Tinggalkan komentar

Maaf, Jangan Ganggu Dulu, Saya lagi Serius

Maaf, Jangan Ganggu Dulu, Saya lagi Serius 
Cerpen Odi Shalahuddin

 

Benar. Di tangan saya telah tergenggam bambu runcing. Alat yang katanya sangat ampuh sebagai senjata. Menjadi pegangan para pejuang Indonesia mengusir penjajah.  Itulah salah satu alasan mengapa saya memilihnya. Tidak memilih golok, clurit, senjata api, meriam atau peluru kendali.

Kini saya tengah mengendap-endap. Serius. Lantaran itulah saya mohon maaf kepada anda sekalian, untuk tidak mengganggu saya sementara waktu. HP dan segenap alat komunikasi telah saya matikan. Jangan penasaran untuk datang dan mengetuk pintu secara tiba-tiba. Sebab saya, sungguh-sungguh lagi serius. Lagi mengendap-endap, untuk mencari tahu, apa yang sesungguhnya telah terjadi di dalam diri saya sendiri.

Persoalannya sungguh sepele. Tapi kata para orangtua, urusan sepele, bila disepelekan malah bisa menjadi persoalan yang besar. Bisa menghimpit diri kita menjadi sesak nafas. Jadi mumpung masih sepele itulah, saya harus bergegas untuk segera mengadakan penyelidikan.

Menulis. Ya, menulis. Gara-gara menulis. Itu saja. Sepele bukan? Apalagi saya tahu di komunitas di sini, menulis adalah bagian dari hidup sehari-hari. Jadi memang benar-benar persoalan sepele.

Namun, Saya benar-benar lagi khawatir. Saya lagi mencurigai diri sendiri, lantaran hasrat menulis sedemikian tinggi, dan itu selalu berakhir dengan lahirnya sebuah tulisan, terbagi lantaran terposting. Begitu terus-menerus. Karena itulah, saya menjadi benar-benar curiga terhadap diri saya sendiri.

Kini, saya lagi berada di pojokan di dalam diri. Bambu runcing tergenggam dua tangan. Ujungnya menghadap ke atas. Sesekali saya berusaha mengintip. Jangan sampai lengah. Saya tengah menunggu hasrat menulis datang dan memprovokasi segenap peralatan dalam diri bergerak memenuhi hasrat tersebut.

Hening. Hanya detak jantung. Hanya suara senyap aliran darah yang bekerja. Lorong itu agak tersamar. Tapi kurasa mataku masih bisa memandang dan mereka bila ada bayang berkelebat.

Beruntung berdiri di pojokan dalam posisi siap, nyamuk-nyamuk tidak mengganggu. Hanya butuh kesabaran. Hanya butuh keyakinan bahwa hasrat itu akan segera hadir. Saya akan menodongnya, akan memaksanya berbicara. Tentang motif dari hasrat yang memprovokasi.

Lama menunggu. Berdiri. Lemas, mulai merunduk, lama-lama tergeletak, dan tertidur, dengan bambu runcing yang masih terdekap. Gila… Sama sekali tak tersadar, hasrat telah bekerja. Lihatlah, sudah ada tulisan yang terbaca di sebuah blog keroyokan. Bagaimana bisa saya begitu terlelap tak merasakan adanya gerakan yang bahkan bisa bekerja dalam hiruk-pikuk. Benar-benar bodoh! Saya merasa dipermalukan oleh sikap saya sendiri, yang tak teguh, tak becus, tak istiqomah untuk tetap bertahan. Malah membiarkan dorongan untuk istirahat dan tertidur, sehingga kecolongan lagi.

“Sebenarnya, maumu apa sih? Bukankah baik? Daripada menghabiskan waktu memetik malam dalam gebyar lampu kerlap-kerlip dengan aroma minuman yang menusuk disertai kocokan dadu menebak angka yang keluar?”

“Bukan, bukan itu. Saya hanya ingin tahu, ada apa di balik hasrat. Itu saja. Karena itulah saya tengah mengincar kehadiran hasrat yang demikian besar berperan menggoda dan menggerakkan,”

”Tidak usah dipersoalkan. Seharusnya kamu beruntung,”

”Tidak. Saya tidak ingin ada sesuatu yang bergerak dan bekerja di dalam diri sendiri tanpa saya tahu secara pasti hendak kemana arah dan memiliki kemampuan bisa mengendalikannya,”

”Ah, kamu terlalu mengada-ada,”

”Buktinya memang nyata. Artinya ada. Bukan mengada-ada”

”Susah mengingatkan pada dirimu. Pantas kau tidak bahagia?!”

”Loh, apa hubungannya dengan kebahagiaan?” aku mulai sewot.

”Kebahagiaan itu adalah di rasa. Bukan di pikir. Rasa itu biarkan mengalir, jangan dihentikan dan dikendalikan pikir,”

”Tidak bisa. Itu bahaya! Rasa dan pikir harus menjaga keseimbangan,”

”Tapi apa yang hendak kau lakukan adalah berpikir, bukan merasa,”

”Segala tindak memang harus lahir dari pikir. Barulah rasa mendukung untuk membuatnya sesuai dengan kondisi,”.

”Ya, sudahlah,”

”Ya, memang sebaiknya sudahi saja. Bukankah sudah kubilang, Maaf, jangan  ganggu saya dulu. Saya lagi serius. Eh, kamu malah datang memberondong dengan kata-kata yang tidak melegakan, malah menyalahkan saya. Pergi sana?”

Aku kembali berdiri dengan sigap. Menunggu hasrat datang., membujuk dan memprovokasi, dan segeralah kuhadang.

Ssssstttt. Jangan ribut ya, maaf, saya benar-benar tidak mau terganggu. Saya lagi konsentrasi penuh. Saya tidak mau kecolongan untuk kesekian kalinya. Mohon maklum adanya ya…..”

Yogyakarta, 2 September 2011 menjelang pergantian hari…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: