2 Komentar

Menggugat Kekuasaan dalam Sastra Bulan Purnama Edisi 5

Menggugat Kekuasaan dalam Sastra Bulan Purnama Edisi 5
(Odi Shalahuddin)

 

Dengan tema: Membaca Puisi, Membasuh Hati, Sastra Bulan Purnama edisi ke lima yang diselenggarakan di Rumah Budaya Tembi (7/2) menampilkan para penyair angkatan tahun 1990-an. Ini melanjutkan edisi sebelumnya, yang menampilkan para penyair angkatan tahun 1970-1980-an, dan akan dilanjutkan pada edisi berikutnya bagi para penyair angkatan tahun 2000-an.

”Bukan bermaksud membuat angkatan, tetapi lebih untuk memudahkan penyair yang lebih muda dari generasi sebelumnya. Penyair yang (di) tampil (kan) kebanyakan mulai menulis pada tahun 1990-an atau akhir 1980-an. Atau juga menulis era tahun 1980-an dan berhenti kemdian menulis lagi. ,” jelas Ons Untoro selaku Koordinator. Ditambahkannya: ”Mereka, sampai hari ini masih menulis puisi. Terbukti, puisi yang dikirim adalah puisi yang ditulis antara tahun 2010-2012. Ini menunjukkan bahwa sikap kepenyairan mereka tidak redup dikarenakan rutinitas pekerjaan yang menyita waktu”.

Ada 11 penyair yang tercatat akan tampil. Namun tiga orang berhalangan yakni: Abdul Wachid BS, Angger Jati Wijaya dan Yuliani Kumudaswari, dengan alasan yang berbeda-beda. Sedangkan delapan penyair yang hadir yakni Anthoni Harimurti, Odi Shalahuddin, Rudi Yesus, Sholeh UG, Sudarmana, Syam Chandra Manthiek, Toto Sugiharto R, Wahyana Giri MC. Pada kesempatan ini, hadir pula penyair dari Banyumas, Wanto Tirta, yang turut membacakan puisi-puisinya dan kelompok Tembi Poetry yang tampil dalam musikalisasi puisi. Umi Khulsum juga tampil membacakan puisi dari Yuliani Kumudaswari.

Sebagian besar puisi-puisi yang dibacakan memiliki tema yang serupa, yaitu semangat untuk menggugat kekuasaan. Hal ini tampaknya memang menjadi salah satu ciri dari angkatan tahun 1990-an, yang cenderung mengambil tema tentang realitas situasi sosial politik dan melakukan gugatan terhadap kekuasaan. Pada masa itu, tidak mengherankan dalam berbagai aksi-aksi massa menentang rejim Orde Baru, puisi menjadi salah satu medianya.

Anthoni Harimurti sebagai misal menyatakan:

Aku mengigau di masa suram berkepanjangan
Saat kebahagiaan jadi tak pasti
Kecemasan menjalar hari ke hari
Di negeri koyak-moyak ini

(Kepada Angkatan Kemudian)

Atau, dinyatakan oleh Sudarmana:

Kemarahan adalah logika rakyat
Ketika suara-suara yang sudah tersumbat tidak pada semestinya

(Pecundang di Negeri Sendiri)

Sedangkan R. Toto Sugiharto:

adalah rakyat paling terpuruk
mesti bertahan bagai ilalang
 adalah buah yang paling busuk
tak enak di mulut, perut meradang

(Metafora Pohon, Metafora Buah)

Odi Shalahuddin:

Rakyat adalah mesiu yang siap terbangkitkan
Pada batas-batas kesabaran yang terlampaui
Tunggulah saat ketika mereka bertindak
Menjadi gelombang yang mampu meluluh-lantakkan kekuasaan kalian

(Namaku Rakyat)

Menarik bila mencermati penyelenggaraan Sastra Bulan Purnama yang berupaya menjaring para seniman Yogyakarta (termasuk yang sudah tinggal di luar kota) dari berbagai generasi, sehingga bisa terbangun komunikasi antar generasi. Komunikasi di sela-sela acara yang telah berlangsung rutin dan biasa dihadiri lebih dari 50-an orang, bukanlah tidak mungkin, bisa melahirkan berbagai gagasan dan inspirasi yang bisa melahirkan karya-karya atau event yang memberikan kontribusi bagi kekayaan sastra Yogya.

Yogyakarta, 8 Pebruari 2012

___________________________

Pembacaan puisi dari seorang siswa SMA yang membuka acara SBP 5

Odi Shalahuddin

Anthoni Harimurti (Didotklasta/Kabe)

Umi Khulsum

Rudi Yesus

R Toto Sugiharto

Sudarmana

Syam Chandra Manthiek

Wahyana Giri MC

Tembi Poetry

Iklan

2 comments on “Menggugat Kekuasaan dalam Sastra Bulan Purnama Edisi 5

  1. Lho… mana puisinya?
    Salut untuk acaranya. Tapi tolong puisinya di-upload biar kita yg gak bisa datang bisa menikmati karya mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: