Tinggalkan komentar

Kisah Toko Cinta (2)

KISAH TOKO CINTA #2

Odi Shalahuddin

Selepas mengantar anakku hingga tepat di pintu gerbangnya, kembali pulang, memilih jalan yang sama dengan yang kulewati saat keberangkatan. Matahari, mulai bangkit, cahayanya menerobos bola mataku. Beruntung hanya sejenak meluncur ke arah Timur, setelahnya aku berbelok ke kiri menuju arah selatan.

Sambil bernyanyi-nyanyi kecil, melewati satu traffick light, dan tiba-tiba, perjalanan terasa terhambat. Kemacetan di luar kebiasaan dan tidak pernah terjadi dalam pengalamanku selama hidup di kota kecil ini. Sekitar satu kilometer menjelang perempatan di mana Toko Cinta berada, antrian kendaraan ke arah selatan sudah tampak. Terhalang lampu merah dan arus kendaraan dari arah Timur atau Barat yang terlalu padat? Tidak juga kukira.

Arus dari selatan ke utara masih lancar, aku mencoba untuk menerobos sisi kanan, tapi ternyata, tampaknya semua pengendara berpikir sama. Hanya bisa berjalan sekitar 100 meter, seluruh ruas jalan tiba-tiba saja sudah terpenuhi kendaraan dari satu arus saja. Dari Utara!

Aku sedikit mengeluh. Ingin berbalik, kulihat di belakang ternyata antrian sudah semakin panjang. Matahari terasa lekat di pipi kiriku, menghantam pelan. Kulihat jam dari handphone dengan tanda bateray yang hampir habis. Belum pukul 07.00.

Wah, gawat, maju susah mundur-pun sama. Tidak ada lagi pertigaan untuk memotong jalan, baik ke arah Timur ataupun Barat karena itu sudah terlewati beberapa puluh meter sebelumnya. Beberapa gang kecil malah sudah memalangkan kayu di atas kursi yang dijajar. Orang-orang di pinggiran jalan semakin banyak. Berkerumun di setiap jengkal ruang yang ada.

Apakah ada kecelakaan? Bus atau truk tronton yang nakal memasuki tengah kota, lalu sulit berbelok arah? Atau… ah, tak tahulah. Yang pasti jalan telah macet total. Ini sejarah baru di kotaku yang tak pernah dilanda kemacetan kecuali pada masa-masa kampanye. Inipun tak separah yang tengah kualami dan tidak pernah terjadi di pagi hari!

Aku merasa terperangkap. Sepeda motor yang biasanya luwes untuk mencari celah, sudah sulit untuk bergerak. Mesin motor kumatikan. Pergerakan sangat-sangat lambat atau memang sama sekali tak bergerak. Jadi, untuk merangkak sejengkal saja, aku hanya mengayuh lewat kaki.

Waktu terus merambat, detik, menit, dan ya ampun, hampir satu jam aku sudah terjebak di sini. Gawat! Aku lupa pula memberi informasi ke istriku yang pasti akan merasa kebingungan lantaran suami-nya belum kembali dan pastilah menduga-duga mampir ke mana. Kukeluarkan HP-ku, memencet tombol, membuka kunci, ada beberapa pesan masuk yang belum terbaca. Dari istriku: ”Terjebak macet, ya… kasihan deh…,”

Wah, malah kena ejekan, kubuka lagi satu pesan darinya: ”Memang benar-benar macet, ya? Aduh, tidak bisa potong jalan? Sekarang, di televisi siaran langsung…” (bersambung)

***

Catatan:

Ilustrasi gambar dari SINI

Cerita ini pernah diposting di Kompasiana dan Baltyra dan Cerpen Odi. Cerita yang kembali di posting di blog ini telah mengalami perubahan atau pengembangan. Semoga tetap bisa nyaman dibaca oleh kita semua. Salam cinta, jangan sampai terjual.

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: