Tinggalkan komentar

Kisah Toko Cinta (3)

KISAH TOKO CINTA (3)

Odi Shalahuddin

Siaran langsung?! Pastilah terjadi sesuatu. Sesuatu di luar kebiasaan. Sesuatu yang luar biasa atau dianggap luar biasa. Kemacetan di Jakarta, tentu bukan hal baru, walau tetap saja mengasyikkan untuk dijadikan berita dan bahan diskusi. Kemacetan di kota ini, tak pernah terjadi kecuali pada masa kampanye, dan tiba-tiba terjadi, pastilah memang terjadi sesuatu yang luar biasa.

”Toko Cinta,” kabar dari mulut ke mulut, sampai pula telinga, terucap lagi dari mulutku, merembet, ”antrian di Toko Cinta.”

”Orang-orang gila!” sms dari istriku lagi.

”Oh, gitu toh?” jawaban sms dari diriku untuk istri.

Bagaikan mimpi. Hanya sekejab. Di Luar dugaan. Di luar logika. Tak lebih dari 15 menit, pergerakan orang di sekitar sini sangat luar biasa.

Benar-benar terjebak. Berencana memarkir motor ini di pinggiran, lalu akan kutinggalkan, juga tak bisa. Sudah tak ada ruang sama sekali. Motor-mobil-sepeda, sudah saling bersenggolan. Itupun masih bergoyang-goyang ketika para pejalan kaki, entah dari mana juga berupaya merengsek melalui celah-celah sempit yang dianggap terbuka.

Entah siapa memulai, diantara pejalan juga telah membaca cat pilox yang disemprotkan ke mobil-mobil dengan menggambar hati. Ah. Pemilik kendaraan mewah-pun tak bisa berkutiklagi. Paling hanya merutuki nasibnya yang malang sambil menghitung-hitung biaya untuk mengecat kembali coretan-coretan garis yang tercipta. Eh, iya, kalau dikendarai sendiri. Kalau pengendaranya adalah sopir tanpa sang pemilik menjadi penumpangnya. Aduh, kasihan kalau begitu. Benar-benar nasib sial. Berapa bulan gaji akan lenyap bila sang pemilik tak bijaksana.

Suara bising dari mesin dan klakson kendaraan bermotor memang sudah hilang. Tapi hiruk pikuk masih terjadi dari suara orang-orang yang saling berbicara, berteriak, bernyanyi-nyanyi, mendendangkan lagu-lagu jawa, dan entah apa lagi.

Helikopter yang terbang rendah, berputar-putar di atas. Orang-orang berseragam polisi dan tentara dengan pentungan dan perisai,tiba-tiba saja sudah menyebar ke berbagai ruang, utamanya di pinggiran jalan, mengatur para pejalan kaki, lalu membentuk pagar betis.

Tidak ada kendaraan yang bisa bergerak. Sungguh. Macet total.Kulihat ke belakang, antrian entah sudah sampai mana, yang pasti, sepanjang mata memandang sampai ujung jalan yang terlihat, sudah penuh dengan kendaraan dan orang-orang yang berdatangan.

Apakah yang kualami hanya mimpi belaka? Ah…..

”Wah, situasi mmg gawat, Mas. Seluruh saluran Televisi siaran langsung ttg Toko Cinta di kota kita,” sms dari istriku

”macet lbh 5 km. Slr penjuru. Macet total. Arus dr luar kota juga padat. Lagi krisis. KRISIS CINTA,” sms istriku menyusul sebelum sempat kubalas

”Cinta kt msh banyak, Mas? Belum krisis,” sms-nya lagi.

”Mas, cintaku, sayangku, cintaku, cinta, cinta, cinta…..” lagi.

Bertubi-tubi sms datang. Belum sempat terbalas.

Di sini makin padat saja. Cuaca yang sangat cerah, mataharipun menghujamkan panasnya dengan bebas. Keringat telah bercucuran. Banyak orang mulai membuka pakaian atasnya. Bertelanjang dada. Pakaian dikibas-kibaskan untuk mendinginkan tubuhnya sendiri. Sambil sesekali menghapus keringat yang mulai deras. Tapi, tenang saja, belum terlihat ada perempuan ikutan bertelanjang dada.  (bersambung)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: