1 Komentar

Lagu Anak-anak, Kemanakah?

LAGU ANAK-ANAK, KEMANAKAH ?
(Odi Shalahuddin) 

Baru beberapa waktu ini, aku mulai memperhatikan kedua anakku yang dengan lancar bisa mengikuti lirik lagu-lagu yang tengah ditayangkan oleh stasiun televisi. Sempat terkesima sejenak. Merutuki diriku yang tidak mengamati perkembangan lantaran interaksi yang sangat terbatas dengan mereka.

Tampaknya bukan hanya anak-anakku saja. Ketika mereka tengah bermain, kawan-kawannya-pun sangat fasih melantunkan berbagai lagu di tengah permainan mereka. Oh, ya jadi ingat pula, anak-anak dari kawan-kawanku, juga begitu. Sepanjang perjalanan, para pengamen anak-anak ya menyanyikan lagu-lagu yang hit pada masa ini. Jadi, bisa jadi semua anak-anak se Indonesia Raya ini mengalaminya.

Situasi ini membuatku termangu. Apalagi ketika mencoba menyimak lirik-lirik lagu yang hits pada masa sekarang. Temanya seputar percintaan, patah hati, dan perselingkuhan. Menyedihkan.

Anak-anak yang hafal di luar kepala dan selalu menyenandungkan lagu-lagu itu tidaklah salah. Karena bagaimanapun itulah yang kerap mereka dengar.  Lantas?

Ah, kukira dirimu masih ingat lagu-lagu ketika kita masih anak-anak, seperti anak-anak kita sekarang ini? Bila ingin mencoba, aku yakin lebih dari sepuluh lagu bisa kau senandungkan. Bukankah begitu? Cobalah lagu “pelangi-pelangi”, “balonku ada lima”, “Potong Bebek Angsa”, “Aku Seorang Kapitan”, “Di sini senang di sana senang” “Anak Gembala”, “Desaku yang Kucinta”, “Di sini ada api”. Masih hafalkah? Belum lagi bila dirimu mengingat lagu-lagu yang pada pada tahun 70-an. Ya,  kukira dirimu masih ingat lagu “Jendral Kancil” nya Adi Bing Slamet, “Heli”nya Chicha Koeswoyo, “Paman Dari Mana”nya Diana Papilaya. Belum lagi lagu-lagu dari Helen Koesowyo, Sari Koeswoyo, Ira Maya Sopha,  Yoan Tanamal, Bobby Sandhora,  Fitria Elvi Sukaesih,  Faradila Sandi. Nah, berapa lagu yang masih kau ingat dan kau masih bisa nyanyikan? Lebih dari sepuluh lagu? Lalu, apa yang terlintas di kepala ketika menyanyikan lagu-lagu tersebut? Ah, jangan tersenyum-senyum sendiri, dong…..

Persoalannya, mengapa lagu-lagu itu masih bisa melekat di kepala kita? Padahal sudah berpuluh tahun mungkin kita tidak pernah menyenandungkannya lagi. Bila masih teringat, mengapa kita tidak menularkannya pada anak-anak kita? Bukankah dulu, kita sering disenandungkan, diajari, atau belajar ke orangtua kita tentang lagu-lagu tersebut?

Lagu tidak sekedar menjadi hiburan belaka. Ketika menyanyikan, mendengarkan, dan di segenap ruang, bahasa yang digunakan adalah sama, maka pada saat itu, tanpa sadar tertancap nilai-nilai. Ini yang akan melahirkan kesadaran kita tentang realitas yang melingkupi kita dan bagaimana mensikapinya. Maka, bila dikatakan bahwa nilai-nilai masyarakat sudah longgar, kukira, lagu-lagu itu tampaknya memberikan kontribusi pula, kendati tidak diketahui seberapa besarannya.

Yogyakarta, 5 September 2010

____________

Sampul album diambil dari SINI

Iklan

One comment on “Lagu Anak-anak, Kemanakah?

  1. Haii salam kenal…
    Blog anda sungguh keren….
    Saya juga punya blog yang membahasa lagu anak
    Ada juga 84 lagu ciptaan saya..
    Jangan lupa berkunjung balik ke
    http://lagu2anak.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: