Tinggalkan komentar

Cerpen: Seorang Tamu, siapa, entah…

SEORANG TAMU, SIAPA, ENTAH…..
Cerpen: Odi Shalahuddin

“Selamat malam,” tiba-tiba saja ia sudah berada di hadapan saya, yang tengah asyik menikmati bulan yang belum sempurna, di teras depan rumah. Rokok di jemari, hampir terlempar, namun cilakanya, malah kena tangan punggung telapak tangan. Segera saja saya meraih dengan tangan yang lain, membenarkan posisinya, kembali ke jemari, sambil meniup dan mengusap bagian yang sempat terkena apinya.

Teras yang sempit, hanya dua kursi terselingi satu meja memanjang, di depan adalah tembok pembatas dengan tinggi tak lebih dari sepinggang orang dewasa. Ia langsung duduk di atas tembok itu, berhadapan dengan saya.

“Malam, Pak,” sapanya lagi.

Sungguh saya tidak mengenal dirinya. Sosoknya-pun baru kulihat. Kurasa juga bukan penduduk kampung ini. Seorang yang bisa dibilang sudah berumur. 50-60 tahunlah. Mengenakan baju putih yang kusam tapi terlihat bersih dan sarung yang membelit bagian bawahnya. Atau, orangtua dari salah seorang penduduk kampung ini? Ah, tidak mungkin. Pastilah saya tahu. Saya lahir di sini. Tidak pernah pergi ke mana-mana. Tidak pernah disibukkan dengan ritual tahunan yang dialami oleh kawan-kawan saya: Mudik.

Atau, mertua dari salah seorang penduduk di sini. Ah, itu barulah mungkin. Bukankah banyak kawan saya yang menikah di perantauan, tanpa kami mengetahui siapa istri dan keluarganya, untuk masa yang bisa melewati hitungan tahun.

“Selamat malam, Pak,” sapanya lagi. Gila, di mana rasa hormat saya. Sedari tadi dia mengucap salam, belum saya balas pula. Dasar! “Bapak penulis?”

“Oh, maaf, Pak, maaf. Selamat malam….” aku terbata-bata, masih belum hilang keterkejutanku. Apakah sedari tadi asyik menikmati langit, terutama bulan, dengan rokok yang terus tergenggam sehingga tidak menyadari kehadiran seseorang. Ah, menikmati atau tengah melamun? Aku tertawa sendiri atas ketidakjujuran diriku.

Penulis? Lho, bagaimana Bapak ini yang hadir tiba-tiba, mengucap salam berulang kali, lantas bertanya apakah saya penulis. Wah….

“Maaf, saya hanya dengar-dengar, katanya Bapak adalah penulis. Benarkah?” kata-kata dengan tekanan tertentu yang membuat aku jadi tambah bingung.

”Benar, Pak?”

”Wah, bagaimana, ya….. Saya bukan penulis, Pak. Saya hanya suka menulis saja,”

”Itu berarti saya tidak salah, bahwa Bapak adalah penulis,”

”Terlalu tinggi julukan itu buat saya, Pak,”

”Sama saja, menulis, apapun, bila sudah disebarkan, ada yang membaca, berarti sudah jadi penulis,”

”Belajar menulis, tepatnya,”

”Belajar, pastilah tidak akan disebarkan. Bila sudah disebarkan, artinya ya, tetap penulis,”

”Maksudnya, Pak?”

”Lha, Bapak kan menulis. Kalau belajar artinya bapak menulis, dibaca sendiri, lalu menulis lagi, membandingkan dengan tulisan lama, menulis lagi, dan begitu terus menerus, itu baru namanya belajar menulis,”

”Tapi, sungguh, saya tidak berani menyatakan diri sebagai penulis,”

”Itu artinya Bapak mengingkari diri sebagai penulis,”

”Artinya?”

”Ya, kalau Bapak menulis, dan menyebarkan tulisan-tulisan Bapak, dan Bapak menganggap bukan penulis, artinya mengingkari. Artinya lagi, Bapak bisa menggunakan sebagai senjata apabila ada yang tidak suka dan mengatakan bahwa tulisan Bapak jelek, dengan tameng ”lagi belajar menulis”. Atau lebih parah lagi bila tidak sepakat dengan pemikiran yang Bapak tulis, Bapak katakan ”lagi belajar menulis”. Apapun yang dipublikasikan tentu akan menimbulkan reaksi. Suka, senang, terinspirasi atau bahkan sampah belaka,”

Wah, kurang ajar benar ini Bapak. Sudah datangnya tiba-tiba, mengejutkan sehingga punggung telapak tangan saya cidera terkena api, bertanya, malah lalu menyindir atau bisa dikatakan memojokkan saya.

”Maaf, Pak. Sebenarnya Bapak siapa?”

”Saya hanya orang biasa yang ingin bercakap dengan penulis,”

”Lantas,”

”Ya, itu tadi, ingin bercakap. Saya kira saya sudah menemukan salah satunya, anda sendiri, Pak. Bapak memang penulis,”

Saya tidak menanggapi tentang julukan yang diberikan, biarlah dia mau katakan apapun.

“Saya ingin bertanya, mengapa Bapak menulis?”

Wah, gila, pertanyaan sederhana, tapi sungguh pusing buat saya menjawabnya. Saya menatap wajahnya, tapi segera menghindar karena ia juga memandang saya dengan tatapan mata yang malah membuat hati saya tergetar.

“Saya tidak tahu, mengapa saya menulis,” saya jawab sekenanya hanya sekedar memberikan jawaban. Kulihat wajahnya berubah. Tampak ada kekecewaan tergambar, berubah lagi menjadi kemarahan.

”Berhentilah berbasa-basi, sungguh saya bertanya?!”

Loh, bertanya, dijawab yang tidak sesuai dengan keinginannya kok malah marah. Aneh benar Bapak ini. Tapi kupikir-pikir, jujur pula saya menjawabnya. Lantaran saya tidak tahu buat apa saya menulis. Menulis, menulis dan terus menulis. Ada kepuasan di dalam hati. Apalagi bila ada yang memberikan komentar terhadap tulisan saya. Itu pula yang pada akhirnya membuat saya semakin semangat untuk terus menulis.

“Jawablah dengan jujur,” katanya penuh tekanan, bahkan terkesan mengintimidasi.

“Saya menulis, ya, menulis saja,”

”Tidak ada kata-kata itu. Ketika engkau menulis, sesungguhnya engkau telah mengerahkan segenap rasa dan indera, dalam imajinasi dan peristiwa, serta menuangkan cara pandangmu terhadap sesuatu. Jadi, buat apa kamu menulis? Bila engkau tidak bisa menjawab, berarti engkau memang tidak pernah jujur terhadap diri sendiri. Tulisanmu bisa jadi adalah kebohongan-kebohongan belaka yang membangkitkan kesadaran semu”

Busyet dah. Padahal aku memang menulis, ya menulis saja. Benar, apa yang ada di rasa, ada di indera, ada di pikiran, ada di imajinasi dan ada di berbagai kemungkinan lain yang memungkinkan membangkitkan gairah untuk menulis dengan jemari yang ringan memainkan tuts-tuts keyboard. Itu tentu kepuasan yang bisa aku nikmati. Sungguh. Tapi Bapak ini? Ah, sudah datang mengacaukan kenikmatan kini malah mengganggu perasaan.

”Saya tidak pernah berbohong, juga pada tulisan-tulisan yang terbuat. Walau memang sering bingung, masuk kategori apa tulisan saya. Kadang saya sekenanya saja, memasukkan dalam rubrik-rubrik yang bisa jadi tidak pas dengan tulisan,”

”Nah, ini saya suka. Ini jujur. Tapi, tentu kau bisa membedakan mana reportase, mana opini, mana fiksi?”

Aku mengangguk.

”Tapi sekarang memang semuanya sudah tidak menjadi jelas. Bagaikan batas tipis antara reportase, opini dan fiksi. Butuh kejujuran dari penulisnya. Tidak bisa ia mengelak ketika ditanya lantaran kealpaan belaka. Sebab masing-masing memiliki konsekuensinya sendiri-sendiri. Bagaimana sebuah opini dan fiksi, bisa dinyatakan sebagai reportase yang kemudian diyakini sebagai kebenaran? Ini tentu berbahaya. Masih lebih indah bila fiksi atau opini dianggap sebagai kebenaran. Kamu sendiri suka menulis yang mana?”

”Eh, saya, saya… bisa yang mana-mana, bisa ketiganya,”

”Baik, tapi tetaplah berhati-hati. Sebab pena-mu, kata-katamu adalah senjata. Bila engkau salah menggunakannya ia bisa melukai sesuatu yang tidak perlu dilukai,”

Saya diam memandangnya. Bibirnya tersungging senyum. Entah mengapa, tiba-tiba mata tertatap menatap sosoknya, tanpa lepas, dan jelas saya ihat, secara perlahan bagian-bagian tubuhnya mulai sirna hingga tak berbekas.

Saya masih menatap ke depan, walau sekarang tak terjumpai sosok siapapun juga. Sampai sang istri mengejutkan diri.

”Oalah, Pak, Pak, berjam-jam di teras, cuma melamun saja.. Tidak punya ide menulis apa? Ya, sudah tidak usah dipaksa. Daripada melamun di sini, dingin, mbok di dalam saja, memeluk yang jelas,”

Yogyakarta, 1 September 2011

____________________________

Komentar-komentar di Kompasiana:

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: