2 Komentar

Berjumpa Ibu Prapto, Ibu Anak Jalanan Semarang

BERJUMPA IBU PRAPTO, IBU ANAK JALANAN SEMARANG  

Odi Shalahuddin

Seputar Taman Tugu Muda Semarang

Beberapa waktu ini kondisi tubuh memang tengah menunjukkan protesnya terhadap diriku. Walau memiliki kebiasaan untuk tidak memperdulikan rasa sakit, kondisi yang dirasa sudah mengganggu. Setiap sore, tubuh menjadi tidak nyaman, sehingga memaksa untuk tiduran, terbangun, tidur lagi, begitulah kira-kira yang kualami selama setidaknyasatu minggu terakhir. Belum lagi kepala yang terasa mengganjal di bagian belakang. Ah, ayolah hei, penyakit, segeralah beranjak dari tempatmu.

Upaya yang biasa kulakukan adalah pijat. Sayang, seorang tukang pijat di Yogyakarta yang kurasa sangat cocok, sekarang sudah tidak bertenaga lagi. Terakhir pijat dengan dirinya, ia memberikan pengakuan, ”Wah, saya memang tidak memiliki kekuatan lagi,”. Padahal ia memiliki pengetahuan tentang urat-urat, loh.. Beberapa kawan yang kurekomendasikan ke dirinya selalu menyatakan rasa puasnya.

Ada satu kawan di kantor, yang memiliki kemampuan memijat. Paling enak kalau dipijat bagian kaki. Cuma sayang, ia tidak memperdalam pengetahuannya. Jadi bisa nyaman separo badan saja. He.h.e.h.eh.e.he

Nah, sabtu pagi ini (4/2) aku pergi ke Semarang. Badan terasa semakin loyo saja. Seorang kawan menawarkan untuk memanggil tukang pijat. Ketika dikontak lewat sms, ternyata tukang pijat yang dimaksud tengah ke luar kota. Wah, meranalah tubuhku….

Tiba-tiba teringat, sekitar setahun yang lalu aku pernah pijat dengan seorang ibu. Seorang yang aku kenal sejak pertengahan tahun 1990-an. Aku merasa cocok, dikeroki dan diurut. Masa-masa terakhir aku mendengar kabar ia tengah ke rumah adiknya di Kalimantan berbulan-bulan. Kali ini aku beruntung, telah mendengarnya kembali ke Semarang.

Diantar seorang kawan, kami melaju menuju sebuah perkampungan yang konon hanya satu-satunya yang berada di perbukitan di tengah kota. Ia dekat dengan persimbangan Taman Tugu Muda, di mana terdapat banyak gedung bersejarah seperti Lawang Sewu, Museum, Rumah Dinas Gubernur, Gereja Katedral dan Perkantoran Pemerintah Kota Semarang. Namanya kampung Gunung Brintik.

Pada sebuah buku, saya pernah menyinggung sedikit tentang sejarah Kampung Gunung Brintik. Nama ini bersumber dari nama Nyai Brintik. Menurut legendanya, Nyai Brintik adalah seorang penganut ilmu hitam yang suka mengumpulkan pusaka. Ia mencuri salah satu pusaka kerajaan Demak, yaitu keris Kyai Sengkilat. Sunan Kalijaga berusaha merebut kembali pusaka tersebut dan mampu menaklukkan Nyai Brintik dan membuatnya bertobat. Nyai Brintik ditemani Mbak Cowek kemudian bertapa hingga akhir hidupnya. Kini makam mereka berdua berada di atas bukit Gunung Brintik yang dikeramatkan.

Kampung ini pada awalnya merupakan tanah perdikan yang kemudian difungsikan oleh pemerintah kota Semarang sebagai Taman Pemakaman Umum Borgota yang memiliki luas sekitar 37 hektar. Kawasan ini pernah menjadi kawasan angker karena menjadi tempat persembunyian para penjahat.

Berdasarkan informasi seorang penduduk yang mulai menetap di kampung tersebut sejak tahun 1960, ketika pertama kali datang ke kampung ini, 2/3 lahan perbukitan masih berupa semak-belukar. Sedangkan sepertiganya digunakan untuk tanah pemakaman dan pemukiman penduduk. Menurutnya ada sekitar 50 rumah yang sudah berdiri pada saat itu. Informasi dari seeorang penduduk yang lain, rumah-rumah yang berdiri pada tahap awal banyak dibangun di bekas makan yang telah diratakan.

Pada tahun 1970, sebuah yayasan di Semarang membeli sebagian tanah dari Pemkot Semarang yang diperuntukkan bagi perumahan kaum gelandangan yang berada di sepanjang Jalan Sutomo hingga Karyadi. Para gelandangan yang mendapatkan lahan di sini, banyak yang menjual kembali tanahnya ke pihak lain. Pada perkembangannya, di atas lahan milik pemerintah kota juga sudah mulai berdiri bangunan-bangunan yang dihuni para pekerja sektor informal. Mereka hanya mendapatkan ijin hak guna bangunan saja.

Nah, ke kampung inilah kami melaju. Melewati jalan aspal yang membelah bukit Borgota, kami berbelok ke kiri, masuk ke areal makam, mengikuti jalan, hingga sampai pada lahan yang cukup luas. Ada tiga jalan kecil di sana, lurus terus, ke kanan atau ke kiri. Kami berbelok ke kiri, melewati jalan yang lebih  kecil dan tidak beraspal dengan makam di kanan-kiri. Jalan terus, lalu berbelok ke kanan. Sampailah kami di sebuah perkampungan. Di tempat ini pula, letak makam Nyai Brintik.

Kami memarkir motor tepat di depan bangunan makam Nyai Brintik yang berbentuk rumah, sehingga tidak banyak diketahui bahwa dalam bangunan tersebut ada makam, bila tidak melihat keterangan di depan bangunan tersebut.

Makam ini juga menjadi batas jalan terakhir yang bisa dilewati oleh kendaraan. Berikutnya, kita akan memasuki gang dengan turunan yang curam sehingga tidak mungkin bisa dilewati dengan kendaraan bermotor.

Kami harus melanjutkan dengan jalan kaki, dan tidak terlalu jauh. Berbelok ke kiri, menuruni anak tangga, dan hanya sekitar empat rumah, di bagian utara, itulah rumah Bu Prapto. (bersambung)

Semarang, 5 Pebruari 2012

Foto ilustrasi diambil dari SINI

 

2 comments on “Berjumpa Ibu Prapto, Ibu Anak Jalanan Semarang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: