Tinggalkan komentar

Bukan Surat Cinta

BUKAN SURAT CINTA
Odi Shalahuddin

Selalu saja aku gagal untuk membuat surat cinta nan indah kepadamu, istriku. Sungguh, bukan aku tak perduli. Selama perjalanan kita,limabelas tahun lebih terikat dalam perkawinan, dan lima tahun pada masa-masa yang disebut pacaran, belum sekali-pun kulayangkansuratcinta padamu. Jadi, ingin sekali saja aku bisa. Tapi nyatanya belum. 

Malam, ini mengalir beratus surat cinta, membuatku semakin tergugup. Aku ingin menulis surat cinta untuk istriku! Sungguh, ingin. Otak beku, jemari kaku. Dada mendesak, membuat nafas sesak.

Sejak kemarin, kemarinnya lagi, dan kemarinnya lagi, ah, selalu terencana tak pernah bisa terlaksana. Kutahu, dirimu mencoba memakluminya, walau terkadang terucap kata, “sekali saja, katakanlah cinta padaku, Mas,”. Seperti biasa aku hanya tertawa. Membuat wajahmu cemberut. Namun setelahnya tertawa pula. Ah, masih ingatkah tentang puisi yang kupersembahkan padamu, tentang ketidakmampuanku untuk menyenangkan dalam kata-kata:

MAAF

:Bagi istriku

20 tahun jalan bersama
sejak awal pengakuan
menempuh perjalanan
tak tahu kapan dan dimana
berakhir

ikatan terjalin
mencumbui hari-hari
semakin sempurna
telah terlahir
anak-anak kita

Pada titik ini
membuka rekaman
dan kutahu
ku tak pernah merayu
apalagi memujamu

Sungguh
tak berani kukatakan
kau bagaikan bintang
karena kutahu itu tak kan teraih
tak berani kukatakan
kau bagaikan matahari,
karena kutahu
panasnya tak sanggup tertahan
tak berani kukatakan
kau bagaikan bulan
karena kutahu
cahayanya hanya bayang
tak berani kukatakan
kau bunga aku adalah kumbang
karena aku terlalu bodoh
untuk menghayati diri sebagai bunga dan kumbang

Padamu,
kulihat hanya dirimu
bukan membangun bayang
seperti apa dan siapa
untuk itulah aku mencinta

Maafkan aku istriku,
bila aku tak mampu membangun imajinasimu
tentang keindahan cinta
hidup menjadi biasa-biasa saja
dan tak salah bila tumbuh prasangka
memang aku tak pernah sempurna
tapi yakinlah…

Suatu hari kau pernah berkata:
“keyakinan dibangun
dari mata dan rasa
Sesekali berkatalah
biar kutahu…”
pinta sederhana
tak terpenuhi pula

Pada sisi lain
terlalu banyak salah terbaca
dan kau-pun ringan memaafkannya

semakin sempurnalah
ketidaksempurnaanku

Maafkan,
maafkan aku
istriku…

Yogyakarta, 4 Oktober 2009

Sering aku membaca ulang puisi ini. Mencoba membangun keberanian untuk merangkai kata-kata terindah, yang akan kupersempahkan kepadamu. Hingga dirimu merasa melayang. Tapi tetap saja keinginan berakhir dengan kekalahan atas ketidakmampuan.

Ya, sebelum kita terikat dalam ikatan perkawinan, setiap perjumpaan, kita memang selalu berbicara, tapi selalu bukan tentang kita. Kita sering membangun mimpi, tapi bukan mimpi untuk kita. Kita bicara tentang  orang-orang, tentang orang yang tidak kita kenal, tapi kita merasa dekat dan harus membicarakannya. Para petani yang dirampas tanahnya, para buruh yang selalu tak pernah bisa menikmati keuntungan para tuannya, para pedagang kaki-lima yang selalu diburu, uang Negara yang dikorupsi dan hingga kini masih tak selesai, tentang rencana-rencana aksi jalanan,  ya, kita selalu bicara, bicara apa saja, tapi jarang berbicara tentang kita.

Lagu-lagu yang kita nyanyikan, bukan pula tentang lagu cinta. Kita nyanyikan lagu anak-anak merdeka, yang juga kita ajarkan kepada anak-anak kita: Belajar bersama, Roti Matahari, Di bawah Topi Jerami. Ya, lagu-lagu Bung Yayak yang bisa membangun semangat kemerdekaan. Kita juga nyanyikan lagu “Darah Juang” Bung Jhonsoni Tobing, seorang sahabat yang bisa tidak peduli dengan siapapun ketika di tangannya telah terpegang gitar. Kita nyanyikan lagu-lagu jalanan. Kita bernyanyi riang, walau suara kita sumbang. Tapi kita tetap semangat menyanyikannya.

“Kita menikah, mau,” ya, itu terucap, lalu menikahlah kita. Ikrar janji suci. Tapi selama perjalanan itu pula, kata cinta selalu tidak pernah bisa terucapkan. ”Cinta tak perlu dikatakan bukan?” begitu alasanku kepadamu. Selalu, selalu begitu, pun hingga kini.

Bukan aku malu, bukan pula tak mau, sungguh, aku selalu menanamkan pada diriku untuk bisa membuat surat cinta padamu, istriku. Sungguh. Tapi seperti biasa, aku terbenam kembali dalam angan yang tak mampu menggerakkan jemari. Hingga kembali terulang, seperti biasanya, sapa dan pekabaran yang sampai padamu, bukan lagi surat cinta. Ah, kuharap kau seperti biasa, tetap maklum adanya.

Yogyakarta, 13 Agustus 2011, pukul 21.32

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: