3 Komentar

Cerpen: Seorang Perempuan yang Hadir Pada Dini Hari

SEORANG PEREMPUAN YANG HADIR PADA DINI HARI
Cerpen Odi Shalahuddin

Seorang lelaki muda, sebagaimana laiknya anak-anak muda sekarang, masih saja asyik di depan laptopnya, di kamar, seraya tiduran. Beberapa jendela situs telah terbuka. Ada jejaring sosial,  ada situs-situs berita terkemuka, eh, ada juga situs jurnalisme warga, loh. Selain itu beberapa gambar-gambar juga nongol. Ruang chatting juga terbuka.

Lincah nian jemari memainkan tuts sehingga berlompatan dari satu jendela ke jendela yang lain. Bercakap lewat kata dengan puluhan orang. Kebanyakan dengan nama dan wajah perempuan. Nyatanya, entahlah siapa yang tahu. Tapi tidaklah mengherankan. Namanya saja lelaki muda. Coba kalau ia perempuan muda, bisa jadi, kebalikannya yang terjadi, bukan?

Jam weker tua di meja sisi tempat tidur, jarum panjang hampir menyentuh arah tiga. Mata lelaki muda itu masih saja berbinar penuh gairah. Seakan tidak merasakan tubuhnya yang lelah. ”Kesehatan adalah rasa. Selama rasa senang, maka penyakit tak akan datang,” kata lelaki muda, pernah berkata suatu saat ketika ditanya.

Bukankah besok ia harus berangkat ke kampus? Tidakkah menggayut matanya? ”Ah, sudah biasa,” katanya lagi pernah berkata.

Kini ia membuka jendela kompasiana. Matanya menatap headline, menatap terekomendasi, menatap highlight, menatap aliran tulisan baru yang tiada henti mengalir. Bagai sungai. Kadang mengalir tenang, kadang mengalir deras.

Kursornya terlihat berpindah-pindah sampai ia memutuskan untuk mengklik dan membuka suatu tulisan.

”Membaca apa, Bung?” sebuah suara mengejutkan dirinya. Hampir saja laptop-nya terpelanting mengikuti gerak tangan dan tubuhnya yang melonjak ke sisi kiri dan hampir terjatuh dari ranjang.

Seorang perempuan muda, hadir, dan sudah duduk di sisi ranjang kanan. Lelaki muda terpana. Desir angin yang sangat dingin menerpa tubuhnya. Aroma wangi memainkan hidungnya.

Ia lihat, pintu kamar telah terbuka. Ia pandangi sosok perempuan muda itu yang tengah tersenyum padanya. Hantukah? Ah, bukan, bukan… Tapi, siapa? Perempuan muda dengan senyuman manis yang menghiasi wajahnya yang terlihat lembut dan anggun dengan rambut panjangnya yang terurai indah.

”Teruskan saja,” kata perempuan muda itu dengan datar. Lelaki muda itu masih terdiam di sisi sebrang perempuan muda. ”Ayolah. Saya hanya ingin melihat,”

”Maaf, Mbak siapa?” lelaki muda memberanikan diri bertanya. Di kepala ia berusaha menepiskan berbagai kemungkinan. Anak baru di kost ini? Ah, pastilah bukan. Terlalu nekat mendatangi kamar seorang laki-laki. Hantu? Pasti hantu! Ia teringat dulu banyak anak kost yang bercerita tentang arwah penasaran seorang perempuan muda yang pernah gantung diri di tempat kost ini. Ia sering menampakkan diri dan menggangu para penghuni kost. Tapi itu dulu sekali, dan juga ”katanya”.

Perempuan muda itu tertawa. Tawa yang menggairahkan. Enak terdengar di telinga. Apalagi melihat bibirnya yang mungil menggemaskan. Tapi lelaki itu tetap saja mengambil jarak, dan juga bersiap untuk menghambur keluar.

”Mbak siapa?” tanyanya lagi.

”Tenang saja, saya hanya ingin melihat dirimu bermain di dunia maya. Saya tidak akan mengganggu. Saya hanya akan melihat saja, mulailah lagi. Ayo…” katanya sambil melempar senyum membuat lelaki itu menggelepar. ”Ayolah”

Perlahan, lelaki muda itu membenarkan posisi laptopnya. Ia juga bangkit, setengah duduk. Kakinya menjulur ke lantai.

”Santai sajalah,” suara perempuan itu.

Jemari lelaki seakan kaku terpaku, sulit bergerak. Dalam hitungan detik saja beberapa kali ia melirik perempuan muda itu. Benar-benar cantik. Sungguh. Anggun. Tidak kalah dengan para pemain sinetron Indonesia. Tubuhnya sintal. Ah, siapa lelaki tak suka memandangnya, tentulah bukan lelaki normal. Tapi memang lelaki muda itu mengakui, dalam situasi tidak jelas begini, bukan soal normal dan tidaknya yang dipikirkan. Tapi keselamatan.

”Loh, kok diam. Seperti tadi itu loh, jemari dan otakmu cepat sekali berlompatan dari beragam suasana dan rasa,”

Lelaki muda terdiam. Terasa benar-benar kaku jemari ini dirasa.

”Sebenarnya apa yang paling suka engkau lihat dan baca?” perempuan bertanya.

”Hm… eh… he….”

”ha.h.a.ha.ha., janganlah malu. Menikmati sosok perempuan cantik di dunia maya tentulah bukan hal yang dosa. Memuja dan tergila-gila, tak mengapa, asal tidak membangun pikiran kotor. Tapi, eh, kamu juga suka membuka gambar dan film porno, ya?”

”Hm.. eh… he…”

”Kenapa kamu tidak suka membaca berita? Hanya judul-judul yang menggoda, dan ada kaitannya dengan seks saja yang engkau cepat bereaksi,”

”hm.. eh…he..”

”Oh, engkau suka membaca berita juga? Tapi berita-berita sensasional? Berita-berita besar dari mancanegara atau situasi nasional yang tengah mengemuka, tapi lupa dengan dengan berita-berita yang dekat dengan alam nyatamu? Oh, maaf, malah menduga yang buruk padamu, Ayolah buka saja, apa yang tadi hendak kau klik. Aku hanya ingin melihatnya saja. Apakah kehadiranku mengganggu?”

”Mbak siapa?” lelaki muda bertanya dengan terbata. Masih saja dijawab dengan senyuman manis.

Lelaki muda menghadap monitor. Tapi sungguh, otak rasanya susah untuk bekerja membuat perintah-perintah pada bagian yang lain, terutama pada jemari yang masih saja kaku. Perempuan muda ini, siapakah? Pastilah bukan hantu. Engkau tahu siapakah dia?

Yogyakarta, 2 September 2011

Tulisan untuk membayar janji yang telah terucap pada sahabat ”Kaca Mata Awam”

__________________

Sumber ilustrasi dari SINI

Iklan

3 comments on “Cerpen: Seorang Perempuan yang Hadir Pada Dini Hari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: