Tinggalkan komentar

(Cerpen) Surti

SURTI

Cerpen Odi Shalahuddin


Di dalam kamar, Surti mendekap kedua kakinya sambil bersandar pada ujung ranjang yang berhimpit tembok dengan bantal sebagai pengganjalnya. Televisi di depannya masih menyala. Meskipun matanya menatap kea rah sana, perhatian sama sekali tak ada. Tatapan mata kosong. Bila ada yang berbicara pada saat ini, hanyalah kelebatan bayang-bayang yang terus berkecamuk di kepalanya. Dadanya terasa terus berdebar kencang.

”Ah,” desisnya pendek yang keluar dari bibir kecilnya yang indah. Jemarinya memainkan rambut yang disampirkan ke dapan, bergantung di dadanya. Ia meraih gelas dari meja di sampingnya dan menegukkan perlahan. Ia berusaha menikmati. Setelah itu, tatapannya kembali jauh menembus angkasa. Tangannya menggoyang-goyangkan gelas

Terdengar suara tembakan. Tepat di jantung peluru bersarang. Gelas yang dipegang Surti terjatuh. Airnya tumpah ke kasur. Seseorang telah terkapar. Itulah adegan yang terlihat di televisi. Suara tembakan itulah yang mengejutkan dan menghentikan lamunannya. Surti merasa tertembak pula. Sebuah peluru yang telah melaju menembusnya dari senjata lain. Peluru yang bersarang di jantung. Tapi ia tak mati. Ini lebih menyakitkan!

Surti mengibaskan rambutnya ke belakang. Tangannya mengambil gelas yang terjatuh dan meletakkan kembali di atas meja. Ia turun dari ranjang. Sprei ditarik, lalu digunakan untuk mengelap air yang sudah terlanjur menembus kasur. Ia meletakkan sprei itu di keranjang tempat pakaian kotornya yang juga bertumpuk. Ia mengambil sprei baru dalam lemari. Memasangnya dengan rapi.

Surti mendekati meja. Matanya tertancap pada sebuah foto yang terpajang dengan bingkai yang terlihat cantik. Foto yang menggambarkan sepasang manusia penuh dengan ekspresi kebahagiaan. Seorang lelaki tertawa renyah dan gigi putihnya begitu tampak, setengah berdiri, sedang di belakangnya seorang perempuan memeluk dengan wajah lepas memandang ke depan dengan senyum teramat manis. Buih-buih gelombang laut bagaikan salju menjadi latar belakangnya.

Surti menarik kursi, lalu duduk. Tangannya meraih foto itu dan menatapnya lekat. Kemudian matanya berkaca-kaca. Ia memejamkan mata dan menggigiti bibirnya sendiri. Tak bisa ia bendung ketika segenap memori memunculkan berbagai gambar yang pernah dilewatinya. Bagaikan menonton sebuah film dokumenter yang panjang. Ah, itu, awal-awal ia berkenalan dengan Mas No. Lalu berganti saat-saat terindah ketika Mas No membuat pengakuan yang telah lama ia nanti setelah tiga tahun berkenalan dan berjalan bersama. Waktu berikutnya, tatkala Mas No, di sebuah restaurant dengan suasana remang-remang berkata dengan gugupnya meminta kesediaannya untuk menjadi istri. Selanjutnya, saat-saat kemeriahan pesta ketika mereka berdua bersanding di pelaminan menjadi raja sehari. Sampai lima tahun perjalanan mereka lalui sebagai pasangan suami-istri. Kehidupan yang indah, tanpa gejolak berarti. Sampai kini. Mas No? Entahlah.

Sepasang cecak di dinding tertangkap mata Surti ketika ia mendongakkan kepalanya. Kepala mereka beradu, berpaling, saling bertatapan. Berpaling, saling berpaling. Bertatapan, saling bertatapan. Satu lari, satunya mengejar. Keduanya lalu tampak diam berhadap-hadapan kembali. Dan, ”Ah,” Surti kembali mendesah. ”Alangkah bahagianya cecak-cecak itu,” kata yang terlempar dari hatinya. Ia berusaha mengelak ketika pikirannya membayangkan bahwa pasangan cecak itu adalah dirinya dan Mas No.

”Tidak!” teriaknya spontan, ”Cecak kan binatang,”

Surti meletakkan kembali foto itu di tempatnya semula. Ia pandangi dan tangannya kemudian menelungkupkan foto itu. Terasa perih! Mengapa semua harus menjadi kenangan?

Suara gemerisik mengejutkan Surti. Ia menoleh ke belakang. Layar di televisi telah dipenuhi oleh jutaan titik yang timbul tenggelam bergantian. Surti melangkah, mendekati dan memencet salah satu tombol. Gemerisik dan gambar titik, lenyap. Gambar gelap. Segelap hatinya.

Surti membaringkan diri di ranjang. “Enam hari sudah,” katanya kepada dirinya sendiri. Ya, enam hari ia menempati kamar ini tanpa kehadiran Mas No. Terasa sepi. Besok sudah hari ke tujuh. Hari yang dinantinya dengan perasaan amat tersiksa. Besok ia sudah harus mengambil keputusan. Keputusan yang harus diungkapkan kepada Mas No. Apapun keputusan itu, Mas No pasti akan menerimanya, walau mungkin pula bisa kecewa. Begitulah Surti menanamkan keyakinan di dalam dirinya. Mas No yang ia kenal selama ini, selalu konsisten dengan apa yang diucapkan atau dijanjikannya. Ia telah mengenal luar-dalam Mas No.

”Duh Gusti, mengapa aku harus dihadapkan pada masalah seperti ini,” keluh Surti.

Detak jam memutar jarum-jarumnya. Dari detik ke detik. Terasa bagaikan tusukan jarum berirama ke hatinya.

Hanya ”Ya” atau ”Tidak”, singkat saja keputusan yang harus diambilnya. Tanpa memberi alasan apapun. Begitulah Mas No mengatakannya. Tapi mengapa terlampau sulit untuk memilih salah satunya.

Surti masih punya keyakinan bahwa ia sangat mencintai Mas No. Teramat sangat. Ia akan rela mengorbankan apa saja demi kebahagiaan Mas No. Seperti perjalanan bahtera rumah tangga ini berjalan lancar penuh kepercayaan. Mereka saling mempercayai, saling terbuka, saling berusaha memahami, hingga tidak pernah muncul masalah-masalah yang menimbulkan keributan besar.

Petir terasa menyambar di kepala Surti tatkala Mas No meminta ijin untuk menikah lagi. Surti menatap tajam dengan perasaan berkecamuk. Tidak salahkah yang didengarnya? Tidak salahkah suara itu keluar dari mulut Mas No yang teramat dicintainya? Apakah benar desas-desus selama ini yang mengatakan Mas No ada main dengan Selfi, tetangga sebelah rumah? Apakah salahku? Aku mempunyai kesalahan yang tak termaafkan? Mengapa? Mengapa Mas No tidak menegurnya.

Surti diam tak menjawab. Hancur perasaannya Mas No sudah tidak mencintainya lagi. Demikian ia pikir.

”Aku tidak memaksamu untuk memberi jawaban pada saat ini. Aku tidak akan memaksakan bahwa hal itu harus terjadi. Tergantung keputusanmu. Aku akan mematuhinya,” demikian kata Mas No.

Surti masih diam. Wajahnya basah oleh air mata yang tak tertahankan. Mas No mendekat kepadanya, merangkulnya dan berkata, ”Aku sangat mencintaimu. Sungguh,”

Kepala Surti terasa mau meledak. Ia membalikkan badan menepiskan rangkulan dan memukuli dada Mas No. ”Pengkhianat! Pengkhianat! Pengkhianat!” teriaknya berulang sambil melampiaskan segenap emosinya. Setelah itu ia lari masuk ke kamar.

Setelah menghempaskan dirinya ke ranjang, setelah meluapkan segala emosi dengan tangisnya, setelah otaknya berada dalam ruang  kegelapan, Surti berusaha mengendalikan. Ia bangkit, bercermin. Wajahnya sangat kuyu. Matanya sembab. Rambutnya acak-acakan. Ia menghapus air matanya yang masih tersisa dan mengalir pelan. Ia mengatur jalan pernafasan. Ia berusaha untuk tegar. Masalah ini harus dibicarakan secara terbuka. Ini masalah serius. Tidak akan usai dengan tangis dan menghindari masalah. Demikian pikir Surti.

Seperti hari-hari biasa, semua masalah selalu dibicarakan terbuka. Inipun harus begitu.

Surti masuk kamar mandi yang berada dalam kamarnya. Ia membasuh muka. Menikmati siraman airnya. Lalu ia berdiri di depan cermin lagi, mendandani wajahnya.

Ia keluar kamar. Mas No masih berada di sofa. Di mulutnya terselip rokok yang menyala. Surti mendekat, duduk  di hadapannya.

“Maafkan aku Surti,” Kata Mas No pelan hampir tak terdenga setelah mencabut rokok dari selipan bibirnya dan menghancurkannya dalam asbak.

“Dengan jeng Selfi,” tebak Surti mendesak.

Mas No memandang wajah Surti. Lantas ia menggelengkan kepalanya.

”Lantas?”

”Aku sendiri tidak tahu. Hanya terlintas di kepala, setelah itu kuungkapkan padamu,”

”Alasan Mas No?”

Mas No diam. Ia mengambil sebatang rokok, menyelipkan di bibir, lalu memainkan korek apinya, tanpa membakar rokok itu. Rokok dicabut kembali dan diletakkan di atas meja. Ia menyatukan kedua tangannya ke belakang dan menjadikannya sebagai sandaran bagi kepalanya. Wajahnya mendongak. Matanya terpejam. Hening.

Mas No kembali menegakkan badannya. Matanya berusaha menghindar dari tatapan Surti yang tak lepas. ”Maafkan aku Surti. Aku menginginkan anak,”

”Oh,” teriakan pendek terlontar dari Surti. Jantungnya terasa ditarik. Anak? Ah, betapa pedihnya bila mengingat hal ini. Aku bukanlah perempuan sempurna. Lima tahun lamanya menikah, belum ada tanda-tanda. Wajar Mas No menginginkannya. Demikian pula aku. Aku juga menginginkan anak. Batin Surti terus menggema terdengar oleh dirinya sendiri.

”Ini tergantung dirimu Surti. Bila kamu tidak setuju, aku akan menghapus pikiran itu. Biar lebih tenang, aku sebaiknya ke Yogya dulu,”

Hari-hari adalah rasa sepi. Perjalanan waktu adalah kecemasan. Surti masih berbaring. Terdengar denting jam empat kali. Tinggal beberapa jam lagi, keputusan belum diambil.

”Aku ingin membahagiakan Mas No. Aku rela mengorbankan apa saja. Tapi apakah aku rela dan bisa menerima dengan hati ringan, mengorbankan rasa keperempuananku? Adakah perempuan yang sudi dimadu? Salahkah bila perempuan menentang suaminya menikah kembali dengan orang lain? Bisakah seorang suami mampu berbagi kepada lebih dari satu istri? Aku sungguh tidak percaya bila benar-benar ada perempuan yang rela dimadu dan mengijinkan suaminya menikah dengan tulus. Aku?”

Kepala Surti masih dipenuhi berbagai pertimbangan. Bayangan dan kenangan yang semuanya bercampur aduk. Waktu terus berjalan. Merayapi segenap pikiran Surti.

“Tidak,” teriak Surti dalam hati. Ia tercenung. Lalu berusaha menepiskan semua prasangka buruknya. Mas No, pasti akan mengerti. Bila tidak? Itu soal nanti.

* * *

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: