei kotak-kotak, mengelap lantai kamar dengan terburu-buru. Wajah pucat ketakutan jelas terpancar dari sudut matanya yang telah bersimbah airmata. Gadis itu lalu melipat seprei itu memasukkannya ke dalam tas biru muda yang di bawanya saat itu.

Akhirnya aku bisa kembali. Kisahku akhirnya didengarkan banyak orang. Aku kini tak sendiri lagi. Walau aku harus kembali ke rumah kenangan itu. Aku rela. Aku tak perlu merasakan siksaan lagi. Karena semua orang telah tahu kisahku.

Sumber Gambar dari SINI:

Iklan

2 comments on “Cerpen: Kenangan 1520

  1. walah menyeramkan nih om. hihi untung saja bacanya pagi pagi

    hihi

    selamat pagi ooom

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: