Tinggalkan komentar

Selamat Ulang Tahun, Bapak

SELAMAT ULANG TAHUN, BAPAK
Odi Shalahuddin

Bersama Bapak dan Ibu saat aku masih kecil

Kepada Bapak yang aku cintai,

Bapak, hari ini, teringat kembali padamu. Ingin menyapa, tapi aku merasa tak bisa. Aku tak bisa hanya sekedar menuliskan kata-kata dalam status di jejaring social, mengirimkan sms, ataupun mencoba menelpon dirimu.

Bapak, ah, sudah lama aku tak mengetuk pintu rumahmu. Kali terakhir, adakah setahun yang lalu? Ya, pada saat aku datang ke kota-mu, sore hari, hujan yang sangat deras, sehingga aku menunda kedatangan. Baru esok pagi, aku bertemu dirimu. Bersimpuh, pada tanah yang masih basah. Mengirimmu doa-doa. Semoga engkau tetap berada dalam lindungan-Nya. Berada dalam cinta-Nya. Mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya.

Bapak, sudah pernah kukisahkan tentangmu kepada para sahabat. Aku ceritakan segenap kenanganku padamu. Kutuntaskan segenap rinduku, pun segala rasa yang tertumpah. Ya, telah aku tuliskan tentang Mengenangmu, Bapak (lihat di SINI).

Tapi surat itu sudah lama sekali. Tertanggal 29 Januari 2010. Hingga pada satu titik tertentu, ketika rindu kembali menggeliat, menggerakkan jemari untuk menyapamu kendati lewat kata-kata, yang aku yakin engkau tahu. Sayang tulisan itu telah kuhapus dari postingan. Semoga berkenan bila kembali kutampilkan:

___

Tiba-tiba saja, di pagi ini aku teringat Bapak. Ah, sudah menjelang pergantian tahun. Di tahun ini. baru sekali aku berziarah ke makamnya, di kawasan Empang, Bogor. Padahal berulang kali aku berada di Jakarta. Tidak lebih dari dua jam sesungguhnya bila memang mau singgah. Tapi mengapa tak kulakukan?

Aku pernah berjanji pada diriku sendiri. Bila ke Jakarta lebih dari satu hari, akan menyempatkan diri mengunjunginya. Tapi janji tinggalah janji, mengapa selalu teringkari. Ah, Odi…Odi…

Bapakku memang telah pergi, meninggalkan kami, pada hari Jum’at tanggal 8 Maret 1996, kalau tidak salah beberapa hari setelah Hari Raya Idul Fitri, pada usia yang ke 53 tahun. 

Tidak banyak kenanganku kepadanya, kecuali pada masa anak-anak. Adanya persoalan di keluarga menyebabkan kami berpisah. Aku berumur 14 tahun ketika pergi meninggalkan dirinya. 

Perjumpaan kembali menjelang aku menikah, pada awal tahun 1994, sekitar bulan Pebruari. Aku datang mengunjunginya bersama calon istriku. Ia sangat terkejut dengan kedatanganku, setelah 10 tahun tidak bertemu. Aku segera memperkenalkan calon istriku yang keharuannya tampaknya melebihi diriku. 

Aku duduk di sebelah kiri Bapak. Ia memandangiku, menepuk-nepuk bahuku, kadang pahaku. “Alhamdullillah… Sehat kan ya, Mas Odi?”, komentar dan pertanyaan pendek yang berulang. Setelah berbincang dengan kekakuan yang akhirnya lama-lama mulai mencair, Aku menyerahkan copy klipping dari cerpen-cerpenku yang dimuat di media masa. ”Lho, kamu juga menulis, Odi?” 

Selanjutnya kami berbicara tentang kesenian. Bapak menceritakan beberapa peristiwa kesenian dan juga berbicara tentang teman-teman seangkatannya. 

Ya, Bapakku memang pernah aktif di kesenian, khususnya teater dan film sejak tahun 60-an. Bersama kawan-kawannya ia pernah mendirikan kelompok teater yang sering manggung di Taman ismail Marzuki. Di Film, ia memulainya dengan menjadi pemain figuran dalam film-nya usmar Ismail ”Domba-domba Revolusi” pada tahun 1966. Di televisi, sekitar 70-an ia terlibat dalam fragmen dan sandiwara televisi. Ia juga aktif menulis puisi dan artikel-artikel kesenian. Ia mulai mengurangi atau bahkan bisa dikatakan berhenti dari dunia kesenian pada awal tahun 80-an.  

Aku tidak menginap, dan berpamitan pulang.  

Pada saat pernikahanku, Bapak tidak datang. Ia hanya menitip salam melalui kakaknya yang menjadi saksi pernikahanku. Ada kesedihan mendalam.  

Sebelum meninggal, sebenarnya aku dan istriku sudah berniat ke Bogor, berlebaran bersama keluarga besar. Tapi tiba-tiba mengurungkan niat, dan berencana akan pergi setelah arus mudik mulai normal. Aku ingin memperkenalkan anakku kepada kakeknya. Demikian pula keinginan terakhir dari Bapakku adalah ingin bertemu dan menggendong anakku. Sayang, permintaan sederhana yang tidak terpenuhi. Aku dan istriku, bila mengingat hal ini, sering menyesali diri menunda kepergian. 

Pagi ini, aku teringat Bapak lagi. Ah, kapan ada kesempatan, aku harus segera mengunjungi. Mengobati rasa rindu, aku membuka blog tentang Bapak, yang sengaja kubuat untuk menghimpun dokumentasi mengenai dirinya. Dokumentasi yang tidak terlalu lengkap yang kuhimpun satu persatu. Aku yakin masih banyak yang tercecer, namun butuh waktu, tenaga dan biaya untuk menghimpunnya. Semoga ada kesempatan untuk itu. Termasuk salah seorang sahabat terdekat Bapak yang tinggal di Bogor, pernah menyatakan memiliki puisi-puisi Bapak yang belum pernah dipublikasikan. Ini-pun belum sempat aku singgahi. 

Ah, Bapak. Hanya doa dari kami. Tenanglah dirimu dalam ”rumah baru”, semoga engkau mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan. Amin…

___

Ya, tulisanku itu tepat setahun lalu, 14 Agustus. Padamu Bapak, kuucapkan ”Selamat Ulang Tahun,” Hanya doa dariku, dari istriku, dan dari cucu-cucumu terkasih.

Oh, ya kukabarkan pula, cucu pertama-mu yang hari ini juga berulang tahun, telah tumbuh dewasa. Ia sudah kelas dua SMA. Ia yang pada masa kecil sering bertanya pada ibunya: “Bapak itu punya Bapak gak sih, BU?” Ah, ingin tertawa mengenangnya.

Yogyakarta, 14 Agustus 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: