Tinggalkan komentar

Cerpen: Ketika Jutaan Tikus Hendak Keluar dari Gorong-gorong

Ketika Jutaan Tikus Hendak Keluar dari Gorong-gorong
Cerpen Odi Shalahuddin

 

Akhirnya, rapat akbar benar-benar digelar. Kendati dihadiri perwakilan, tetap saja jutaan jumlahnya yang hadir.Bertempat di ruang bawah tanah istana, pusat kekuasaan negeri atas, tepat pukul 10.10 pagi.

Suara cit..cit..cit… dari seekor tikus yang membuat telinga kita risih, kala kita ingin terlelap di dalam rumah dan menggerakkan kita ingin mencari sumber suara, maka dapat dibayangkan bila jutaan tikus melakukan pada saat yang bersamaan. Sayang, pagi ini, seperti hari-hari biasa, kesibukan telah mewarnai warga ibukota negara atas. Mobil-mobil yang telah bergerak hilir-mudik tak beraturan, merayap atau dicengkram kemacetan, suara klakson atas ketidaksabaran, dan telinga orang-orang yang tertutup earphone: mendengar musik, atau larut dalam perbincangan, sehingga tidak ada yang  menyadari tentang suara aneh, bahkan bisa mencekam.

Undak-undakan anak tangga, salah satunya menjadi podium. Para sesepuh tikus dari beragam etnis telah menduduki posisinya masing-masing, dan bisa terlihat dari seluruh penjuru ruang bawah tanah ini.

Seekor tikus bertubuh besar, diiringi tikus-tikus langsing di sekitarnya,setelah menganggukkan kepala, memberi penghormatan kepada para sesepuh, telah berdiri di muka. Ia terdiam, memandangi sekeliling. Suara gemuruh dari bisik-bisik, yang secara perlahan mulai menepi kemudian hilang. Keheningan merayap. Seluruh mata tertuju ke muka podium.

”Selamat pagi, wahai saudara-saudaraku sesama tikus, yang berbeda-beda, tapi tetap disebut tikus pula, yang berwarna hitam ataupun putih, pribumi ataupun peranakan, dari gorong-gorong pemukiman ataupun gorong-gorong istana, semua kita, adalah saudara! Selamat pagiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii,”

”pagiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii” sahutan serempak. Menggetarkan wilayah di atas, yang dirasakan oleh para manusia bagaikan sentakan gempa ringan, tapi juga tak dipedulikan.

”Kita, sebagai makhluk bawah tanah, yang semakin lama semakin tidak berdaya untuk mencari penghidupan yang layak, ketika untuk mendapatkan sisa-sisa dari manusia semakin susah, lantaran para manusia juga telah memakan makanan sisa, tentu tidak bisa diam menghadapi persoalan maha genting ini. Keberlangsungan bangsa tikus harus tetap dipertahankan untuk menjaga keseimbangan kehidupan di bawah bumi,”

”setujuuuuuuuuuuuuuuuuuu!!!!!!”

”Lantaran itulah kita berkumpul pagi ini, di sini, untuk mengambil sikap bersama. Selama ini kita sudah cukup bersabar. Makanan sisa yang makin habis. Justru yang ditebar adalah racun-racun untuk kita. Jutaan bangsa kita telah gugur. Beruntung kita dikarunia kesuburan sehingga keberlangsungan bangsa tikus dapat terus bertahan dalam segala jaman.,”

”Hidup bangsa tikusssssssssssssssssssssssssssss!!!”

”Saudara-saudaraku, bangsa tikus dari berbagai penjuru! Nama kita-pun telah dicatut oleh para manusia sebagai biang kerok atas nafsu manusia yang meraja yang menggerogoti kehidupan manusia itu sendiri.  Kita tahu, bahwa kita menggerogoti bukan untuk memperkaya diri sendiri atau bangsa tikus ini. Kita menggerogoti untuk mempertahankan kelangsungan hidup. Kita tidak pernah menumpuk bahan makanan untuk persediaan ke depan. Kita mengharamkan adanya lumbung-lumbung penyimpanan yang akan membuat kita bisa menjadi berbeda satu sama lainnya.Kita mencari makan untuk hidup hari ini. Jadi, manusia telah memperkosa nama kita untuk hal-hal buruk yang dilakukan oleh mereka sendiri!”

”Manusia bejaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaadddddddddd!!!”

”Wahai bangsa tikus, saudara-saudaraku…… Setelah bertahun kita bersabar, jatah makan terkurangi malah racun yang ditebar, untuk itulah kita akan membuat aksi protes terhadap manusia. Setujuuuuuuuuuuu?????”

”Setujuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu!!! Hidup tikus-tikus! Hidup Tikusssssssssssssssssssssssssssssssss!!!”

”Baiklah, sesuai dengan himbauan yang telah disebarkan, bahwa kita melatih gigi-gigi kita untuk bisa menggerogoti kayu-kayu, semen-semen, besi, dan barang-barang keras lainnya, apakah telah dilakukan???”

”Sudaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhh!”

”Berarti kita telah siaaaaaaaaaaaaaap???”

”Siaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaappppp!!!!”

”Siap menggerogoti barang-barang keras ?”

”Siaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaappppppp!!!”

”Bangsa tikus, bangsaku, saudara-saudara yang kucintai. Sesuai dengan hasil pertemuan para sesepuh, maka dengan ini, kita akan serentak keluar dari gorong-gorong, terhitung mulai sore nanti. Kita akan sadarkan kepada manusia, bahwa tikus-tikus tidak bisa diremehkan. Siap???”

”Siap!!!!!!!!!!!!!!!”

”Baiklah, pertemuan kita akhiri, kabarkan kepada sanak saudara untuk membuat aksi serempak sore nanti,”

Suara gemuruh dari jutaan tikus, yang kemudian menghambur ke berbagai lorong gorogn-gorong, mengabarkan hasil rapat akbar, tersebar dari mulut ke mulut, tidak terbatas pada kota ini saja, melainkan menyebar ke berbagai kota lainnya, yang juga memutuskan untuk melakukan aksi serupa.

Waktu berjalan. Kehidupan bawah tanah, menjadi pikuk, sedang kehidupan di atas tanah, seperti hari-hari yang lalu, masih dipadati oleh jutaan orang yang berebutan menghimpun roti untuk hari ini dan menimbun untuk masa depan.

Senja nanti. Entahlah. Kita tunggu saja kabar melalui televisi dan berita-berita online.

Yogya, 5 November 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: