Tinggalkan komentar

Berjumpa Ibu Prapto, Ibu Anak Jalanan Semarang #5

BERJUMPA IBU PRAPTO, IBU ANAK JALANAN SEMARANG #5

Odi Shalahuddin

Kegiatan berbelanja Ibu Prapto (Foto Hening Budiyawati)

Bu Prapto

Sambil menikmati pijatan dan urutan Ibu Prapto, pikiranku melayang-layang. Teringat akan masa-masa lalu tentang kehidupan anak-anak jalanan Semarang.

Anak-anak jalanan yang sebagian besar pada masa tahun 1996 mulai mengorganisir diri mereka ke dalam Paguyuban Anak Jalanan Semarang (PAJS) dan bersama-sama memilih serta menetapkan sebuah rumah untuk disewa sebagai tempat tinggal bersama, hanya diperuntukkan bagi anak jalanan laki-laki.

Anak jalanan perempuan, dibayangkan masih tinggal bersama orangtua atau keluarga mereka. Namun nyatanya tidak, ternyata diketahui banyak anak-anak jalanan perempuan yang tinggal di jalanan. Hal ini menimbulkan persoalan tersendiri, terlebih ketika beberapa anak perempuan mulai sering bermalam. Ini menimbulkan reaksi dari masyarakat yang semakin kencang menentang keberadaan rumah yang digunakan oleh anak-anak jalanan.

Mengatasi hal tersebut, para pendamping mencoba mencari orang/keluarga yang bersedia memberikan tempat bagi anak jalanan perempuan. Ternyata, Ibu Prapto satu-satunya orang yang tanpa pikir panjang langsung menyatakan kesediaannya. Pada awalnya tiga anak jalanan perempuan mulai tinggal di rumahnya, tapi semakin hari semakin bertambah dan bergantian anak jalanan perempuan yang tinggal. Selain itu, anak jalanan laki-laki, terutama yang tengah menderita sakit dan membutuhkan perawatan, juga ditempatkan di rumahnya.

Ibu Prapto tidak pernah membeda-bedakan antara anak-anaknya sendiri dengan anak-anak jalanan yang menetap di rumahnya. Ia menyediakan makan yang sama dan makan bersama-sama. Padahal, ia tidak mendapatkan bantuan dari pihak manapun untuk menghidupi anak-anak jalanan.

Ia melakukannya dengan tulus, mengeluarkan biaya-biaya untuk anak jalanan dari uang pribadinya. Iapun bersikap legawa, ketika barang-barang di rumahnya banyak yang pecah atau bahkan hilang tercuri, termasuk cincin satu-satunya yang merupakan peninggalan suaminya.

Ia merasa bahagia bila anak-anak jalanan bisa bergembira. Ia akan merasa turut bersusah hati apabila anak-anak jalanan ada yang tengah mengalami masalah. Ia akan berusaha untuk turut membantu sebisanya agar masalah anak-anak bisa terselesaikan. Baik sebagai tempat untuk mendengarkan curahan hati anak-anak, atau turut bertindak melakukan sesuatu yang dinilai berarti.

”Sulit memang untuk memahami secara akal sehat dengan cara berpikirnya. Ia menyatakan makan untuk empat orang dan makan untuk 20 orang sama saja. Hidupnya mengalir, dan selalu saja ada makan(an).” Yoyok, personil Yayasan Setara yang aktif di kesenian Semarang dan pernah tinggal sekitar dua tahun di rumah Ibu Prapto menyatakan pandangannya. ”Absurd, dan memang harus dipahami dengan hati,”

Ketika rumah anak jalanan di serang para preman, rumah Ibu Prapto juga mendapatkan teror serupa dari pemuda kampung dan juga orang-orang dari luar kampung. Kendati disadari ada ketakutan di hatinya, ia berusaha untuk tegar  dan bersikukuh untuk mempertahankan rumahnya sebagai tempat tinggal anak jalanan. Ia menolak tawaran bila bersedia mengusir anak jalanan, maka rumahnya akan dijamin keamanannya. ”Anak jalanan perlu mendapat pertolongan. Jangan hanya melihat anak jalanan sebelah mata. Bagaimanapun hidup di jalanan bukan pilihannya. Mereka tidak ada bedanya dengan kita sendiri. Bukan untuk disakiti ataupun disingkirkan,”

Dengan segala keterbatasannya, ia tetap mempertahankan rumahnya sebagai ruang yang terbuka bagi anak-anak jalanan untuk beristirahat atau tinggal bersamanya. Termasuk pula bila ada anak-anak jalanan dari berbagai kota yang singgah di Semarang, sering menginap di rumahnya. Tidaklah mengherankan bilamana anak-anak menyebutnya sebagai Ibu Anak Jalanan Semarang.

”Saya kira, belum tentu ada satu orang dari seribu orang yang bisa seperti Ibu Prapto. Ia orang yang luar biasa dan sangat tulus,” tutur Adhi anggota Komunitas Pengamen Jalanan (KPJ) Semarang yang mengenal Ibu Prapto sejak tahun 2006, katanya dalam suatu perbincangan. (bersambung)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: