1 Komentar

Berjumpa Ibu Prapto, Ibu Anak Jalanan Semarang #2

BERJUMPA IBU PRAPTO, IBU ANAK JALANAN SEMARANG #2

Odi Shalahuddin

Bu Prapto

Pada saat tiba, Ayuk, seorang anak perempuan Ibu Prapto tengah memasukkan dan membenahi kasur yang baru dijemurnya. Bu, Prapto tampak tertidur di ruang depan. Ayuk segera membangunkan.

”Sudah, biar nanti saja,” seorang kawan mencegah. Tapi Bu Prapto terlanjur terbangun dan segera bangkit. Ia menyambut kami dengan ramah.

Tubuhnya terlihat lebih gemuk dibandingkan aku terakhir bertemu dengannya sekitar setahunan yang lalu. Untuk kepentingan yang sama pula. Wajahnya masih menampakkan keteduhan dan kedamaian. Raut ketuaan belum begitu tampak dari ibu yang dilahirkan pada tanggal 27 Desember 1957 ini. Ya, 55 tahun sudah usianya. Masih terlihat sehat.

Setelah saling menanyakan kabar, maka kepentingan untuk meminta tolong kepadanya disampaikan. Ia segera mempersiapkan alas, minyak dan sarung. ”Celana dan bajunya dilepas,”

Aku segera saja mengenakan sarung yang diberikan, baru mencopot celana panjang dan kaos, lalu tengkurap di atas kasur di ruang tamu. Ruangan ini memang tidak terlalu luas. Kukira sekitar 3 X 5 meter. Beberapa barang terlihat membuat ruangan ini semakin kecil. Kursi tamu, dua kasur satu meja dan atu bufeet. Di bagian bawah tempat kasur ditempatkan, ada jalinan bambu besar sebagai alasnya. Di sebelahnya ada ruang yang terlihat penuh dengan barang dan juga menjadi dapur, serta satu buah kamar. Luas keseluruhan rumah ini kukira tidak lebih dari  5 X 6 meter.

Pikiranku tiba-tiba terbayang tentang masa lalu, masa di awal-awal aku mengenal keluarga ini. Masa di mana Ibu Prapto, panggilan yang diperoleh dari nama suaminya, tinggal bersama ketiga anaknya, sedangkan setiap hari bisa sepuluh orang lebih anak jalanan singgah, untuk mendapatkan kesempatan bisa makan, istirahat atau bahkan menginap di rumah ini.

Ibu Prapto bernama asli Sri Hartati. Ia berasal dari Magelang. Ia mulai tinggal di Kampung Gunung Brintik pada tahun 1990, bersama ketiga anaknya yakni: Anis Wahyu Nur Hayati, Anas Joko Waluyo dan Ari Sudiantoro, yang mana pernah juga menjalani kehidupan sebagai anak jalanan ketika mereka masih di bangku Sekolah Dasar.

Sepeninggal suaminya, guna menghidupi keluarganya, Bu Prapto menjadi pedagang sayuran di daerah pasar Bulu. Berjualan sayuran tampaknya masih dijalani hingga sekarang, melihat ada beberap ibu-ibu yang datang dan membeli sayuran yang diambil oleh anaknya dari ruang dalam.

”Beruntung anak-anak dulu mendapat bantuan beasiswa sehingga mereka tidak lama di jalanan,” kata Ibu Prapto yang mulai melamari tubuhku dengan minyak, memijat, mengurut, dan beberapa bagian tubuh mulai dikerok. Tanda-tanda kerokan masih terlihat merah, hingga saat tulisan ini kubuat. (bersambung)

______________

One comment on “Berjumpa Ibu Prapto, Ibu Anak Jalanan Semarang #2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: