Tinggalkan komentar

Cerpen: Hubungan Maya

HUBUNGAN MAYA
Cerpen Odi Shalahuddin\

 

Pertemuan bermula ketika keduanya saling memberikan komentar atas status seorang kawan tentang cinta maya. Percakapan berikutnya justru mereka asyik berdua. Sampai sang pemilik lapak perlu menegurnya:

”Hoy, para tamu budiman, ada tuan rumah niech…. Kenal lebih lanjut, masuk kamar aje…”

Barulah keduanya tersadar.

”Maaf, cocok banget sih obrolannya,” tulis sang lelaki

”Hi..hi..hi.. lupa…… Ini gara-gara statusmu sih, malah jadi keasyikan,”

Keduanya berhenti menorehkan kata-kata di ruang komentar, masuk ke ruang chatting. Tapi, begitu OL, keduanya sudah disergap oleh sapa dari banyak kawan.

”Nomormu, dong,”  tulis si lelaki

”Nomormu juga,” sahut sang perempuan dalam tulisan

”Kan nanti kamu tahu kalau aku kontak dirimu,”

”Oh, iya, ya… 081********”

”Ok !”

HP bergetar di sisi laptop sang perempuan. Ia cepat meraih. Mematikan pengunci. Membuka pesan. Ia tersenyum sendiri. Jemari lincah membalas. Terkirim segera.

Begitulah. Menorehkan jempol. Komentar status. Chatting. SMS. Menjadi bagian dari hidup mereka.

”Kamu kok tidak pasang foto sih? Tidak juga buat album. Masak hanya peralatan tukang PICmu.”

”Malah asyik, kan. Kamu juga, hanya gambar bunga. Tiada yang lain,”

”Hi..hi..hi…. iya, juga, malah bisa berimajinasi membayangkan dirimu,”

”Lho, terlambat. Aku sejak awal sudah membangun sosok tentang dirimu,”

“Masak,”

“Iya. Kamu langsing, rambut pendek, setengah tomboy,”

”Salah! Aku gak tomboy. Masih sering pakai rok,”

”Ah, jadi langsing dan rembut pendek benar kan,”

Begitulah, bahasa dalam chatting, berlanjut SMS, saling menebak, saling membayangkan. Membangun sosok dalam imajinasi. Lama-lama seakan menjadi nyata.

”Mengapa kamu tidak pernah mencoba menelpon?” sms dari perempuan.

”Bukankah imajinasi menjadi lebih kaya? Melalui suara, setidaknya ada tanda,”

”Ah,”

Percakapan terus saja berlanjut.

Hari demi hari. Sama saja di sela waktu. Kadang atau bahkan sering mencuri waktu jam kerja. Istirahat-pun turut tercuri, ketika peralatan komunikasi juga menemani dalam kamar.

”Mengapa, ya, rasanya aku jatuh cinta padamu,” tulis perempuan dalam sms.

”Kok sama, ya…. Kalau begitu…”

”Ok.

Begitulah, sekarang mereka menjadi sepasang kekasih. Bersapa saat pagi, membangunkan tidur, mengingatkan sarapan, makan siang, makan malam. Saling curhat atas peristiwa mengganjal yang tengah dihadapi. Mulai bertanya tentang komentar dari kawan lain bila dinilai terlalu mesra.

”Maukah engkau menikah denganku?” perempuan membuat status.

Puluhan orang, kebanyakan laki-laki  segera menghamburkan komentar-komentarnya. Torehan jempol juga mencapai seratus lebih.

“Kamu ini apa-apan sih. Mengumbar begitu!” sms laki-laki. Nadanya marah.

”Maukah engkau menikah denganku?” balas perempuan serupa dengan status yang dibuatnya.

Lama tak terjawab. Sang lelaki menerawang monitor HP yang kian memudar. Sedang sang Perempuan menebak-nebak, membayangkan apa yang tengah dilakukan sang lelaki. Apapun jawaban lelaki itu, tentulah itu sebagai pertanda apakah hubungan akan berlanjut atau tidak.

Selanjutnya…..

Perempuan itu masih menunggu

Yogyakarta, 11 September 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: