Tinggalkan komentar

Ajarilah Aku Menulis Surat Cinta

AJARILAH AKU MENULIS SURAT CINTA
Odi Shalahuddin

Wahai, siapapun engkau, ajarilah aku menulis surat cinta. Sungguh, aku ingin berpartisipasi dalam event Fiksi Surat Cinta, namun hingga kini tidak terbayang apa yang hendak kutulis. Padahal waktu terus saja berjalan, dan esok akan segera menjelang. Maka FSC itupun akan datang. Semakin terasa gemetar hati ini. Mengingat aku telah mendaftarkan diri. Mendapat nomor 69 (ah, tentang nomor ini, janganlah kau kaitkan sebagai angka keberuntungan mengingatkan dirimu pada gaya bercinta).

Menulis surat cinta bebas ditujukan kepada siapapun. Demikian admin penyelenggara menyatakan. Ini makin membuat batasan menjadi luas, semakin membingungkan-ku lantaran menjadi menerka, kepada siapa bila kelak tergerak untuk menuliskannya.

Surat cinta kepada istriku? Ah, selama ini tiada pernah kutulis surat cinta kepadanya. Pada masa pacaran dulu, surat hanyalah surat biasa. Lebih banyak berisi tentang cita-cita perubahan bangsa dan negara ini. Sehingga tak mengherankan isinya lebih banyak diskusi dan saling menyemangati, diselipi kata-kata provokasi.

Selain kepada mantan pacar yang kini menjadi istriku, surat-surat yang pernah kubuat adalah ketika masa-masa SD. Kegemaranku untuk menjalin perkawanan melalui majalah anak-anak, bersama penggemar sahabat pena. Ah, pastilah surat itu saling menyapa dan bertanya seputar masa anak-anak pula. (Walau kutemukan pula sahabat pena dan sahabatnya masa SD di jejaring sosial, menjadi kawan namun jarang bersapa lagi, ah.). Lainnya adalah surat-surat resmi berupa undangan-undangan, surat permohonan dan surat rekomendasi. Ya, sama sekali jarang tersentuh membuat surat cinta.

Tapi sebentar, apakah yang dinamakan cinta? Ah, ini sendiri sukar kujawab. Katakanlah wahai kawan, apakah cinta itu? Bagaimana bisa kita mencipta tanpa tahu maknanya? Ah, kawan, janganlah tertawa, sungguhlah aku bertanya padamu, bukan basa-basi atau sekedar mencari sensasi. Sungguh, aku tak tahu tentang cinta. Bertanya pada Mbah google, terlalu banyak pengertian tentang cinta. Cinta buta, cinta kasih, cinta monyet, ah bukan itu. Cinta sejati? Ah, macam apa pula itu?

Ya, ya, ya, bila kau katakan bila kita terjaring oleh cinta, maka hidup kita akan dibayang-bayangi sosoknya sepanjang helaan nafas. Begitu melayang terbang ketika bisa melihat, atau bersapa, atau berjalan berdua. Begitu sangat gelisah, bagai pesakitan bila tiada kabar berita? Itukah yang dinamakan cinta? Jadi, cinta itu melayang dan membayang? Ah, masih tak kumengerti pula.

Tolonglah kawan, katakan padaku tentang cinta, sehingga aku akan belajar memainkan kata untuk mencipta, surat cinta, sehingga bisa berkarya bersama para kawan semua di kompasiana dalam Fiksi Surat Cinta (FSC), esok, 13-14 Agustus 2011, di sini. Kutunggu pertolonganmu.

Yogya, 12 Agustus 2011

Catatan: Tulisan persiapan untuk mengikuti perhelatan Fiksi Surat Cinta (FSC) yang diselenggarakan oleh Fiksiana Community

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: