6 Komentar

Sebentar Lagi Lebaran

SEBENTAR LAGI LEBARAN
Cerpen:  Odi Shalahuddin

”Ya, gak tahu. Kan sudah aku bilang selama ini aku tidak pernah ber-Tuhan dan tidak pernah berdoa karena memang tidak ada yang mengajariku. Karena itulah aku minta kamu meyakinkan dan mengajariku,”

“Sebentar lagi lebaran,”

“Ya,”

“Kamu kok tidak pulang?”

”Kamu juga,”

Keduanya saling berpandangan, lalu terbahak. Tapi di kepala, pikiran melayang sendiri-sendiri.

Senja yang baru saja menyapa, sudah mulai menggeliat beranjak pergi. Kegelapan malam mulai mengusir mereka. Perlahan warna kemerahan di ufuk barat sirna. Lampu-lampu rumah telah menyala, termasuk lampu di depan rumah yang menyinari jalan dengan ukuran watt yang kecil. Remang-remang jadinya. Aneka lampu yang menghiasi teras yang biasanya berkelap-kelip, diam membisu.

Orang-orang sudah kembali dari Masjid, berjalan melalui jalan kecil yang melintas di depan tempat tinggal kedua perempuan yang sedari tadi duduk di kursi tamu. Tubuh dan mata mereka menghadap ke jalan. Keduanya terdiam. Sepi terasa membayangi rumah ini, termasuk juga rumah-rumah di sekitarnya. Hal yang sama sekali di luar kebiasaan sehari-hari.

Biasanya, selepas Ashar, suara musik dengan beragam genre, walau didominasi lagu-lagu dangdut sudah saling bersahut-sahutan, keluar dari rongga-rongga ruang tamu tiap rumah yang sama sekali tidak diberi peredam suara. Bertemu di luar rumah, saling berjoged, berputar-putar, terus begitu. Janganlah berharap engkau mendapatkan ketenangan apalagi kenikmatan bila engkau tidak berusaha untuk memasuki auronya. Menjelang Adzan Maghrib hingga selepas adzan Isya, seluruh musik harus berhenti. Setelahnya, gebyar musik akan melaju lebih keras lagi menghantam malam yang tak berdinding.

Aroma minuman keras, nyanyian dari beragam suara, baik yang tepat nada, tapi lebih banyak yang bersimpang jalan antara suara dengan musik, tapi tak menjadi masalah, terpenting adalah kesenangan dan kenikmatan yang bisa diraih, dengan para perempuan yang sigap membantu atau mengambil alih nyanyian, dan memprovokasi terus menerus dengan selalu menuangkan minuman ke dalam gelas, sehingga terlihat penuh, namun botol-botol telah kosong dan berganti botol-botol baru. Jangan berpikir untung-rugi dalam dunia semacam ini. Kenikmatan memang mahal harganya. Jangan pula merengut dan berpura-pura menyesal ketika esok terbangun isi dompet telah kosong, sedang beberapa waktu kemudian dirimu hadir kembali mengarungi aroma hingar bingar ini.

Tapi kini, sepi. Benar-benar sepi. Suara tarikan nafas saja terdengar begitu jelas. Di salah satu rumah, diantara ratusan rumah di perkampungan ini, yang biasanya ditempati 20 orang perempuan, tinggal mereka berdua. Sejak puasa menjelang, satu persatu sudah berpamitan pulang. ”Mumpung libur, menikmati puasa dan berlebaran bersama keluarga di kampung,” alasan hampir serupa.

”Jadi, alasanmu tidak pulang?” keduanya hampir bersamaan saling bertanya. Keduanya terbahak.

”Kamu dulu,”

”Kamu dululah,”

Saling pandang, tertawa lagi.

”Kita kok dari tadi tertawa terus. Padahal tidak ada yang patut ditertawakan. Jangan-jangan kita tertawa hanya sebagai pelampiasan rasa sedih,”

”Ya, mungkin ya,”

Keduanya terdiam. Layar televisi di tengah bagian utara, tak berwarna. Hitam, mengambil bayang keduanya dan benda-benda sekelilingnya.

”Saya tidak pernah pulang. Mau pulang kemana? Saya tidak punya kampung halaman,”

”Ah, kamu hanya berpura-pura saja,”

”Benar, aku sendiri tidak tahu dimana dilahirkan. Siapa bapak dan ibuku? Siapa saudara-saudaraku? Entahlah. Orang-orang yang aku kenal, berganti-ganti. Selalu saja kalau ada kesalahan, mereka sebut aku ”anak jadah”. Hidupku ruwet. Lebih ruwet daripada keruwetan cerita-cerita di sinetron itu,”

Kawannya terdiam.

”Nah, sekarang kenapa kamu tidak pulang?”

”Aku… Hm.. bingung juga. Aku cuma tidak ingin pulang,”

”Anakmu? Suamimu? Keluargamu?”

”Itulah. Kalau pulang aku merasa berada di neraka. Pastilah ribut dengan suamiku tiap hari. Aku merasa tidak aman dan ketakutan, termasuk menyimpan uang dan perhiasan. Pastilah lenyap. Kalau ditanya, pastilah tangan dan kakinya bermain di tubuhku. Kalau saja bukan karena anak,”

”Hm,”

”Suamimu? Anakmu?”

”Wah, suamiku banyak, kawin terus, tapi gak pernah punya anak, malah penyakit yang beranak”

”Oh, maaf,”

”Tidak apa-apa.”

Keduanya kembali terdiam. Seseorang melintas, melambai tangan kepada mereka, ”Hei, libur, libur… sepi…”

Mereka menyambut lambaian tangan, ”sepi beneran,”

”Kamu pernah berdoa?”

”Ih, pertanyaan kamu aneh. Ya pastilah. Tiap hari aku berdoa. Meminta yang terbaik buat hidupku, buat keluargaku, utamanya buat anak-anakku,”

”Aku,  tidak pernah berdoa,”

”Ha, kamu bercanda,”

”Sungguh,”

”Lah, seandainya kamu punya masalah berat, atau berada dalam bahaya, masak kamu tidak berdoa?”

”Sungguh. Tidak pernah. Sejak kecil tidak pernah ada yang mengajariku berdoa. Malah yang banyak diajari adalah kata caci-maki,”

”Jadi?”

”Kamu percaya Tuhan?”

”Ya, sejelek-jeleknya aku begini, pastilah percaya pada Tuhan. Kalau tidak percaya, mana mungkin aku berdoa.”

”Tuhan itu seperti apa sih?”

”Wah, pertanyaan kamu mulai aneh-aneh, malah bingung dan takut aku menjawabnya,”

”Tapi kamu percaya dan berdoa?”

“Ya,”

“Kenapa?”

“karena aku percaya,”

”Kenapa bisa percaya?

”Ya, sulit menjelaskannya. Yang penting percaya, yakin, yakin seyakin-yakinnya,”

”Ajarin aku percaya dengan Tuhan dong,”

”Ih, kamu ini, kok,”.

”Sungguh. Kamu kok menganggapku dari tadi bercanda. Aku merasa semakin tua. Tidak memiliki siapa-siapa. Setidaknya aku ingin memiliki Tuhan,”

”Kok dengan aku sih. Ya, dengan ustad atau… Hm… Agamamu apa?”

”Ya, gak tahu. Kan sudah aku bilang selama ini aku tidak pernah ber-Tuhan dan tidak pernah berdoa karena memang tidak ada yang mengajariku. Karena itulah aku minta kamu meyakinkan dan mengajariku,”

”Karena aku Islam, aku sarankan kau belajar dengan ustad atau ulama,”

”Aku mau belajar dengan dirimu,”

”Ya, gak layaklah. Aku ini siapa sih? Ilmu agama sama sekali gak punya, kecuali keyakinan adanya Tuhan tempat bersandar, berdoa, meminta hal baik meminta terhindari dari hal buruk,”

”Ya, buat aku itu cukup. Tapi Tuhan-mu, mau menerima orang semacam diriku?”

”Ya, Tuhan tidak pernah membeda-bedakan manusia. Semua adalah ciptaannya, kembali kepadanya. Tidak pernah menuntut ataupun marah bila yang diciptakan malah balik menghujatnya,”

”Nah, kamu bisa menjelaskan. Jadi aku belajar dengan dirimu saja,”

Diam.

Tercenung.

”Permintaanmu, malah membuat aku sedih. Aku merasa jauh dari Tuhan yang tadi aku katakan. Sudah lama pula aku tidak berdoa. Malah kamu yang mengingatkan. Oh, Tuhan, maafkanlah aku,”

Adzan Isya terdengar.

”Kita ke masjid? Ayo belajar mengenali Tuhan dan berdoa. Shalat tarawih,”

“Tapi,”

“Nah, katanya mau belajar, tidak ada tapi-tapian. Ayo kita mulai. Terima kasih, kamu mengingatkan diriku,”

Seorang bangkit, masuk ke kamarnya, membuka lemari, dan mencari-cari mukenah yang lama sekali tidak pernah tersentuh. Sedang kawannya, menunggu dan berharap cemas. Di kepalanya terbayang wajah Tuhan, yang ia tepiskan lagi. ”Tuhan tentu tidak bisa dibayangkan. Aku akan datang Tuhan, aku akan belajar mengenalimu,”

Suara adzan diiringi langkah orang-orang penduduk perkampungan ini. Perkampungan yang dulu adalah sebuah lokalisasi. Tapi sejak sepuluh tahun sudah secara resmi ditutup oleh pemerintah kota. Namun, kehidupan malam di sini, tetap tak berhenti. ”usaha jasa hiburan,” demikian ijinnya. Walau semua orang tentu tahu, apa yang bergerak di kampung ini.

Semarang, 31 Juli 2011

_____________________

Ilustrasi gambar dari SINI

Iklan

6 comments on “Sebentar Lagi Lebaran

  1. wowww,…………………… kereeeeennn mas Odi Ceritanya… Mastappppppp….. 😀

  2. islamic. saya suka cerpen ini. banyak pengajaran. kamu berminat menjadi penulis jemputan di warna kaseh? memaparkan karya kamu disana.

  3. Waaah ini cerpen keren bang……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: