1 Komentar

Berjumpa Ibu Prapto, Ibu Anak Jalanan Semarang #4

BERJUMPA IBU PRAPTO, IBU ANAK JALANAN SEMARANG #4

Odi Shalahuddin

Ibu Prapto bersama anak sulungnya dan cucunya

’Aduh…” berulang kali mengaduh ketika pijatan sangat terasa di banyak bagian tubuh.

”Ya, kita ini sudah tua, loh, Mas Odi,” komentar yang terasa lebih untuk mengingatkan. ”Semuanya kencang sekali. Tapi semoga saja bisa berkurang. Seminggu atau 10 hari lagi biar nanti dipijat lagi,”

Sakit, tapi pijatannya benar-benar terasa. Pada beberapa bagian dilakukan dengan mengeroknya. Sambil memijat, Ibu Prapto juga menemani ngobrol beberapa ibu-ibu tetangga, membicarakan berbagai hal yang terkait dengan kehidupan sehari-hari.

”Maaf, loh, Mas Odi. Ya, setiap hari, seperti ini. Selalu ramai.”

”Gak papa, Bu. Senang juga mendengarnya.. Aduh….” sahutku yang berlanjut dengan teriakan ketika pijatan tepat pada bagian yang sakit. Ya, beberapa kali ke sini, rumah ini memang tidak pernah sepi dari kunjungan para tetangga. Dari para orangtua, orang muda, dan anak-anak, terasa silih berganti. Rumah yang sangat hidup, tentulah ditentukan oleh tuan rumahnya sendiri yang bisa membuat nyaman para tamu. Ibu Prapto sering menjadi tempat curhat dari para tetangga tanpa mengenal batas usia.

Memang telah terjadi perubahan sikap dari masyarakat sekitar kepada Ibu Prapto. Pada masa-masa awal Ibu Prapto memberikan perhatian terhadap anak-anak jalanan sejak pertengahan tahun 1990-an hingga awal 2000-an, para tetangga sempat memusuhinya, banyak yang mencari-cari kesalahannya, bahkan tidak jarang ada teror-teror dari orang-orang tak dikenal.

Perubahan mulai terjadi ketika pada masa krisis, anak-anak di kampung itu juga mulai banyak yang turun ke jalanan, dan Ibu Prapto tetap memberikan perhatian terhadap mereka. Ia sama sekali tidak menyimpan dendam. Ya, seperti prinsip yang dipegangnya: Cinta akan membawa pada kedamaian, cinta bisa menjadi kekuatan. Lantaran cinta itulah yang menggerakkan apa-apa yang diperbuatnya.

Kampung Gunung Brintik pernah dikenal sebagai daerah basis tempat tinggal anak jalanan. Tidak sekedar di Gang 7, di mana Ibu Prapto tinggal, tetapi juga menyebar ke berbagai gang-gang lainnya.

Saat saya menyusun buku yang diterbitkan oleh Yayasan Setara pada tahun 2004: ”Dibawah Bayang-bayang Ancaman: Dinamika Kehidupan Anak Jalanan” yang berisi tentang Situasi dan perkembangan kehidupan anak jalanan di Semarang pada periode 1996-2001, saya sempat mewawancarai seorang anak dari Gunung Brintik yang menjadi orang yang pertama turun ke jalanan. Ia seorang anak laki-laki yang mulai turun ke jalanan pada tahun 1992, saat duduk di bangku kelas 1 SMP. Berdasarkan pengakuannya, ia ke jalanan lantaran diajak oleh kawannya dari kampung lain. Sekitar tahun 1994-1995, mulai ada beberapa anak yang turun ke jalanan, termasuk ketiga anak dari Ibu Prapto.

Pada tahun 1996, Yayasan Setara, NGO yang dibentuk oleh sebuah tim kerja yang merupakan pihak yang pertama kali  bekerja untuk anak jalanan di Semarang sejak tahun 1993, mencatat ada 10 anak jalanan yang berasal dari Gunung Brintik. Pada tahun 1997, jumlah itu telah meningkat menjadi 20 anak. Pendataan yang dilakukan pada dua gang (Gang VII dan Gang VIII) di Gunung Brintik, pada tahun 1999, dari 158 anak yang ada di kampung tersebut, 63 anak atau 40% telah melakukan kegiatan di jalanan. Jumlah itu terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Oleh karenanya, Yayasan Setara menempatkan kampung Gunung Brintik sebagai salah satu daerah basis anak jalanan.

Nah, pada periode awal, di mana masih sedikit anak jalanan di kampung tersebut, dan ketika Ibu Prapto menyediakan rumahnya juga sebagai tempat tinggal bagi anak jalanan dari luar kota yang hendak melanjutkan sekolah formalnya, dan sebagai tempat tinggal bagi anak-anak jalanan perempuan, hal itu tentu saja menimbulkan reaksi dari para tetangganya.

Umum diketahui bahwa anak jalanan mendapat stigma sebagai sosok-sosok yang berperilaku berbeda dengan nilai atau norma umum, dengan penampilan yang ”unik”, perilakunya cenderung liar, dan dekat dengan tindakan ”kriminal”. Beberapa kali kasus pencurian yang terjadi (atau hanya sebagai alasan) membuat Ibu Prapto sering didatangi oleh para tetangganya, dan mendorong agar anak-anak jalanan tidak tinggal di rumahnya lagi. (bersambung)

____________

Terima kasih kepada rekan Hening atas foto-foto Ibu Prapto dan keluarganya, juga memberikan dokumentasi foto-foto kegiatan Yayasan Setara untuk digunakan dalam seri tulisan ini.

 

One comment on “Berjumpa Ibu Prapto, Ibu Anak Jalanan Semarang #4

  1. Info yg mencerahkan mas… Sukses selalu ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: