2 Komentar

Bermalam Minggu di Malioboro Bersama Istri Menikmati Sastra

Lik Suyanto

Bersama istri menyambangi kilometer nol. Menikmati malam minggu di pusatkotaYogya. Jam delapan lewat ketika tiba disana. Langsung parkir motor di depan Monumen SO (yang sebenarnya menjadi jatah bagi para penikmat titik nol untuk kongkow). Sepanjang sisi timur dan barat sudah banyak orang, dalam kerumunan-kerumunan kecil bersama pasangan atau kelompoknya masing-masing, menempati berbagai ruang.

Keramaian di lokasi ini memang selalu terjadi setiap hari, tapi pastilah akan bertambah ramai ketika malam minggu. Biasanya nanti akan diramaikan lagi oleh berbagai komunitas, seperti komunitas pengendara sepeda, komunitas pengendara motor merk tertentu, dan sebagainya.

Bersama istri bukan sengaja memilih lokasi yang menjadi pusat kongkow kaum muda dan para pelancong untuk mengenang masa muda dulu, tapi lantaran ingin menikmati Malam Sastra Malioboro edisi ke 14.

Malam Sastra Malioboro yang pertama kali diselenggarakan oleh Paguyuban Sastra Mataram (PSM) pada Januari 2011, telah menetapkan kilometer nol sebagai pusat kegiatannya. “Memasyarakatkan sastra, dan membuka ruang bagi siapa saja untuk bersastra,” demikian pernah dikatakan oleh Sigit Sugito Ketua PSM dalam satu kesempatan, “Malioboro menjadi sejarah gerakan kesenian khususnya sastra diYogyakartayang telah melahirkan banyak sastrawan,”

Datang terlambat, saat tiba, langsung disapa oleh alunan musik dan lagu yang dimainkan oleh Different Color Band. Sambil mengamati mencari tempat yang nyaman untuk menikmati, saya dan istri akhirnya berputar melewati belakang panggung. Istri saya mengambil tempat duduk dengan membaur pada penonton yang duduk lesehan, sedangkan saya mengambil posisi di sisi Barat panggung.

Tampak terlihat sudah banyak para seniman yang hadir. Diantaranya, Azwar AN, Wadie Maharief bersama sang istri, Budhi Wiryawan, Untung Basuki, Lik Suyanto, Hardo, Sigit Sugito, Dewo PLO dan para seniman lainnya.

Acara yang dipandu oleh Bambang dan Ani ini mengambil tema “A Tribute to Widjaja”.  Widjaja adalah seorang seniman multi media yang telah banyak memberikan kontribusi besar bagi pertumbuhan kesenian diYogyakarta. Ia terlibat dan hadir serta berperan dalam kesenian tradisional seperti ketoprak, wayang orang, ludruk, tari dan sebagainya, juga dalam seni kontemporer seperti lukis, teater, lawak dan film. Adik dari seorang pelawak terkenal Hardjomulyo yang lebih dikenal dengan panggilan Atmonadi dan kakak dari penyair Kirdjomuljo, terlahir pada 28 Pebruari 1927. Widjaja telah meninggalkan kita semua pada 8 Desember 2000 meninggal seorang istri dan sembilan anak.

Satu persatu orang yang mengenalnya memberikan kesaksian, pengalaman perjalanan bersama Widjaja dan mengungkapkan hal-hal yang bisa memberikan inspirasi.

“Dialah yang pertama kali mengajak saya main film,” kata Lik Suyanto.

“Hal terpenting adalah acting. Kita harus bisa ber-acting dalam beragam situasi,” kata Dewo PLO.

Musik, pembacaan puisi, dan lawak benar-benar bisa menghangatkan dinginnya malam Malioboro. Terlebih ketika diketahui ada Julia Perez atau akrab dipanggil Jupe yang langsung didaulat naik panggung untuk membacakan puisi. Hendro Pleret yang diminta mendampingi Jupe seperti biasa melontarkan komentar-komentar nakalnya.

Usai dengan Jupe, acara dilanjutkan dengan pembacaan puisi dari beberapa penyair. Sayang, waktu terus merambat. Selesai menyaksikan penampilan dari tiga penyair, saya dan istri bergegas pulang dan tidak berkesempatan untuk menikmati penampilan para seniman lainnya. Sukses selalu bagi para sahabat penggerak Malam Sastra Malioboro…..

Yogyakarta, 12 Pebruari 2012

Tulisan lain terkait dengan acara ini diposting di Kompasiana:

Beberapa foto yang sempat terambil:

Iklan

2 comments on “Bermalam Minggu di Malioboro Bersama Istri Menikmati Sastra

  1. […] Blog Odi Shalahuddin: Bermalam Minggu di Malioboro Bersama Istri Menikmati Sastra 0.000000 0.000000 Rate this: Share this:EmailPrintLike this:SukaBe the first to like this post. […]

  2. Pastilah menyenangkan bisa melihat langsung acara seperti ini. Jujur saya sangat tidak terkesan dengan Jupe, namun atas partisipasinya di sini tak apalah, seni memang untuk semua orang, tak boleh memandang orang dari satu sudut pandang saja memang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: